Tautan-tautan Akses

Baskara T. Wardaya: AS Berperan dalam Perjuangan Indonesia Merebut Kemerdekaan dari Belanda


Baskara T. Wardaya, S.J., Ph.D., saat menjadi salah satu pembicara di Hudson Institute, Washington D.C.,9 Juli 2019. (Foto: videograb/Hudson Institute)

Baskara T. Wardaya, S.J., Ph.D.(1), sejarawan dan dosen Program Pasca Sarjana, Universitas Sanata Dharma di Yogyakarta, berada di Washington, D.C., sebagai narasumber seminar dalam rangka memperingati 70 tahun hubungan diplomatik Amerika Serikat-Indonesia. Reporter VOA, Leonard Triyono menemuinya di sela-sela kesibukan Romo Baskara di ibukota Amerika. Berikut petikannya.

VOA: Terima kasih Romo Baskara bersedia meluangkan waktu untuk berbincang-bincang dengan VOA walaupun jadwal Romo tentunya padat. Pertama, kunjungan di Washington, D.C. kali ini dalam rangka apa? Acara apa yang dihadiri? Siapa yang mengundang?

Baskara T. Wardaya (BW): Saya ke sini atas undangan dari The Hudson Institute dan US-Indonesian Society (USINDO) bersama Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI). Saya bersama teman saya Profesor Robert McMahon, sejarawan dan guru besar sejarah dari California, diminta untuk menjadi dua orang narasumber terkait dengan peringatan 70 tahun hubungan resmi antara Amerika Serikat dengan Indonesia, yang tentu saja dimulai pada tahun 1949, yaitu setelah selesainya Konferensi Meja Bundar di Hen Haag, Belanda. Dalam rangka itu kami berdua diminta untuk memberikan catatan, dan sebagainya dari segi sejarah.

Siapa saja yang hadir dan seberapa besar keterlibatan KBRI dalam acara ini?

Kedutaan Besar RI dalam hal ini yang kita hormati, Yang Mulia Duta Besar Mahendra Siregar sangat terlibat. Beliau memberikan kata sambutan, dan selain itu beliau juga memberikan tanggapan pada sesi kedua (atas presentasi kami).

Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat, Mahendra Siregar, saat memberikan sambutan pada acara diskusi di Hudson Institute, Washington, D.C., 9 Juli 2019. (Foto: videograb/Hudson Institute)
Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat, Mahendra Siregar, saat memberikan sambutan pada acara diskusi di Hudson Institute, Washington, D.C., 9 Juli 2019. (Foto: videograb/Hudson Institute)

Tentang siapa yang hadir, dari segi penanggap ada banyak sekali, setidaknya ada mantan duta besar Amerika untuk Indonesia, selain itu juga ada dua staf Gedung Putih, dan seorang Asisten Menteri Luar Negeri untuk Asia Pasifik. Lalu, dari audiens, kebanyakan orang Amerika, termasuk sejumlah wartawan, dan para mantan diplomat, anggota dari Secret Service (Dinas Rahasia), dan intelektual, tetapi saya perhatikan sebagian besar adalah para praktisi politik luar negeri Amerika, khususnya mereka yang berminat dengan Indonesia.

Maaf, kenapa Romo yang diundang menjadi pemrasaran dalam seminar ini, peringatan 70 tahun hubungan diplomatik Amerika-Indonesia?

Betul, Pak Tri, Saya juga heran kenapa saya dan kenapa hanya saya dari Indonesia yang diundang, padahal sebenarnya saya tidak kenal satupun dengan mereka. (Mungkin) mereka mencari informasi tentang saya dari orang, dari Internet, dan sebagainya, sehingga akhirnya saya diundang sebagai orang yang dianggap sebagai orang yang bidangnya sejarah, khususnya sejarah Indonesia pasca 45, dan secara khusus lagi (mungkin) karena penelitian saya itu tentang hubungan Indonesia dengan Amerika Serikat.

