Tautan-tautan Akses

Analis: Kekalahan Ahok Bisa Bangkitkan Kaum Moderat


Pasangan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno saat konferensi pers setelah lembaga survei mengumumkan hasil hitung cepat, Rabu, 19 April 2017.

Hasil hitung cepat dari 10 perusahaan survei menunjukkan mantan menteri pendidikan Anies Baswedan memenangkan pemilihan Gubernur DKI Jakarta dengan suara antara 55 hingga 60 persen.

Anies unggul dari Gubernur petahana Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama yang tengah diadili atas tuduhan penistaan agama. Dalam beberapa kali aksi pada akhir 2016 dan awal 2017, ratusan ribu orang melakukan unjuk rasa terhadap Ahok di Jakarta dan menyerukan agar ia dipenjarakan bahkan dibunuh.

Anies, yang menempuh S2 dan S3-nya di Amerika Serikat, dan berlatar belakang Muslim moderat, diuntungkan oleh penolakan masyarakat terhadap Ahok dan mendapat dukungan dari para ulama dan tokoh konservatif yang menentang pemimpin non-Muslim.

Kampanye yang penuh polarisasi dan diwarnai suara kelompok-kelompok Islam garis keras ini mendapat sorotan Internasional, khususnya terkait reputasi Indonesia sebagai negara berpenduduk mayoritas Muslim yang moderat.

Ahok telah memberi ucapan selamat kepada Anies atas kemenangannya dan mendesak rakyat Indonesia agar melupakan perselisihan pada masa kampanye. Sementara Anies mengatakan kepada para wartawan bahwa ia bertekad memelihara kebhinekaan Jakarta dan akan menekankan keadilan sosial.

Kepada New York Times, para analis mengatakan kekalahan Ahok tidak terlepas dari turunnya popularitas petahana ini, yang diperuncing oleh kelompok-kelompok Islam yang menggunakan agama sebagai senjata politik, walaupun sudah puluhan tahun ada peraturan pemerintah yang melarang taktik seperti itu.

“Ini adalah tantangan bagi demokrasi Indonesia,” kata Bonar Tigor Naipospos, wakil ketua Dewan Eksekutif Institut Setara untuk Demokrasi dan Perdamaian, sebuah institut penelitian di Jakarta.

“Ini menunjukkan pada saya bahwa Islamisasi semakin mendalam di masyarakat, terutama di daerah kota dan kota-kota besar,” katanya.

Bonar khawatir, kekalahan Ahok akan mendorong kelompok-kelompok Islam garis keras semakin berani untuk menekan baik pemerintah DKI Jakarta maupun pemerintah pusat untuk menjalankan agenda ultra-konservatif mereka, yang mencakup pemberlakuan hukum syariah dan larangan penjualan minuman keras.

“Saya menyebutnya kemenangan telak bagi Anies,” kata Kevin Evans, seorang analis politik di Jakarta.

“Tapi yang lebih penting bagi saya adalah bagaimana hal ini akan menggerakkan kaum pluralis untuk lebih terlibat dan menolak menyusupnya primordialisme Islam,” katanya. “Kalau ini akan membangkitkan kaum berhaluan tengah dan kiri untuk mulai berpikir sungguh-sungguh mengenai keadaan ini, hasil pemilihan tersebut bukanlah hal yang buruk.”

Ahok, adalah gubernur DKI Jakarta pertama yang keturunan Tionghoa dan beragama Kristen dalam 50 tahun terakhir. Ahok selama ini populer di kalangan golongan menengah-atas Jakarta karena usahanya memberantas korupsi dan membuat Ibukota yang sering banjir dan kotor menjadi lebih nyaman.

Tetapi sikapnya yang tegas terhadap penggusuran perumahan kumuh menimbulkan juga kebencian sebagian besar warga DKI yang berjumlah 10 juta itu.

Para penentangnya mendapat kesempatan tahun lalu ketika muncul video yang menunjukkan Ahok berkata di depan sejumlah warga bahwa mereka dibohongi memakai surat Al-Maidah ayat 51 yang melarang Muslim memilih pemimpin non-Muslim. Kasus yang dituduhkan sebagai penistaan agama ini kemudian bergulir ke pengadilan. Kamis ini, pihak jaksa akan mengajukan tuntutan hukuman terhadap terdakwa Ahok. Penistaan adalah pelanggaran pidana di Indonesia dan dapat dihukum sampai lima tahun penjara.

Lebih dari 7 juta orang berhak memberikan suara dalam pemilihan gubernur DKI Jakarta dan ribuan polisi dan tentara dikerahkan untuk mengamankan lebih dari 13 ribu TPS.

Sumber: AP/NYT/WSJ

Opini Anda

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG