Tautan-tautan Akses

Antusiasme Tinggi dan Lemahnya Oposisi Warnai Pemilu Uzbekistan


Warga Uzbekistan mengantri di sebuah tempat pemungutan suara (TPS) Tashkent, untuk memberikan hak suaranya pada pemilu presiden yang dilaksanakan pada 24 Oktober 24 2021. (Foto: Reuters/Stringer)

Uzbekistan telah menyelesaikan pemilihan umum tanpa kehadiran oposisi yang kuat. Tetapi warga Uzbekistan, yang ingin sekali menggunakan hak suara mereka, tetap datang untuk memilih, dan memenuhi tempat pemungutan suara (TPS) di berbagai wilayah di negara tersebut.

Jumlah partispasi warga pada pemilu kini mencapai lebih dari 80 persen.

Pengamat internasional mengatakan jumlah tersebut merupakan pencapaian penting di negara yang telah berusaha melakukan reformasi dalam beberapa tahun terakhir.

Anthony Bowyer dari Yayasan Internasional Sistem Pemilu berada selama satu bulan di Uzbekistan untuk memantau kampanye, dan mengunjungi 30 TPS pada hari pemilihan tanggal 24 Oktober lalu. Dia melihat angka partisipasi pemilu yang dirilis pemerintah cukup akurat, dan mengatakan fakta tersebut menunjukkan bahwa rakyat Uzbekistan mengharapkan lebih banyak dari kepemimpinan di negara mereka.

Presiden Uzbekistan Shavkat Mirziyoyev merayakan kemenangannya dalam pemilu presiden pada 24 Oktober 2021. (Foto: President.uz)
Presiden Uzbekistan Shavkat Mirziyoyev merayakan kemenangannya dalam pemilu presiden pada 24 Oktober 2021. (Foto: President.uz)

Pada pemilu kali ini, Presiden Shavkat Mirziyoyev berhasil mengalahkan keempat pesaingnya, Alisher Kadirov dari Partai Demokratik Kebangkitan Nasional, Maqsuda Vorisova dari Partai Demokratik Rakyat, Bahrom Abuhalimov dari Partai Demokratik Sosial Keadilan, dan Narzullo Oblomurodov dari Partai Ekologi. Para lawan ini kalah mutlak dari calon petahana yang meraih sekitar 80 persen dari total jumlah suara yang masuk.

Beberapa pemilih yang berbicara kepada VOA pada hari pemilihan mengatakan, mereka memilih Mirziyoyev sebagian karena dia sudah dikenal. Beberapa pemilih di pedesaan mengatakan, mereka memilih sang presiden meskipun perubahan yang dijanjikannya belum mencapai desa mereka. Untuk banyak orang, lawan-lawan politiknya belum dikenal, dan partai mereka tidak mengesankan.

Rukhsora, seorang profesional muda yang tinggal di Tashkent, mengatakan, dia gembira dengan perubahan yang terjaid saat ini termasuk keterbukaan dan akuntabilitas lebih besar dibandingkan kekuasaan otoriter dari Presiden Islam Karimov dari 1989 sampai 2016.

"Bahwa kami masih dihadapkan banyak masalah tidaklah menjadikan dia seorang presiden yang buruk," tutur Rukhsora. [jm/lt]

Recommended

XS
SM
MD
LG