Saya diundang dalam kapasitas sebagai sejarawan, khususnya yang berkiprah atau yang mempelajari secara khusus hubungan Indonesia-Amerika selama Perang Dingin.

Baskara T. Wardaya: AS Berperan dalam Perjuangan Indonesia Merebut Kemerdekaan dari Belanda
mohon tunggu

No media source currently available

0:00 0:13:00 0:00

Sebenarnya peran Amerika ini sampai di mana, baik dalam tataran pemerintah maupun tataran penduduk biasa dalam perjuangan Indonesia merebut kemerdekaan?

Begini, Pak Tri. Pertanyaan ini sangat menarik tetapi jawabnya tidak mudah karena ini sangat kompleks dan panjang ceritanya, tetapi kalau mau disingkatkan, bisa dikatakan bahwa Amerika itu memainkan peran yang cukup besar, kalau bukan sangat besar, dalam proses perjuangan kemerdekaan Indonesia, terutama untuk mencapai pengakuan internasional pada tahun 1949 itu.

Bentuk peran itu seperti apa misalnya?

Bentuknya macam-macam. Yang pertama, sebenarnya waktu Indonesia merdeka tahun 1945, Misalnya, yang pertama, sebenarnya waktu Indonesia merdeka tahun 1945, kan presiden Amerika ketika itu, (Franklin Delano) Roosevelt. Nah, selama Perang Pasifik masih berlangsung, sudah diketahuilah bahwa Jerman akan kalah, Jepang akan dihabisi, dan sebagainya, Presiden Roosevelt itu menjanjikan kepada Ratu Wilhelmina dalam sebuah surat kira-kira bunyainya begini: “Jangan khawatir, nanti setelah perang dunia ini selesai, Hindia Belanda akan kami kembalikan kepada kamu.”

Baskara T. Wardaya, Ph.D. (Foto: VOA/Leonard Triyono)
Baskara T. Wardaya, Ph.D. (Foto: VOA/Leonard Triyono)

Mengapa? Karena presidennya namanya Roosevelt. Itu kalau dalam bahasa Inggris Rose Field. Jadi, itu nama Belanda. Roosevelt itu keturunan Belanda sehingga dia punya ikatan tertentu dengan Ratu Wilhelmina. Dia sempat menjanjikan bahwa setelah Perang Dunia II, setelah Jerman dan Jepang dikalahkan, Indonesia akan dikembalikan ke Belanda.

Tetapi, Roosevelt lalu ingat, kan ada "Atlantic Charter" yang dia sendiri juga ikut, di mana negara-negara yang dulu dijajah harus bisa menentukan nasib sendiri. Akhirnya dia berubah pikiran dan ketika bertemu dengan Ratu Wilhelmina dia mengatakan “oh yang dulu itu tidak jadi. Nanti, Indonesia, negara bekas jajahan Belanda itu harus merdeka.”

Pada bulan April (1945) ketika beliau meninggal, lalu (Harry S.) Truman menjadi presiden yang menggantikan dia, (Amerika) tentu saja pro-Indonesia, meneruskan pendahulunya. Tetapi, Belanda selalu memperingatkan Truman agar tidak pro-Indonesia karena para pemimpin Indonesia dituduh “kiri” semua. Mereka dituduh komunis. Jadi, Soekarno dan kawan-kawan, Sjahrir, dan sebagainya itu oleh Belanda dituduh “kiri” dan Truman diperingatkan agar tidak membela mereka.

Ketika itu kan ada containment policy, anti-komunis, anti-Soviet., tetapi kemudian terjadi peristiwa Madiun 1948. Katanya itu pemberontakan komunis, tetapi, Soekarno dan kawan-kawan memadamkan pemberontakan itu. Di situ Truman bingung (dan bertanya-tanya) “kalau Soekarno dan kawan-kawan itu komunis, mengapa mereka memadamkan pemberontakan komunis?.” Setelah diselidiki, akhirnya diketahui bahwa Belanda berusaha menipu Amerika. Maka, sejak itu, Amerika mulai pro kepada Indonesia, dan ingat, ini berat sekali bagi Amerika mengingat, pertama, ada Marshall Plan, dan salah satu negara penerima European Recovery Program(2) itu adalah Belanda, dan kedua, yang juga penting, karena Belanda adalah anggota NATO.

