Tautan-tautan Akses

Aksi Corat-Coret Dorong Twitter Bertindak terhadap Cuitan Bernada Kebencian


Seorang pria mengambil foto “cuitan-cuitan kebencian,” sebagai bagian dari proyek seni “#HEYTWITTER” yang dibuat oleh Shahak Shapira, di pelataran kantor Twitter di Hamburg, Jerman (YouTube via REUTERS) Germany Aug. 4, 2017 in this picture obtained from social media.

Seorang artis yang lelah atas ketidakpedulian Twitter terhadap keberadaan cuitan-cuitan bernada kebencian berhasil memaksa perusahaan jejaring sosial itu untuk menghapus atau menyembunyikan beberapa dari cuitan itu – dengan cara mencorat-coret cuitan bersifat ofensif di pelataran kantor pusat perusahaan itu di Jerman.

Shahak Shapira menyatakan ia telah melaporkan sekitar 300 cuitan yang mengandung muatan ilegal ke Twitter dalam kurun waktu sekitar enam bulan namun situs jejaring sosial itu mengabaikannya. Hal ini terjadi saat Twitter menyuarakan keberatannya atas undang-undang di Jerman yang ketat, dengan bersikeras pihaknya telah mengambil tindakak yang memadai terhadap ujaran kebencian.

Shapira mengatakan ia mencorat-coret hampir 30 cuitan yang bersifat ofensif di pelataran di depan kantor Twitter di Hamburg hari Jumat karena “sekedar melaporkannya jelas-jelas tidak cukup.”

“Saya harus melakukan aksi corat-coret di pelataran,” ujarnya kepada The Associated Press dalam sebuah wawancara lewat telepon hari Rabu.

Artis kelahiran Israel mengatakan ia tidak pernah menerima respon secara langsung dari Twitter, baik sebelum atau sesudah aksi corat-coretnya.

Namun video aksi corat-coret telah disaksikan lebih dari 100.000 pemirsa dalam kurun waktu 48 jam dan jelas-jelas berhasil menarik perhatian perusahaan itu. Menjelang hari Rabu, Twitter telah menghapuskan tiga cuitan, menutup empat akun, dan membekukan tujuh akun lainnya di Jerman.

Limabelas cuitan lainnya, termasuk komentar-komentar yang bernada anti-Semit, anti-Islam, dan anti-kulit hitam, masih ditemukan di ranah online.

Shapira menyatakan ia tidak mendukung penyensoran secara massal, namun menghendaki agar Twitter memandang penyalahgunaan di ranah online secara serius. Sebuah studi yang diperintahkan oleh pemerintah Jerman menemukan bahwa Twitter kalah responsif dibandingkan jejaring sosial lainnya seperti Facebook dan YouTube dalam merespon keluhan terkait ujaran kebencian.

“Sungguh menyenangkan apabila Twitter akhirnya merespon,” ujar Shapira, yang karya seni sebelumnya termasuk mempertanyakan cara kaum muda menghadapi isu Holocaust.

“Saya saya inginkan postingan-postingan yang sudah ditandai ini diulas sebagaimana Facebook mengulasnya. Apa yang dilakukan Facebook masih belum sempurna, namun paling tidak mereka berusaha.”

Di bawah tekanan setelah Jerman memberlakukan undang-undang bulan lalu yang memungkinkan jejaring sosial dijatuhi denda hingga 50 juta euro atau $58,6 juta apabila mereka gagal menghapus muatan ilegal. Facebook telah mengumumkan rencananya pekan ini untuk membuka kantor kedua di Jerman untuk memeriksa postingan terkait muatan ilegal.

Para pendukung kebebasan berbicara telah mengkritik undang-undang itu, dengan menyatakan jejaring sosial dapat bertindak keliru terkait penyensoran untuk menghindari denda yang berat.

Twitter menolak berkomentar secara terbuka tentang aksi corat-coret setelah awalnya dihubungi oleh AP tentang tindakan itu hari Senin.

Sebaliknya, perusahaan itu mengutip pedoman yang antara lain pemblokiran akibat mendorong “kekerasan terhadap atau secara langsung menyerang atau mengancam orang lain atas dasar ras, kesukuan, asal kebangsaan, orientasi seksual, jender, dan identitas jender.”

Di antara coretan-coretan dengan cat terkait cuitan yang masih bisa ditemukan di ranah online salah satunya adalah cuitan yang ditujukan pada Shapira dari seorang pengguna yang menunjuk pada latar belakang Shapira sebagai seorang Yahudi dan berharap Shapira bertemu dengan sekelompok penjahat pada malam yang gelap. [ww/fw]

XS
SM
MD
LG