Tautan-tautan Akses

Bantu Pemulihan Ekonomi, KIARA Bagikan 650 Perahu pada Nelayan Terdampak Tsunami Palu


Suasana aktifitas nelayan di pantai Talise, dengan latar Teluk Palu. Ketiadaan dermaga membuat nelayan memanfaatkan pantai yang direklamasi untuk menaruh perahu mereka, Sabtu, 19 Desember 2020. (Foto: VOA/Yoanes Litha)

Sejak akhir 2018, organisasi Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA) telah menyalurkan bantuan ratusan perahu bercadik bagi nelayan terdampak bencana alam gempa bumi dan tsunami di Sulawesi Tengah.

Bantuan itu memungkinkan ratusan keluarga nelayan di Teluk Palu dan Donggala kembali bekerja setelah banyak perahu yang rusak dalam peristiwa tsunami 28 September 2018 silam.

Nibras Fadhlillah, Deputi Monitoring dan Evaluasi Pembelajaran KIARA mengatakan sejak akhir 2018 sebanyak 650 perahu bercadik dan 500 mesin telah didistribusikan secara bertahap pada keluarga nelayan yang terdampak tsunami di Kelurahan Lere, Talise, Mamboro dan Pantoloan serta desa Tompe di Kabupaten Donggala. Perahu bercadik ini dilengkapi pengatur keseimbangan di kiri kanan perahu yang terbuat dari bambu atau kayu ringan, agar tidak mudah terbalik.

Program itu melibatkan dukungan dari Badan Pembangunan Perancis (AFD) dan Organisasi Kemanusian Katolik Perancis (CCFD).

“Kita melihat kemudian bagaimana kita melakukan pemberdayaan pemulihan ekonomi terhadap kawan-kawan masyarakat pesisir yang ada di Teluk Palu dan Donggala” ujar Nibras di Palu, (19/12).

Ibu Mardia Djaelangkara, warga Talise, memperlihatkan ikan katombo yang dibeli dari nelayan untuk dijual kembali menggunakan platform media sosial. Sabtu, 19 Desember 2020. (Foto: VOA/Yoanes Litha)
Ibu Mardia Djaelangkara, warga Talise, memperlihatkan ikan katombo yang dibeli dari nelayan untuk dijual kembali menggunakan platform media sosial. Sabtu, 19 Desember 2020. (Foto: VOA/Yoanes Litha)

Untuk menumbuhkan rasa memiliki di kalangan para nelayan, perahu yang dibuat dan didatangkan dari Majene dan Mamuju, Sulawesi Barat itu masih dalam bentuk yang belum diwarnai. Nelayan dapat memberikan warna sesuai keinginan mereka serta dapat mengganti penyeimbang atau cadik yang terbuat dari bambu dengan bahan lainnya.

“Jadi kita memberikan perahu dasar base-nya dan kita memberikan bahan dasar, sayap ya sebutannya dari bambu sebenarnya nah nanti kawan-kawan nelayan ini yang akan mengecatnya atau memodifikasinya sesuai dengan apa yang mereka inginkan” jelas Nibras.

Menurutnya bantuan perahu itu secara perlahan mulai memulihkan kondisi ekonomi nelayan dalam setahun terakhir. Kini rata-rata nelayan bisa mendapatkan penghasilan sekitar 200 hingga 700 ribu rupiah.

Bantu Pemulihan Ekonomi, KIARA Bagikan 650 Perahu pada Nelayan Terdampak Tsunami Palu
mohon tunggu

No media source currently available

0:00 0:03:00 0:00

KIARA juga turut memberikan pelatihan pembuatan abon ikan dan berbagai olahan makanan ikan lainnya, serta edukasi mitigasi bencana kepada para nelayan dan warga yang tinggal di pesisir teluk Palu dan Donggala, dan kegiatan penanaman mangrove di sejumlah lokasi.

Membantu Perekonomian Nelayan

Mansur (40) salah seorang nelayan di Talise, Kota Palu mengatakan bantuan dalam bentuk perahu itu membuatnya dirinya bisa kembali melaut untuk menangkap ikan di Teluk Palu, sehingga bisa memperoleh pendapatan untuk membiayai hidup keluarganya yang hingga kini masih tinggal di hunian sementara (Huntara).

“Alhamdulillah, sekarang itu nelayan-nelayan sudah mulai turun kalau dulu kan hancur semua perahu-perahu mereka, untung ada bantuan dari KIARA juga ini membantu nelayan-nelayan,” kata Mansur saat ditemui di antara kesibukannya usai kembali dari melaut pada Sabtu pagi (19/12) di pantai Talise.

Diakuinya tanpa bantuan itu, sulit baginya untuk bisa memiliki perahu seusai bencana alam yang juga membuatnya kehilangan tempat tinggal. Rata-rata biaya pembuatan perahu bercadik penangkap ikan senilai Rp. 7,5 juta, belum termasuk mesin tempel sekitar Rp 2,5 juta rupiah.

Mansur menangkap jenis ikan katombo dan ikan batu dengan cara memancing dari atas perahu mulai dari pukul 21 malam hingga subuh dini hari. Hasil tangkapan ikan kemudian dijual kepada warga dan pedagang pengecer yang telah menunggu di pantai. Rata-rata Mansur bisa mendapatkan 150 ribu hingga 200 ribu rupiah.

Mansur (40), saat sedang mendorong perahunya usai melaut di teluk Palu, Sulawesi Tengah. Sabtu, pagi, 19 Desember 2020. (Foto: VOA/Yoanes Litha)
Mansur (40), saat sedang mendorong perahunya usai melaut di teluk Palu, Sulawesi Tengah. Sabtu, pagi, 19 Desember 2020. (Foto: VOA/Yoanes Litha)

Arham (52), Ketua Kerukunan Nelayan Talise mengatakan masih dibutuhkan kepedulian berbagai pihak untuk membantu keluarga nelayan yang sampai saat belum memiliki perahu menggantikan perahu sebelumnya yang hilang atau rusak oleh terjangan tsunami dua tahun silam.

“Iya, masih ada, di nelayan saya saja itu Pak itu kalau tidak salah masih ada 34 nelayan-nelayan yang sampai saat ini belum memiliki perahu. Insyaallah kedepan ini ada orang yang berbaik hati, terutama pihak-pihak yang punya program untuk membantu nelayan Talise itu harapannya kami,” harap Arham.

Menurut Arham, para nelayan di Teluk Palu, saat ini terkendala dengan belum tersedianya dermaga untuk memindahkan hasil tangkapan ikan ke darat, termasuk untuk menambatkan perahu. Pembangunan tanggul laut sepanjang 7,2 kilometer untuk menahan abrasi dan gelombang laut pasca tsunami Palu, juga mengurangi pantai yang dapat digunakan nelayan untuk menaruh perahu yang aman dari ombak seusai melaut. [yl/em]

Recommended

XS
SM
MD
LG