Tautan-tautan Akses

AS, Korsel akan Dorong Korut Kembali ke Pembicaraan Nuklir


Wakil Menteri Luar Negeri AS, Wendy Sherman dan Menteri Luar Negeri Korea Selatan Chung Eui-yong bentrok siku sebelum pertemuan mereka di kementerian luar negeri di Seoul, Korea Selatan, 22 Juli 2021. (Foto: Song Kyung-seok via REUTERS)

Para pejabat tinggi AS dan Korea Selatan, Kamis (22/7), sepakat untuk mencoba meyakinkan Korea Utara agar kembali ke pembicaraan mengenai program nuklirnya – sesuatu yang telah ditegaskan Pyongyang tidak akan dilakukannya sebagai protes terhadap sikap bermusuhan AS.

Wakil Menteri Luar Negeri AS Wendy Sherman berada di Seoul sebagai bagian dari tur regionalnya yang akan membawanya ke China akhir pekan ini. Ia akan menjadi pejabat tertinggi AS yang mengunjungi China sejak Presiden Joe Biden menjabat Januari lalu.

Pada Kamis (22/7), ia bertemu dengan Menteri Luar Negeri Korea Selatan Chung Eui-yong untuk melangsungkan pembicaraan mengenai Korea Utara, aliansi militer antara Seoul dan Washington, dan masalah-masalah regional lainnya.

Menurut pernyataan Kementerian Luar Negeri Korea Selatan, keduanya memutuskan untuk melanjutkan konsultasi erat untuk membuat Korea Utara kembali ke pembicaraan nuklir. Keduanya juga sepakat bahwa sangat penting untuk mewujudkan denuklirisasi lengkap dan perdamaian permanen di Semenanjung Korea.

Sewaktu pertemuan terpisahnya dengan Presiden Moon Jae-in, Kamis (22/7) malam, Sherman mengatakan ia berharap Korea Utara akan segera menanggapi tawaran AS untuk berdialog. Ia mengatakan bahwa ia ingin melakukan pembicaraan mendalam tentang Korea Utara dengan para pejabat China sewaktu mengunjungi kota Tianjin di timur laut China pada hari Minggu, kata kantor Moon.

China masih merupakan sekutu dan penyokong ekonomi utama Korea Utara. Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un mengatakan awal bulan ini bahwa ia akan lebih meningkatkan hubungan negaranya dengan China saat ia berjuang untuk mengatasi guncangan ekonomi yang disebabkan oleh pandemi.

Diplomasi pimpinan AS yang bertujuan untuk mencabut program nuklir Korea Utara dengan imbalan keuntungan ekonomi dan politik telah terhenti selama sekitar 2 tahun. Poin utama yang mencuat adalah seruan Korea Utara agar AS meninggalkan kebijakan yang dianggap bermusuhan oleh Pyongyang -- referensi nyata terhadap sanksi-sanksi pimpinan AS yang menghukum, yang dijatuhkan karena uji coba nuklir dan misil Pyongyang di masa lalu.

Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un dan adiknya Kim Yo Jong menghadiri pertemuan dengan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in di Peace House, 27 April 2018. (Foto: Reuters)
Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un dan adiknya Kim Yo Jong menghadiri pertemuan dengan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in di Peace House, 27 April 2018. (Foto: Reuters)

Bulan lalu, saudara perempuan Kim yang berpengaruh, Kim Yo Jong, menolak prospek untuk memulai kembali diplomasi nuklir, dengan mengatakan harapan AS akan pembicaraan itu hanya akan menjerumuskan mereka ke dalam kekecewaan yang lebih besar. Setelah pernyataannya, menteri luar negeri Korea Utara mengatakan negaranya bahkan tidak mempertimbangkan kemungkinan kontak apa pun dengan Amerika, dengan catatan bahwa pembicaraan itu tidak akan membawa mereka ke mana-mana, dan hanya menghabiskan waktu mereka yang berharga.

Pernyataan blak-blakan yang muncul berturutan ini telah meredam harapan yang muncul sebelumnya sewaktu Kim mengatakan Korea Utara siap untuk berdialog dan melakukan konfrontasi.

Beberapa ahli mengatakan Korea Utara kemungkinan akan menemukan kebutuhan mendesak untuk kembali ke pembicaraan nuklir jika kesulitan ekonomi terkait pandemi saat ini semakin memburuk. [ab/uh]

Lihat komentar

Recommended

XS
SM
MD
LG