Tautan-tautan Akses

Kursus bahasa Ibrani bagi masyarakat umum dibuka di Jakarta. Salah satu pendiri dan sekaligus pengajar bahasa Ibranim Sapri Sale mengakui bahwa bahasa Ibrani masih tabu untuk masyarakat Indonesia.

Setengah jam sebelum pelajaran dimulai, Sapri Sale sudah tiba di lokasi kursus di kantor Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) di kawasan Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Ia adalah pengajar sekaligus orang Indonesia pertama yang membuka kursus bahasa Ibrani, terbuka buat masyarakat umum.

Tentu saja Sapri, sarjana bahasa Arab lulusan dari Universitas Al-Azhar di Kairo, Mesir, ini sadar betul dengan sensitifitas dari kegiatan barunya itu. Maklum saja, bagi sebagian kalangan muslim di Indonesia, semua hal yang beraroma Yahudi dibenci dan dimusuhi. Ibrani merupakan bahasa bangsa Yahudi.

Sambil mengisap rokoknya dalam-dalam, Sapri pada Rabu (7/3) menjelaskan kepada VOA mengenai alasannya membuka kursus bahasa Ibrani bagi orang Indonesia. Menurutnya meskipun sebagian besar warga Indonesia meniai bahasa ibrani sebagai hal yang tabu, tapi bahasa ini sama pentingnya dengan bahasa-bahasa lain.

Meski sadar akan risikonya, lelaki asal Sulawesi Selatan ini menegaskan dirinya tidak pernah takut mendapat ancaman atau intimidasi. Yang perlu dilakukan untuk menghilangkan kesalahpahaman tersebut, lanjutnya hanya menjelaskan bahwa bahasa Ibrani dan negara Israel adalah dua hal yang berbeda.

Sapri Sale, pendiri dan pengajar kurus bahasa Ibrani sedang menjelaskann kepada muridnya. (Foto: VOA/Fathiyah)
Sapri Sale, pendiri dan pengajar kurus bahasa Ibrani sedang menjelaskann kepada muridnya. (Foto: VOA/Fathiyah)

Menurut Sapri, dirinya mengajar sekaligus menyebarluaskan bahasa Ibrani untuk mempelajari budaya orang Israel, sama halnya dengan mempelajari budaya negara-negara Arab.

Sapri memiliki dua mimpi soal bahasa Ibrani di Indonesia yang dinilainya sebagai sebuah revolusi.

"Terutama revolusi bagi kaum Kristiani di Indonesia, bagaimana mereka dapat membaca kitab suci mereka dalam bahasa aslinya. Selama ini haknya para intelektual yang terdidik di perguruan-perguruan tinggi Kristen. Bagaimana bahasa (Ibrani) juga harus keluar dari ruang itu, sehingga menjadi hak publik," paparnya.

Mimpi keduanya tambah Sapri adalah menjadikan masyarakat Indonesia mampu berbahasa Ibrani sehingga bisa menggali informasi mengenai Israel dengan membaca langsung media dan buku-buku terbitan negara itu.

Sapri berterima kasih kepada ICRP karena telah menyediakan tempat bagi dirinya untuk membuka kursus bahasa Ibrani yang dimulai sejak 5 Maret lalu.

Sapri membuka dua kelas dengan jumlah peserta tiap kelas maksimal sepuluh orang. Biaya kursus tiap peserta sebesar Rp 600 ribu. Waktu kursus dua kali sepekan setiap Senin dan Rabu. Terdiri dari dua kelas: pukul 16.00-17.30 dan 19.00-20.30.

Belajar Bahasa Ibrani di Jakarta
mohon tunggu

No media source currently available

0:00 0:04:43 0:00

Sapri menargetkan dalam delapan kali pertemuan, peserta kursus sudah bisa membaca Ibrani.

Sore itu, mestinya ada lima peserta kursus Ibrani yang hadir, namun satu orang berhalangan. Proses belajar mengajar berlangsung serius tapi santai. Meski demikian, para peserta kursus antusias menyimak penjelasan Sapri yang mengajar dengan gaya komunikatif.

Salah satu peserta adalah Ales Wowor, dosen jurusan ilmu komputer di sebuah Universitas Kristen di Jawa Tengah. Dia datang terlambat karena baru datang dari Salatiga dan selesai kursus dia buru-buru mengejar pesawat untuk pulang ke Salatiga.

Ales mengaku tertarik belajar Ibrani karena ingin melanjutkan studi ke Israel.

"Saya riset di ilmu komputer dan kriptografi, bagaimana seni untuk menyembunyikan pesan. Nah, bahasa Ibrani salah satu bahasa yang punya teknik kriptografinya paling klasik. Karena saya (mempelajari) kriptografi, jadi saya sangat tertarik dengan bahasa Ibrani," ujar Ales.

Ales optimistis bisa membaca Ibrani setelah menyelesaikan kursus tahap dasar dalam waktu deapan minggu.

Peserta kursus Ibrani lainnya, seorang seniman perempuan minta ditulis namanya Opin, menjelaskan dirinya sangat tertarik mempelajari Ibrani karena langka untuk mendapat kesempatan buat mempelajari Ibrani. Dia yakin bisa membaca Ibrani karena Sapri Sale adalah pengajar yang baik.

"Saya merasa Pak Sale itu sangat komunikatif dan betul-betul sabar. Saya punya kesempatan untuk bertanya juga. Jadi saya pikir tidak ada halangan dari pihak pengajar," kata Opin.

Sapri Sale juga merupakan penulis kamus Ibrani-Indonesia pertama. Kamusnya baru diluncurkan di Jakarta pada bulan lalu. [fw/em]

Opini Anda

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG