Tautan-tautan Akses

AS Kenakan Sanksi terhadap Pemimpin ISIS dari Asia Tenggara


Polisi berjaga-jaga di bandara Ngurah Rai Airport di Denpasar, Bali, beberapa hari setelah ledakan di Jakarta.

Departemen Keuangan Amerika hari Kamis (30/3) mengenakan sanksi terhadap dua orang pemimpin terkemuka ISIS yang memimpin usaha perekrutan dan pencucian uang dari pangkalan-pangkalan di Irak dan Suriah.

Muhammad Bahrun Naim Anggih Tamtomo, seorang warga Indonesia dan Muhammad Wanndy Bin Mohamed Jedi, yang berasal dari Malaysia, telah ditambahkan ke dalam daftar teroris khusus global karena menyediakan bantuan operasi dan keuangan bagi ISIS di kedua negara dan menyalurkan uang melalui Asia Tenggara untuk merekrut orang untuk medan-tempur ISIS.

Penambahan kedua orang itu ke dalam daftar teroris mengirim sinyal yang kuat kepada peroranganyang memberi bantuan kepada ISIS dan menunjukkan tekad pemerintah Amerika untuk memerangi terorisme dan keuangan terorisme di kawasan itu,” kata direktur kantor urusan Pengawasan Asset Asing di Departemen Keuangan Amerika, dalam pernyataan.

Kedua pria itu adalah bagian dari tujuh orang yang dimasukkan dalam daftar sanksi itu, termasuk Anjem Choudary, 50 tahun, seorang penghotbah Islamis Inggris yang dihukum penjara tahun lalu karena membantu ISIS.

Sanksi yang dikenakan oleh kantor pengawas asset asing dan Departemen Luar Negeri Amerika itu melarang perusahaan Amerika dan warga Amerika melakukan kegiatan usaha dengan kedua pria itu, memblokir asset mereka di Amerika Serikat dan menempatkan mereka sebagai sasaran utama untuk penegakan hukum di seluruh dunia.

Serangan di Jakarta

Naim, 34 tahun, dicurigai oleh pihak berwenang sebagai otak serangan tahun 2016 di Jakarta.

Naim kabarnya mengarahkan operasi ISIS di Indonesia melalui app Telegram yang pernah populer di Raqqa, ibukota de fakto kelompok itu di Suriah, kata pihak berwenang Indonesia. Ia adalah salah seorang yang paling dicari oleh Indonesia dan pihak berwenang mengatakan ia adalah ahli komputer dan trampil dalam pembuatan bom.

ISIS tetap ancaman terhadap Indonesia, negara Muslim paling besar di dunia, kata pihak berwenang. Sebanyak 384 warga Indonesia telah bergabung dengan ISIS, menurut badan kontra-teroris Indonesia. Sebagian besar dari orang tersebut pernah berada di Suriah dan Irak.

Menurut laporan media, Naim lahir di Pekalongan, Jawa Tengah, tahun 1983. Ia dibesarkan di Solo, kota dimana kelompok-kelompok radikal mempunyai kehadiran yang lama, dan mendapat gelar sarjana dalam teknologi komputer tahun 2005.

Naim ditangkap karena dicurigai terlibat dalam jaringan teroris bulan November tahun 2010, dan ia didapati bersalah bulan Juni tahun 2011 memiliki amunisi secara illegal. Namun, pengadilan tidak punya cukup bukti untuk mengenakan tuduhan terror, kata pihak berwenang Indonesia.

Ia melarikan diri dari Indonesia awal tahun 2015. Pihak berwenang melacaknya ke Suriah, dari mana kata mereka ia terus memperkuat jaringan teroris di Indonesia.

“Naim mempunyai pengaruh besar terhadap jaringannya,” kata Wawan Purwanto, seorang analis intelijens di badan anti-teror Indonesia kepada VOA tahun lalu. “Ia menjadi inspirasi baru bagi pengikutnya melalui media social.”

Menurut BBC, Naim kabarnya mempunyai blog, yang menggambarkan dirinya sebagai “wartawan freelance.” Ia telah memuat tulisan mengenai cara melakukan serangan teroris, membuat bom dan menghindari pengintaian.

Perekrut, Pengarah Serangan

Warga Malaysia, Wanndy, mengkoordinasi serangan ISIS dan merekrut dan memperlancar operasi.

Wanndy mengaku bertanggung jawab atas nama ISIS atas serangan granat bulan Juni tahun 2016 di kelab malam di Malaysia, dimana 8 orang luka-luka, kata pernyataan departemen keuangan Amerika.

“Awal tahun 2016, Wanndy merekrut dan membantu perjalanan tiga orang pendukung ISIS dari Malaysia yang berusaha bergabung dengan kelompok teroris itu di Suriah, tetapi ditangkap di Malaysia setelah mereka dideportasi dari Turki,” kata pernyataan itu. [gp/ii]

Opini Anda

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG