Tautan-tautan Akses

AS

AS Tak Terkejut Atas Klaim Nuklir Rusia


Juru Bicara Gedung Putih, Sarah Huckabee Sanders (Foto: dok).

Para pejabat tinggi militer Amerika Serikat menyepelekan klaim Rusia bahwa militernya memiliki serangkaian senjata nuklir strategis baru yang dapat menjangkau target di manapun di dunia. Presiden Rusia Vladimir Putin menyombongkan kemampuan baru militernya tersebut dalam sebuah pidato menjelang pemilu Rusia. Koresponden Keamanan Nasional VOA Jeff Seldin melaporkan dari Pentagon.

Para pejabat Amerika Serikat sudah begitu terbiasa mendengar retorika Rusia yang kerap membanggakan kemampuan militernya, termasuk ketika presiden negara itu menyombongkan koleksi baru senjata nuklirnya yang menurutnya terlalu hebat untuk bisa dikalahkan.

Baca juga: Putin: Rusia Telah Uji Coba Senjata Nuklir Baru

Di Gedung Putih, juru bicara Sarah Huckabee Sanders tidak terkesan dengan klaim Rusia.

“Presiden Putin telah mengukuhkan apa yang selama ini diketahui oleh pemerintah Amerika Serikat, namun dibantah Rusia. Rusia telah lebih dari satu dekade mengembangkan sistem senjata yang sangat merusak yang merupakan pelanggaran langsung atas kewajibannya dalam kesepakatan nuklir,” katanya.

Putin mengklaim koleksi senjata baru Rusia memiliki jangkauan tidak terbatas dan dapat menghindari sistem pertahanan misil AS. Senjata-senjata itu diantaranya adalah misil jelajah berkekuatan nuklir, torpedo berkekuatan nuklir dan misil hipersonik baru.

Baca juga: AS Menepis Klaim Senjata Nuklir Rusia

Departemen Pertahanan Amerika Serikat pernah mengungkapkan apa yang mereka ketahui paling tidak mengenai dua di antara senjata-senjata itu. Dalam jurnal Nuclear Posture Review edisi terakhir, Pentagon membahas senjata hipersonik dan torpedo berkekuatan nuklir itu.

Juru bicara Pentagon, Dana White. (Foto: dok).
Juru bicara Pentagon, Dana White. (Foto: dok).

“Kami sudah lama mengawasi Rusia. Kami tidak terkejut. Rakyat Amerika bisa merasa lega karena kami sepenuhnya siap menghadapi itu,” kata juru bicara Pentagon, Dana White.

Sim Tack, pengamat militer dari lembaga riset Force Analysis, mengatakan, klaim Rusia ini tidak akan menimbulkan konsekuensi berarti.

“Secara teknis, saya tidak yakin senjata-senjata baru itu bisa mendorong perubahan besar dalam sistem pertahanan militer negara-negara lain,” imbuhnya.

Namun, kata Tack, klaim Moskow itu tetap ada pengaruhnya. “Pastinya ini efektif membuat orang-orang kembali memandang Rusia sebagai ancaman potensial,” komentarnya.

Sejumlah pejabat pertahanan dan intelijen Amerika Serikat mengatakan, anggapan bahwa Rusia adalah sebuah kekuatan besar yang harus diakui di panggung dunia merupakan motivasi utama keterlibatan Putin di Ukraina dan Suriah.

Di Moskow, Putin kembali sesumbar, “Kalian telah mencoba merintangi Rusia dengan kebijakan-kebijakan kalian. Kalian gagal membendung Rusia.” [ab/lt]

Opini Anda

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG