Tautan-tautan Akses

Amnesty Jelaskan Cara Peroleh Data Jumlah Korban Demonstrasi di Iran


Seorang tentara Iran berjaga dari atas gedung bertingkat, saat berlangsungnya demonstrasi pro-pemerintah di Teheran, Iran, memprotes keras kenaikan harga bahan bakar yang diberlakukan pemerintah, 25 November 2019.

Amnesty International berbagi rincian baru mengenai bagaimana organisasi itu mendapatkan data otoritatif mengenai korban warga Iran yang tewas dibunuh pasukan keamanan negara itu dalam berbagai protes antipemerintah bulan lalu.

Dalam pernyataan hari Senin, organisasi itu menyatakan menerima laporan yang kredibel bahwa sedikitnya 208 demonstran tewas dalam waktu kurang dari sepekan dalam kerusuhan di berbagai penjuru negara itu, yang bermula sejak 15 November lalu. Ini merupakan kenaikan 57 orang dari jumlah korban tewas yang dilaporkan sebelumnya oleh Amnesty pada hari Jumat.

“Jumlah kematian yang merisaukan ini merupakan bukti lebih jauh bahwa pasukan keamanan Iran melakukan pembunuhan yang mengerikan,” kata direktur riset regional Amnesty Philip Luther dalam suatu pernyataan. “Mereka yang bertanggungjawab atas tindakan keras berdarah terhadap para demonstran harus dituntut pertanggungjawabannya.”

Berbicara kepada VOA hari Senin (2/12), peneliti Iran di organisasi tersebut, Raha Bahreini mengatakan, ini adalah jumlah korban tewas terbanyak di Iran sejak 1988. Berbagai organisasi HAM telah menyatakan bahwa penguasa Islamis di Iran diam-diam mengeksekusi ribuan pembangkang politik yang dipenjarakan pada tahun itu dan menguburkan mereka di kuburan massal tanpa tanda. Para pemimpin Iran hingga kini menolak mengakui tentang pembunuhan tersebut.

Pemerintah Iran memicu protes-protes terbaru di puluhan kota karena memerintahkan kenaikan 50 persen harga bensin yang disubsidi. Protes itu memperparah kondisi keuangan Iran yang sedang berjuang mengatasi tingkat pengangguran yang tinggi dan inflasi di tengah ekonomi yang menyusut. Pemerintah memadamkan protes-protes itu dalam beberapa hari saja dengan tindakan keras pasukan keamanan dan dengan menutup akses Internet secara nasional selama sepekan untuk membuat demonstran tidak lagi dapat berbagi foto dan informasi satu sama lain dan kepada dunia luar.

Laporan Amnesty mengenai korban tewas akibat kerusuhan di Iran telah dikutip luas oleh berbagai media berita Barat, yang tidak dapat memverifikasi pembunuhan itu karena pemerintah Iran membatasi akses mereka ke negara itu. Ditutupnya koneksi Internet selama sepekan di Iran membuat upaya mendapatkan data korban jiwa semakin sulit.

Iran menuduh musuh-musuh asingnyda dan oposisi di pengasingan yang menyulut kerusuhan, sebagian di antaranya berupa penjarahan dan pembakaran gedung-gedung. Iran menyebut laporan jumlah korban yang dikeluarkan Amnesty itu spekulatif, tetapi tidak mengeluarkan angka-angka mengenai korban tewas dan cedera. Para pejabat Iran juga telah menyatakan beberapa personel keamanan termasuk di antara yang tewas.

Wawancara sumber kredibel

Pernyataan Amnesty menyebutkan bahwa organisasi itu mengumpulkan jumlah korban tewas dari berbagai laporan yang kredibilitasnya diketahui pasti dengan mewawancarai “sejumlah sumber di dalam dan di luar Iran, termasuk kerabat korban, wartawan dan aktivis HAM yang terlibat dalam pengumpulan informasi. Amnesty kemudian mengecek silang informasi tersebut.

Mansoureh Mills, peneliti Amnesty lainnya yang berbicara kepada VOA Persia, mengatakan perlu waktu berhari-hari untuk memverifikasi tewasnya demonstran per individu, membuat kemungkinan besar jumlah sesungguhnya dari korban yang tewas jauh lebih tinggi daripada yang sebelumnya dikukuhkan organisasi itu sejauh ini.

“Kami menerima banyak informasi, kadang-kadang dari para sumber yang kami tidak begitu kenal,” kata Mansoureh. “Kami berupaya menghubungi anggota keluarga korban kalau bisa, tetapi benar-benar sulit berbicara dengan mereka, karena jaringan seluler di beberapa kawasan belum pulih dan banyak orang takut berbicara dengan kami.”

Dalam pernyataannya, Amnesty mengatakan kemudian tahu bahwa pihak berwenang Iran telah mengancam anggota keluarga para korban, memperingatkan mereka agar tidak berbicara kepada media atau mengadakan upacara pemakaman kerabat mereka. Amnesty juga menyebutkan bahwa pihak berwenang telah memaksa sejumlah keluarga untuk membayar dalam jumlah besar agar mayat kerabat mereka itu diserahkan kepada mereka. [uh/ab]

Lihat komentar

XS
SM
MD
LG