Jadi, Amerika ingin membantu Belanda, tapi karena peristiwa Madiun dan juga karena diplomasi kita yang sangat bagus, maka akhirnya Amerika mulai mendukung Indonesia. Juga, perlu diingat ada komisi tiga negara. Amerika 'kan ikut dalam komisi itu. Ketika pembicaraan antara Indonesia dengan Belanda mengalami deadlock (kemacetan), Amerika kemudian menawarkan pembicaraan dilangsungkan di tempat yang netral, yakni di kapal Amerika yang namanya USS Renville.

Salah satu materi yang dipresentasikan oleh Baskara T. Wardaya, S.J., Ph.D dalam acara diskusii di Hudson Institute, Washington, D.C., 9 Juli 2019. (Foto: videograb/Hudson Institute)
Salah satu materi yang dipresentasikan oleh Baskara T. Wardaya, S.J., Ph.D dalam acara diskusii di Hudson Institute, Washington, D.C., 9 Juli 2019. (Foto: videograb/Hudson Institute)

Saya juga menemukan dokumen berupa telegram tahun 1948 yang dikirimkan oleh George Marshall, menteri luar negeri Amerika dan pencetus Marshall Plan, kepada duta besar Amerika di Den Haag yang mengatakan bahwa Amerika mendengar Belanda merencanakan serangan militer ke Indonesia (yang dimaksud adalah Agresi Kedua) dan Amerika menyatakan menentang rencana itu.

Setelah Indonesia merdeka, apa peran Amerika dalam memantapkan Indonesia sebagai negara? Apa sumbangan Amerika dalam upaya membangun, membesarkan, dan memajukan Indonesia?

Tentu pertanyaan ini tidak bisa dijawab dengan singkat karena itu perjuangan yang panjang, tetapi yang jelas seperti kita semua tahu bahwa dalam Konferensi Meja Bundar di Den Haag tahun 1949 itu kan Amerika ikut. Amerika menekan Belanda supaya segera mengakui kemerdekaan Indonesia.

Amerika juga berperan dalam penghapusan utang Indonesia yang sebenarnya adalah utang yang juga dipakai oleh Belanda untuk memerangi Indonesia. Jadi, sejak bayi Republik Amerika sudah turut membantu, dan itu sebenarnya berlanjut sampai soal Irian Barat yang kemudian menjadi bagian Indonesia berkat mediasi dari pemerintahan John F. Kennedy. Belanda itu meninggalkan Irian Barat sebenarnya karena ditekan oleh Kennedy. Yang jelas, Kennedy itu berperan.

Nah, yang mungkin jarang kita lihat itu, katakanlah dalam tanda kutip Kennedy itu baik, tapi juga menurut saya karena kehebatan para diplomat kita. Para diplomat Indonesia, seperti Soebandrio, ketika itu luar biasa, Sjahrir yang bicara di PBB, dan tentu saja Bung Karno. Dia ahli, tidak hanya memimpin rakyat, tetapi juga dalam berdiplomasi. Jadi, bantuan pemerintahan Kennedy memang banyak membantu, tetapi bantuan itu juga datang karena tekanan diplomasi maupun militer dalam rangka perebutan Irian Barat itu.

Jadi, peran Amerika boleh dikatakan cukup besar dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia dan sesudahnya. Menurut Romo mengapa demikian, dan pelajaran apa saja yang bisa kita petik dari hubungan Amerika-Indonesia sejak masa perjuangan Indonesia mencapai kemerdekaan itu, serta apa yang sebaiknya dipertahankan sekarang?

