Ada tiga cara yang umum dipakai untuk menurunkan seorang presiden sebelum habis masa jabatannya di Amerika. Yang pertama adalah impeachment atau pemakzulan lewat DPR kemudian disusul penyidangan oleh Senat, dan dengan menggunakan Amandemen ke-25 UUD, menggantinya dengan Wakil Presiden.
David Priess, mantan pejabat Dinas Intelijen Pusat Amerika atau CIA baru saja menerbitkan buku berjudul How To Get Rid of a President, History’s Guide to Removing Unpopular, Unable or Unfit Chief Executives, atau Bagaimana menurunkan Seorang Presiden Yang Tidak Populer, dan Tidak Bisa menjalankan Tugasnya dengan Baik.
Kata David Priess, cara yang paling mudah adalah dengan menggantinya lewat pemilihan umum.
“Setelah empat tahun, ketika diadakan pemilihan presiden lagi, rakyat bisa menolak pencalonannya untuk masa jabatan kedua. Cara ini sudah kita lakukan 10 kali di masa lalu.”
Tapi seorang presiden juga bisa ditolak oleh partainya sendiri, sehingga ia tidak bisa mendapat masa jabatan kedua.
“(Mendiang) George H. W. Bush mungkin adalah presiden yang menghadapi tantangan paling kuat dari dalam partainya sendiri, bahkan dalam tingkat pemilihan pendahuluan.”
Tapi kalau rakyat tidak mau menunggu sampai pemilihan berikutnya, atau tidak sabar menunggu partai pendukung presiden turun tangan, ada teknik lain yang pernah digunakan di masa lalu, kata David Priess.
“Cara itu dilakukan dengan mencabut atau mengurangi sebagian kekuasaannya, sehingga ia hanya memegang jabatan tanpa bisa bertindak apapun.”
Usaha lain lagi untuk melumpuhkan presiden, kata David Priess, adalah mengadakan aksi sabotase dari dalam. Misalnya, penasihat presiden mengambil dokumen dari meja presiden, supaya ia tidak bisa menandatanganinya.”
Cara ini sudah kita lihat belum lama ini, kata David Priess kepada stasiun televisi C-Span. Katanya, ada orang-orang dalam yang dilaporkan telah “menghilangkan” dokumen yang akan ditandatangani presiden.
Atau tambahnya, dengan cara membunuh presiden, seperti yang pernah terjadi dalam sejarah Amerika, walaupun ada cara yang tidak sedrastis itu.
“Kalau ada calon yang sangat kuat dan sangat memenuhi persyaratan untuk jadi presiden, maka para penentangnya bisa menggunakan cara lain supaya calon itu gagal ditengah jalan, seperti pengungkapan adanya skandal. Ada orang yang mengatakan bahwa Hillary Clinton gagal mencapai Gedung Putih karena campur tangan Russia dalam pemilu tahun 2016.”
David Priess juga mengutip laporan psikologis tentang gangguan kejiwaan yang dialami sejumlah presiden Amerika.
“Dalam tahun 2006, mereka mendapati bahwa seperempat dari seluruh presiden Amerika sampai tahun itu, menderita apa yang disebut satu atau lebih gangguan kejiwaan, terutama depresi.”
Presiden terkenal Abraham Lincoln, katanya, terkena depresi berat dalam masa jabatannya, sehingga kawan-kawan dekatnya khawatir ia akan melakukan bunuh diri.
Presiden Andrew Johnson yang menggantikan Lincoln, dituduh rasis, keras kepala, tidak mau berkompromi, dan sering mengolok sekutu-sekutunya sendiri, dan akhirnya ia menjadi presiden pertama yang dimakzulkan. (ii)