Tautan-tautan Akses

AS Baru Kirimkan 15 Persen dari Sumbangan Vaksin COVID-19 yang Dijanjikan


Seorang staf UNICEF memeriksa kotak-kotak vaksin Moderna yang disumbangkan pemerintah AS melalui fasilitas COVAX di bandara Nairobi, Kenya (foto: dok).
Seorang staf UNICEF memeriksa kotak-kotak vaksin Moderna yang disumbangkan pemerintah AS melalui fasilitas COVAX di bandara Nairobi, Kenya (foto: dok).

Amerika adalah negara yang paling banyak menyumbangkan vaksin COVID-19 di dunia. AS berjanji menyumbangkan 1,1 miliar dosis untuk menolong rakyat di dunia melawan pandemi COVID-19. Namun sejauh ini sumbangan vaksin yang dikirim hanya 15% dari yang dijanjikan.

Untuk setiap vaksinasi yang diberikan di dalam negeri, Amerika akan mengirim tiga dosin vaksin ke luar negeri. Itulah janji yang dibuat Presiden Joe Biden untuk membantu vaksinasi di dunia.

"Amerika membeli setengah miliar dosis Pfizer lagi untuk disumbangkan ke negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah di seluruh dunia. Jumlah itu semuanya akan dikirim tahun depan, sehingga memenuhi janji kita untuk menyumbang vaksin lebih dari 1,1 miliar," ujar Biden.

Dari 1,1 miliar dosis yang dijanjikan AS itu, Departemen Luar Negeri mengatakan, sekitar 172 juta sudah dikirim, atau sekitar 15 persen.

Gedung Putih mengatakan, 200 juta dosis lagi akan dikirim pada akhir 2021, dan 800 juta sisanya akan dikirim pada September 2022.

Krishna Udayakumar dari Duke Global Health Innovation Center mengatakan, “Klaim menjadi gudang vaksin bagi dunia adalah topik pembicaraan yang bagus. Akan sangat baik jika diwujudkan. Namun, tidak cukup hanya janji menyumbang. Jadi menurut saya, ketika berbicara tentang akses dan pasokan vaksin, kita harus melihat gambaran keseluruhan, siapa sebenarnya yang menerima vaksin itu.”

Organisasi kemanusiaan mengatakan, 80 persen dari dosis yang disumbangkan, diterima oleh negara-negara kaya dan kurang dari satu persen oleh negara-negara miskin.

Data dari perusahaan analitik Airfinity tentang stok vaksin di AS, Uni Eropa, Inggris, Kanada, dan China, negara-negara dengan surplus terbesar, menunjukkan kelebihan 670 juta dosis vaksin pada akhir September, bahkan setelah negara-negara tersebut memberikan vaksinasi penguat kepada semua orang, berusia 12 tahun ke atas.

Robbie Silverman dari Oxfam America, organisasi untuk mengakhiri ketidakadilan mengatakan, “Kini situasinya, negara-negara kaya mempunyai dosis tiga kali lebih banyak dari yang sebenarnya dibutuhkan. Ada risiko nyata di sana, pertama, itu membuat negara lain tidak mendapat bagian. Dan kedua, mereka mungkin tidak dapat menggunakan semua persediaan vaksin itu. Kami sudah melihat negara-negara kaya pada dasarnya membuang jutaan dosis karena vaksin itu kedaluwarsa sebelum bisa digunakan.”

Pendukung pemberian vaksin mengatakan, AS harus meningkatkan pengiriman vaksin sumbangan sekarang dan berbuat lebih banyak untuk mengalihkan teknologi vaksin.

Data Airfinity menunjukkan, produsen vaksin memproduksi 1,5 miliar dosis per bulan. Dengan lebih dari 6 miliar dosis telah dikirim ke seluruh dunia, tujuan WHO untuk mendapat 5 miliar dosis lagi yang diperlukan untuk memvaksinasi penduduk dunia, dapat dicapai dalam beberapa bulan, asalkan negara-negara kaya bersedia berbagi pasokan vaksinnya kepada dunia. [ps/ka]

XS
SM
MD
LG