Tautan-tautan Akses

Bintang Basket LeBron James Dituding Tak Peduli Nasib Uighur China


Penyerang Los Angeles Lakers LeBron James melawan Golden State Warriors selama pertandingan pramusim NBA di San Francisco, Sabtu, 5 Oktober 2019 (Foto: AP/Jeff Chiu)

Bintang Basket LeBron James menuai kritik baru-baru ini terkait pernyataanya yang membela sanksi berat yang diberlakukan pemerintah China terhadap Asosiasi Bola Basket Nasional AS atau NBA. Sanksi itu itu sendiri dijatuhkan setelah General Manager Houston Rocket menyatakan dukungannya bagi para demonstran di Hong Kong.

Sikap James ini belakangan juga diartikan sebagai ketidakperduliannya terhadap nasib kelompok minoritas Uighur di Xinjiang, yang juga mengalami penindasan pemerintah China. James dituding tidak konsisten dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya yang menyebutkan ia akan selalu membela kelompok-kelompok yang terpinggirkan.

LeBron James menyatakan, General Manager Houston Rockets Daryl Morey, tidak memahami situasi atau keliru memperoleh informasi saat menyatakan dukungannya bagi para demonstran Hong Kong. Intinya, James ingin Morey tutup mulut sehingga NBA dan, tentunya, Houston Rockett tidak terkena akibatnya.

Salah satu anggota masyarakat Uighur China. (Foto: Reuters)
Salah satu anggota masyarakat Uighur China. (Foto: Reuters)

Akibat pernyataan Morey di Twitter, para penggemar bola basket di China tidak dapat menyaksikan laga Rockets dalam pertandingan-pertandingan NBA. James sendiri tampaknya marah karena gara-gara Morey mencampuri urusan politik dalam negeri China, NBA dan Rockets terkena getahnya.

Apakah lantas James meminta maaf atas pernyataannya itu? Terutama terhadap kelompok minoritas Muslim Uighur di Xinjiang yang lebih dari satu juta di antara mereka di masukan ke kamp-kamp penahanan tanpa alasan yang jelas. James ternyata menolak meminta maaf, dan, dalam sebuah konperensi pers dengan sejumlah wartawan ia malah mengatakan.

“Isu ini menjadi perhatian dunia. Hal terbaik yang harus kita lakukan adalah, kalau kira perduli, bicaralah. Jika tidak, atau tidak cukup mengerti masalah, sebaiknya jangan bicara. Itu akan menempatkan Anda pada situasi yang sulit," kata James .

Pendukung Uighur berbaris menuju Kedutaan Besar Tiongkok setelah demonstrasi protes Uighur di Dupont Circle di Washington, 7 Juli 2009. (Foto: AP)
Pendukung Uighur berbaris menuju Kedutaan Besar Tiongkok setelah demonstrasi protes Uighur di Dupont Circle di Washington, 7 Juli 2009. (Foto: AP)

James memang tidak secara spesifik menyatakan mendukung atau menentang langkah-langkah keras yang diambil pemerintah China. Ia juga tidak menyorot nasib kelompok Muslim Uighur. Ia lebih memperdulikan nasib NBA dan para penggemar bola basket.

“Kita berada dalam situasi yang sulit saat ini, bagi para pemain NBA, bagi pelatih, bagi general manager, dan bagi banyak pihak lainnya. Kalau ada sebuah masalah muncul, dan Anda prihatin terhadap masalah itu bicaralah. Tapi janganlah berpikir bahawa setiap masalah adalah masalah setiap orang," kata James.

Sikap membatu James membuat panas para Muslim Uighur dan kelompok-kelompok yang mendukungnya.

Sebuah pertandingan antar Rockets dan Washington Wizards yang digelar 31 Oktober lalu di Washington DC diwarnai aksi protes para aktivis Uighur - yang kebanyakan dari mereka adalah warga negara AS. Para demonstran datang ke arena pertandingan itu sambil mengenakan kaos bertuliskan “Google Uyghurs”.

Mereka sengaja memelesetkan kata Uighur untuk membangkitkan kesadaran masyarakat akan nasib kelompok tertindas itu. Selama aksi protes digelar, para demonstran meneriakkan kalimat “Free Uighurs! Free Hong Kong Kong! Educate LeBron!

Para pemrotes menuding James mengetahui nasib kelompok Uighur namun tidak memperdulikannya. Mereka kemudian bercerita kepada wartawan tentang nasib buruk yang dialami mereka dan keluarga mereka.

Bahram Sintash dari Chantily mengatakan kepada Associated Press, ia kehilangan kontak dengan ibu dan saudara perempuannya di Xinjiang sejak dua tahun lalu. Ayahnya, seorang jurnalis dan cendikiawan Uighur, dimasukan ke kamp tahanan dan tidak diketahui nasibnya hingga saat ini

Sintash, yang warga negara AS, mengatkan, ia merasa sedih karena ayahnya dipenjarakan. Ia ingin masyarakat Amerika tahu keberadaan Uighur dan memberikan dukungan untuk mempertahankan eksistensi kelompok itu.

Ia menyatakan, sikapnya yang menentang pemerintah China menempatkan keluarga dan teman-temannya dalam bahaya. Namun, katanya, ia perlu berbicara karena nasib kelompok Uighur dipertaruhkan.

Pernyataan serupa dilontarkan Ferkat Jawdat dari Fairfax. Ia mengatakan, tiga hari setelah ia bertemu Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo, Maret lalu, paman dan bibinya dikirim ke kamp penahanan. Mereka masing-masing dijatuhi hukuman tujuh dan delapan tahun penjara tanpa proses pengadilan.

Ia juga menceritakan kepada Associated Press, tidak lama setelah ibunya dilepas dari kamp penahanan, seorang polisi China menghubunginya melalui aplikasi WeChat, dan memintanya untuk tutup mulut jika masih ingin bisa berbicara dengan ibunya. Polisi itu bahkan memaksa ibunya untuk meminta Jawdat tutup mulut.

Pengunjuk rasa Muslim memegang spanduk selama rapat umum di luar kedutaan besar Tiongkok di Jakarta, 21 Desember 2018. (Foto: AP)
Pengunjuk rasa Muslim memegang spanduk selama rapat umum di luar kedutaan besar Tiongkok di Jakarta, 21 Desember 2018. (Foto: AP)

Jawdat menolak. Ia mengatakan masalah Uighur bulanlah masalah mengenai ibunya lagi, tapi mengenai negara. Ia meminta pemerintah AS melindungi warga Amerika seperti dirinya dengan memaksa pemerinath Tiongkok membebaskan keluarganya dan anggota komunitas Uighur lainnya.

Pemerintah AS sebetulnya tidak tinggal diam. Di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB September lalu, Departemen Luar Negeri AS mengadakan peertemuan dengan perwakilan-perwakilan dari lebih dari 30 negara untuk mendengarkan kesaksian para penyintas kamp penahanan Uighur. Pemerintas AS juga memberlakukan larangan pemberian visa terhadap 28 entitas Tiongkok yang diduga melakukan pelanggaran HAM di Xinjiang. [ab/uh]

Lihat komentar

XS
SM
MD
LG