Tautan-tautan Akses

Arab Saudi Menjaga Tradisi Kontes Kecantikan Unta


Sekelompok peternak laki-laki berdiri di sebelah unta-unta untuk mengikuti Festival Unta Raja Abdulaziz di Wilayah Rimah, timur laut Riyadh, Arab Saudi, 19 Januari 2018.

Unta-unta berpunuk satu berparade di jalur balap berdebu, di bawah tatapan para juri yang menilai ukuran bibir, pipi, kepala dan lutut. Sekelompok laki-laki memperhatikan dari bangku penonton. Sesekali mereka melontarkan seruan ketika unta yang mewakili suku mereka berjalan di lapangan.

Lusinan unta-unta didiskualifikasi dari ‘kontes kecantikan unta’ tahun ini yang diadakan di Arab Saudi karena pawang mereka menggunakan Botox untuk mempercantik ternak peliharaan mereka.

“Unta-unta,” itu kata ketua juri peragaan, Fawzan al-Madi “adalah simbol Arab Saudi. Kami sebelumnya menjaga tradisi ini karena keharusan, sekarang kami melestarikannya sebagai warisan masa lalu.”

Berbagai perubahan berlangsung di Arab Saudi: Negara itu sedang membuka bioskop film pertamanya. Tak lama lagi kaum perempuan Arab Saudi diizinkan mengemudi. Para pihak berwenang berharap meragamkan kegiatan ekonomi tidak hanya bertumpu pada perdagangan minyak yang sudah menjadi sumber penghidupan berpuluh tahun.

Meski Arab Saudi sedang mencoba mengubah kerajaan konservatif itu, pemerintah berusaha memuluskan jalan reformasi dengan menekankan aspek tradisional dalam kebudayaan mereka. Dan untuk Suku Arab Bedouin, tidak ada yang lebih penting dibandingkan unta. Ternak ini sudah digunakan berabad-abad untuk makanan, transportasi, mesin perang dan rekanan.

Seorang laki-laki bersorak sambil mengendarai unta dalam Festival Unta Raja Abdulaziz di Wilayah Rimah, timur laut Riyadh, Arab Saudi, 19 Januari 2018.
Seorang laki-laki bersorak sambil mengendarai unta dalam Festival Unta Raja Abdulaziz di Wilayah Rimah, timur laut Riyadh, Arab Saudi, 19 Januari 2018.

Pemerintah telah membuat beragai perubahan untuk festival tahunan kecantikan unta yang berlangsung selama sebulan itu. Lokasi festival dipindah ke daerah pinggiran ibu kota, dari sebelumnya tahun lalu diselenggarakan di padang pasir terpencil. Di lapangan padang pasir datar, pemerintah Arab Saudi sudah membangun lokasi penyelenggaraan permanen, dengan tajuk acara: balapan unta dan kompetisi dengan total dana 213 juta riyal (57 juta dolar).

Paviliun menjadi tempat lelang unta-unta terbaik yang bisa terjual jutaan riyal.

Ada kios-kios makanan dan suvenir, kebun binatang untuk anak-anak berinteraksi dengan unta-unta tertinggi dan terpendek di dunia, museum dengan patung unta dengan ukuran sebenarnya, tenda-tenda untuk mencicipi susu unta dan kain dari rambut unta, serta sebuah planetarium untuk memperlihatkan bagaimana orang-orang Arab mengendarai unta melintasi padang pasir dengan berpedoman pada bintang-bintang.

Penyelenggara mengatakan “Desa Warisan” ini akan diperluas di tahun-tahun mendatang karena Putra Mahkota Mohammed bin Salman, ahli waris tahta kerajaan, merangkap menteri pertahanan dan kepala kebijakan minyak dan ekonomi, akan memimpin melalui Klub Unta, yang secara resmi didirikan dengan keputusan kerajaan.

Meski festival baru separuh jalan, jumlah pengunjung naik sepertiga dari tahun lalu. Sekitar 300 ribu orang berkendara 1,5 jam dari Riyadh untuk menyaksikan festival itu, kata Fahd al-Semmari, anggota Klub Unta.

“Visinya adalah agar (festival) itu menjadi acara global, merintis forum untuk semua golongan masyarakat untuk datang menikmati hiburan, pengetahuan dan kompetisi.” [fw]

XS
SM
MD
LG