Kita juga harus melihat dalam tanda kutip obyektif, ya!. Amerika baik sama kita bukan karena hatinya baik atau apa, karena ini kan bukan hubungan interpersonal. Ini 'kan masalah negara. Pasti mereka ada kepentingan, tidak boleh tidak itu. Nah, kepentingan itu antara lain adalah konteks Perang Dingin karena daripada diambil oleh musuhnya, yaitu Soviet, ya kita bantu lah Indonesia. Itu satu. Yang kedua, terkait dengan apa yang terjadi pada tahun 1965, Amerika juga saya kira punya peran penting di situ, demikian pula Inggris dan Australia.

Baskara T. Wardaya, S.J., Ph.D. (duduk, nomor tiga dari kiri), di antara para panelis dalam acara diskusi di Hudson Institute, Washington, D.C., July 9, 2019. (Photo: videograb / Hudson Institute)
Baskara T. Wardaya, S.J., Ph.D. (duduk, nomor tiga dari kiri), di antara para panelis dalam acara diskusi di Hudson Institute, Washington, D.C., July 9, 2019. (Photo: videograb / Hudson Institute)

Di situ kan Amerika jelas sangat anti-Soekarno, anti-PKI, dan sebagainya, dan ketika kejadian pada tahun 1965 itu berlangsung, Amerika juga tidak mencegah, tidak mengritik, tidak mengecam dan sebagainya. Itu yang membuat apa yang terjadi pada waktu itu menjadi mungkin. Itu yang perlu kita lihat juga ketika kita berbicara tentang hubungan Indonesia-Amerika.

Namun, di luar itu semua, kalau saya boleh usul, ya sekarang Indonesia dan Amerika tetap berelasi, tetapi sebagai pihak yang equal, pihak yang sejajar, bukan yang satu mendikte yang lain, atau yang satu menghamba kepada yang lain. Tidak. Harus sejajar. Apalagi mengingat bahwa Indonesia sekarang sudah berbeda dari yang dulu. Indonesia sekarang sudah menjadi anggota dari G-20 misalnya, dan yang kedua juga fakta bahwa Indonesia merupakan negara terbesar di Asia Tenggara, lautnya paling luas, penduduknya paling banyak, sumber daya alamnya paling tinggi dan sebagainya.

Lalu, yang ketiga, kalau memang Amerika sekarang agak sedikit atau banyak was-was dengan dinamika the big guy, namanya People’s Republic of China (RRC), kalau Amerika mencari partner, siapa di Asia Tenggara, siapa yang punya akses kedua-duanya, Samudera Hindia dan Samudera Pasifik? Jawabnya ya Indonesia. Strategis itu, dan China itu tidak bisa ke Samudera Pasifik maupun ke Samudera Hindia kalau tidak lewat Indonesia.

Jadi, posisi Indonesia sangat strategis, sehingga bargaining position kita sebagai negara Indonesia juga sangat tinggi. Oleh karena itu hubungannya sekarang harus equal. Itu satu, dan yang kedua jangan hanya mengandalkan hubungan pemerintah atau bisnis, tetapi juga people to people (hubungan orang ke orang). Jadi, hubungannya harus equal, komprehensif dan melibatkan people to people. [lt/ab]

(1) Baskara T. Wardaya, S.J., Ph.D., sejarawan dan dosen Program Pasca Sarjana, Universitas Sanata Dharma di Yogyakarta. Baskara telah menulis banyak artikel dan buku tentang sejarah Indonesia pasca-kolonial, terutama terkait hubungan Amerika Serikat dan Indonesia pada era Perang Dingin, terutama selama periode 1953-1963. Baskara meraih gelar Ph.D. dari Universitas Marquette, lembaga tinggi Jesuit di Milwaukee, Wisconsin.
(2) European Recovery Program atau yang dikenal sebagai Marshall Plan adalah prakarsa yang digagas oleh Menteri Luar Negeri Amerika ketika itu, George C. Marshall, untuk memberikan bantuan dana sebesar $12 miliar untuk membangun kembali ekonomi Eropa Barat setelah berantakan pasca berakhirnya Perang Dunia II.

Recommended

XS
SM
MD
LG