Tautan-tautan Akses

Bambu, Material Alternatif Pembangunan Huntara Penyintas Bencana Sulteng


Bangunan Hunian Sementara (Huntara) yang terbuat dari material bambu di Kelurahan Poboya, kecamatan Mantikulore, Kota Palu, Sulawesi Tengah, 3 Agustus 2019. (Foto: VOA/Yoanes Litha)

KUN Humanity Sistem+ menginisiasi penyediaan hunian sementara bagi penyintas bencana di Sigi dan Palu, Sulawesi Tengah dengan memanfaatkan bahan bambu dan bahan alami lainnya. Bambu, selain lebih mudah didapat di sekitar lokasi, juga lebih ramah lingkungan dan memberdayakan ekonomi perajin bambu.

Memasuki bulan ke-11 pasca bencana alam di kota Palu, Sigi dan Donggala, Sulawesi Tengah, berbagai organisasi non pemerintah masih berupaya menyiapkan hunian sementara bagi penduduk di daerah itu yang sampai kini masih tinggal di tenda-tenda darurat.

Hunian sementara atau Huntara dibangun dengan menggunakan material buatan pabrik seperti rangka baja ringan dan kalsiboard, namun ada juga yang menggunakan material bambu dan bahan alami lainnya yang berada di sekitar lokasi.

Prasetia Kristian Lumbantoruan dari KUN Humanity Sistem+ kepada VOA mengatakan pihaknya bersama Alumni Brawijaya Golf Club dari Malang Jawa Timur dan Internasional Medical Corps sepanjang tahun ini sudah menyelesaikan pengerjaan 64 unit hunian sementara terbuat dari bambu di kota Palu dan Kabupaten Sigi. Selain tidak merusak hutan, bambu dipercaya lebih ramah lingkungan karena kemampuannya untuk pulih dalam 3 tahun.

Prasetia menjelaskan, tanaman bambu yang tumbuh subur dan tersebar di berbagai daerah di Indonesia termasuk di Sulawesi Tengah dapat menjadi material penting untuk menjawab kebutuhan proses rekonstruksi pasca bencana, khususnya kebutuhan penyediaan rumah transisi dengan skala proses rekonstruksi yang relatif cepat.

“Nah kenapa kita ambil bambu karena recovery-nya lebih cepat sebenarnya, lebih ramah lingkungan. Tetap kita mengambil dari alam tapi recoverynya bambu ini lebih cepat dan setelah kita teliti lagi memang secara konstruksi cukup andal. Ada penelitian, kelenturannya lebih baik daripada baja,” jelas Prasetia di kompleks Huntara bambu, kelurahan Poboya, Palu (3/8/2019).

Ia menjelaskan, tiap bangunan hunian sementara berukuran 6 x 4 meter membutuhkan 150 batang bambu untuk konstruksi, 30 batang bambu yang lebih kecil untuk konstruksi atap, 14 lembar pitate (dinding bambu) dan 200 lembar anyaman daun rumbia untuk atap. Untuk lantai dibuat dalam dua model yaitu menggunakan papan yang ditumpuk di atas susunan bambu jika dalam bentuk rumah panggung, namun ada juga yang menggunakan lantai semen, dengan mempertimbangkan keamanan dan keselamatan anak-anak dan kelompok rentan lainnya seperti warga lansia.

Menurut Prasetia, program pengadaan rumah hunian berbahan bambu itu telah melibatkan penduduk sejak perencanaan hingga proses konstruksi, sehingga penduduk mendapat banyak pelajaran akan pentingnya kegunaan bambu, tehnik pertukangan bambu, serta isu kelestarian bambu. Pada sisi lain, program itu juga telah mendorong pemberdayaan ekonomi bagi para perajin dan petani bambu yang ada dari Pantai Barat Kabupaten Donggala hingga ke Kulawi Kabupaten Sigi.

“Setiap penerima manfaat harus ikut terlibat karena kalau terjadi apa-apa dengan rumahnya, dia harus tahu dong cara memperbaikinya, dia harus tahu dimana beli dinding bambu, dimana beli atap bambu, dia harus tahu bagaimana cara memproses bambu ini sehingga bisa menjadi konstruksi. Dengan bekal-bekal itu masyarakat bisa tahu bagaimana cara memelihara rumahnya,” kata Prasetia.

Dengan teknik tertentu, material bambu yang digunakan dalam pembangunan Hunian Sementara dapat bertahan 20 tahun. Meskipun nanti penghuninya pindah ke hunian tetap, bangunan huntara itu dapat digunakan oleh pemerintah desa/kelurahan untuk kebutuhan pariwisata.

Bambu, Material Alternatif Pembangunan Huntara Penyintas Bencana Sulteng
mohon tunggu

No media source currently available

0:00 0:03:02 0:00

Aida (49) yang kehilangan rumah dalam bencana likuifaksi di Petobo mengungkapkan rasa syukurnya bisa mendapat hunian sementara yang terbuat dari bambu itu. Kepada VOA ia mengatakan tempat tinggal barunya itu jauh lebih nyaman dibandingkan tinggal di tenda darurat sebagaimana yang telah dijalaninya selama 9 bulan bersama suami dan kedua anaknya.

“Alhamdulillah kami ini sudah merasa bersyukur mendapatkan rumah seperti ini karena kemarin-kemarin kan torang (kami) di tenda, panas, hujan itu yang kita rasakan, sekarang sudah nyamanlah seperti yang sudah dibangun ini,” ujarnya.

Hal serupa juga dikemukakan Nirzam (45).

“Alhamdulillah ya kita sudah dapat huntara seperti begini dari KUN, kita bersyukur sekali sudah, tidak panas lagi, tidak kena air hujan lagi, tidak kebanjiran lagi, tidak banjir lagi tempatnya,” tukasnya.

Masih Banyak Keluarga yang Belum Tertampung di Huntara

Arfan, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan daerah Kota Palu, mengakui keterlibatan berbagai pihak dalam kegiatan pembangunan hunian sementara itu.Kerja sama mereka membantu pemenuhan kebutuhan hunian bagi warga yang masih tinggal di tenda-tenda darurat seperti di Kelurahan Balaroa, Kelurahan Talise dan Kelurahan Baru dengan jumlah di tiga tempat itu sebanyak 885 keluarga. Berdasarkan data per 13 Mei 2019, ia menyebutkan ada 5.316 unit huntara yang telah dibangun di kota Palu.

“Memang pemerintah kota Palu masih membutuhkan huntara, seperti upaya bantuan di Poboya itu, kami berterimakasih sekali. Mungkin ke depan masih ada lagi yang bangun-bangun huntara. Kami butuh itu. Iya sedikit-sedikit tapi ada,” harap Arfan di kantor Bappeda kota Palu.

Ia menyatakan, dalam masa rehabilitasi dan rekonstruksi saat ini, pemerintah Kota Palu telah menganggarkan pembangunan 200 unit hunian tetap bagi penduduk terdampak bencana gempa bumi dan likuifaksi di kelurahan Balaroa, Kota Palu yang akan dibangun di lahan milik pemerintah kota Palu yang berada di dalam zona aman. (yl/ka)

Recommended

XS
SM
MD
LG