Tautan-tautan Akses

Akibat Perubahan Iklim, Suhu Udara di Perkotaan Makin Panas


Warga berkumpul di kolam air mancur Unisphere untuk mendinginkan badan, di Queens, New York, 2 Juli 2019.
Warga berkumpul di kolam air mancur Unisphere untuk mendinginkan badan, di Queens, New York, 2 Juli 2019.

Dengan melonjaknya populasi perkotaan di seluruh dunia, kota-kota akan kesulitan menjaga penghuninya bebas dari risiko panas yang meningkat cepat seiring perubahan iklim, kata para ilmuwan dan pakar kesehatan masyarakat memperingatkan pekan ini.

Mereka menambahkan suhu udara yang panas sudah menjadi penyebab utama kematian akibat cuaca ekstrem di negara-negara termasuk Amerika. Masalah itu sangat parah di kota-kota, di mana suhu ekstrem naik jauh lebih cepat daripada rata-rata global.

Bahkan kini suhu udara di daerah-daerah yang padat penduduk, seperti kota-kota di Asia, empat kali lebih panas daripada suhu rata-rata global, demikian laporan jurnal Lancet tentang ancaman kesehatan akibat perubahan iklim pekan ini.

"Ini masalah di seluruh dunia - di kota-kota di Amerika Utara, Eropa, Asia, Afrika," ujar Joy Shumake-Guillemot, ketua tim gabungan iklim dan kesehatan di Swiss untuk Organisasi Kesehatan Sedunia dan Organisasi Meteorologi Sedunia.

Dalam beberapa dekade ke depan, pemanasan suhu udara di kota "akan menempatkan populasi pada posisi di mana mereka terpapar suhu yang tidak sesuai dengan kondisi mereka, kota tidak dibangun dan sistem sosial benar-benar tidak siap untuk menghadapi," katanya kepada Yayasan Thomson Reuters.[ka/pp]

XS
SM
MD
LG