Tautan-tautan Akses

Kebakaran Hutan Tetap Persoalan yang Sulit Diatasi di Indonesia


Salah seorang anggota tim pemadam kebakaran berusaha mengatasi kebakaran hutan di Pemulutan, Sumatra Selatan pada Juli 2015 (foto: dok).

Ratusan "titik panas" dari kebakaran hutan terdeteksi minggu lalu di seluruh Indonesia, terbanyak dalam catatan tahun ini, yang telah menjadi masalah tahunan yang dapat diperkirakan tapi sulit diatasi.

Lima provinsi, Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan telah mengumumkan keadaan darurat, dan seorang pejabat Sumatra meminta orang-orang agar orang-orang yang melakukan pembakaran hutan ditembak. Kota-kota besar seperti Pontianak, Kalimantan Barat dan Pekanbaru, Sumatra, kadang-kadang tertutup kabut asap dari 282 kebakaran hutan.

Pertanyaan yang masih belum terjawab adalah, mengapa sulit dicapai kemajuan dalam masalah yang terus-menerus terjadi ini. 2015 adalah tahun kebakaran hutan yang mencapai rekor, karena kekeringan yang terkait dengan siklus iklim El Nino menciptakan kabut asap yang tidak pernah terjadi sebelumnya di wilayah yang mencakup Singapura dan Malaysia. Tetapi dua tahun kemudian, dalam tahun "normal" yang tidak menyangkut El Nino atau banyak kekeringan, kebakaran hutan terus terjadi dan telah menyebar ke provinsi-provinsi yang biasanya tidak mengalaminya, seperti Aceh.

Menteri Lingkungan Hidup Siti Nurbaya Bakar mengatakan hari Senin bahwa dia mengusulkan pertemuan dengan Presiden Joko Widodo untuk menangani masalah itu, tapi mungkin terlambat untuk melakukan intervensi besar di tingkat pusat dalam musim kemarau saat ini, yang akan berlangsung sampai September.

"Kabar baiknya adalah semakin banyak kemajuan yang dicapai di tingkat provinsi dan kabupaten, karena tugas-tugas mereka lebih sedikit dibanding pemerintah nasional," kata Jenna Jadin, spesialis lingkungan di Kantor Pelayanan Proyek PBB di Jakarta.

"Karena kebakaran hutan tahun 2015 yang dahsyat , pemerintah lokal, kabupaten, dan provinsi telah bangkit dan menyadari pentingnya untuk melindungi tanah mereka dengan lebih baik," tambahnya.

Kegiatan ilegal.

"Alasan 'kebakaran' adalah karena di sebagian besar tanah Indonesia terdapat gambut, yang mudah terbakar seperti batu bara," ujar Jadin.

Gambut adalah lapisan bahan organik yang padat, sebagian membusuk, dan setengah dari lahan gambut tropis di dunia terdapat di Indonesia. Pada tahun 2015, setelah terjadinya kabut asap yang hebat, Indonesia melarang penggunaan api untuk membersihkan lahan gambut, tetapi praktik tersebut terus berlanjut.

Juru bicara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Dr. Sutopo Purwo Nugroho, mengatakan pekan ini bahwa " titik-titik api terdeteksi di lahan perkebunan swasta, lahan milik masyarakat, dan di taman-taman nasional, di tempat-tempat yang sulit dijangkau". [sp/ii]

Opini Anda

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG