Tautan-tautan Akses

Akhiri Perang Saudara di Sudan Selatan, Gencatan Senjata “Permanen” Dimulai


Presiden Sudan Selatan, Salva Kiir, Presiden Sudan Omar Al-Bashir, dan pemimpin pemberontak Sudan Selatan, Riek Machar, mengadakan pembicaraan setelah menandatangani kesepakatan perdamaian yang bertujuan untuk mengakhiri perang yang telah merenggut nyawan puluhan ribu orang, di Khartoum, Sudan, 27 Juni 2018 (foto: Reuters/Mohamed Nureldin Abdallah)

Gencatan senjata dimulai Sabtu tengah malam (30/6) di Sudan Selatan ketika negara itu menduga-duga apakah upaya terakhir untuk mengakhiri perang saudara yang sudah berlangsung selama lima tahun ini, akan bertahan atau tidak.

Presiden Salva Kiir dan saingannya Riek Machar menyetujui gencatan senjata “permanen” itu hari Rabu (27/6) di Sudan, setelah pertemuan tatap muka pertama mereka dalam hampir dua tahun. Jika pertempuran tidak berhenti dan perjanjian politik tidak tercapai hingga Sabtu ini, Sudan Selatan kemungkinan akan menghadapi embargo senjata api dan sanksi PBB.

Berbagai upaya perdamaian telah gagal, dan gencatan senjata terbaru Desember lalu dilanggar hanya beberapa jam setelah disepakati, sehingga meningkatkan rasa frustrasi masyarakat internasional. Baik Kiir, maupun Machar, minggu ini memerintahkan pendukung mereka untuk mematuhi pelaksanaan perjanjian terbaru yang dicapai hari Sabtu itu.

Perang saudara yang pecah antara pendukung Kiir dan wakilnya ketika itu – Riek Machar – pada akhir tahun 2013, hanya dua tahun setelah Sudan Selatan meraih kemerdekaan dari Sudan, menewaskan puluhan ribu orang dan memicu krisis pengungsi terbesar di Afrika sejak genosida Rwanda tahun 1994. Kedua pihak saling tuduh melancarkan aksi kekerasan dan kekejaman keji seperti perkosaan beramai-ramai. [em/al]

XS
SM
MD
LG