Tautan-tautan Akses

AS

AS Hadapi Kesulitan Layani Imigran Lansia


Desi Senior Center menyediakan makanan halal bagi para lansia di New York yang mayoritas berasal dari Bangladesh. (Foto: R. Taylor/VOA)

Seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk Amerika yang berusia di atas 65 tahun atau usia lansia, penduduk asal negara lain yang tinggal di AS juga berkembang. Di kota-kota seperti New York, di mana populasi imigran diperkirakan akan menjadi mayoritas lansia pada tahun 2020, layanan budaya yang sesuai dengan yang mereka butuhkan dihadapkan kepada kesulitan untuk memenuhinya.

Di sebuah pusat lansia asal negara Asia Selatan, Desi Senior Center, lansia asal Bangladesh dapat bersosialisasi, berdoa, menyantap makanan halal dan melakukan latihan fisik tiga hari dalam seminggu. Warga Bangladesh termasuk di antara populasi imigran yang baru saja menetap di negara ini, dan bagi mereka, bahasa Inggris bisa menjadi hambatan besar, terutama bagi manula.

"Ketika saya pertama kali datang di Amerika, saya tidak menguasai bahasa Inggris sedikitpun, dan masih sampai sekarang. Ketika saya tidur, terbayang oleh saya bagaimana besok di luar rumah ... bagaimana berkomunikasi dengan orang lain," kata Jahan Ara Amin, seorang lansia asal Bangladesh.

Christian González-Rivera, peneliti senior di Center for an Urban Future, atau Pusat Studi Masa Depan Perkotaan mengatakan, isolasi sosial umum terjadi di kalangan manula dari kelompok imigran ini, terutama kalau layanan tepat dari segi budaya dan bahasa jarang ditemukan.

“Sangat sering, kita menemukan orang tua yang merasa terisolasi karena cucu mereka tidak berbicara bahasa mereka. Mereka tenggelam dalam budaya yang terasa sangat asing bagi mereka; peran mereka sebagai orang tua mungkin berbeda di Amerika dibandingkan di negara asal mereka sendiri," ujar González-Rivera.

India Home, sebuah organisasi Asia Selatan sekuler yang mengelola Desi Senior Center dan sejumlah program di pusat-pusat lansia yang ada, dihadapkan pada masalah isolasi sosial dalam segala bentuk. Ini termasuk orang tua yang tinggal dengan keluarga mereka, yang banyak di antaranya tidak memenuhi syarat untuk memperoleh Jaminan Sosial atau tunjangan federal lainnya.

"Orang yang kami layani lebih konservatif dan lebih religius serta berorientasi pada keluarga, jadi mereka ingin bersama keluarga. Tetapi sangat sulit berkumpul sekeluarga sekarang ini karena anak-anak yang membawa mereka ke sini, anak laki-laki atau perempuan, kemungkinan mereka berada pada ambang kemiskinan pula," ungkap Nargis Ahmed, Direktur Desi Senior Center.

Tetapi keterasingan sosial umum terjadi di kalangan para manula seperti Bharat Shah, yang 25 tahun yang lalu berimigrasi dari India dan menjadi warga negara Amerika. Shah mengatakan, dia mendapat kepercayaan diri dengan berperan serta dan memimpin kelas di India Home.

"Anda harus membangun diri sendiri: bagaimana berbicara, berperilaku dengan orang lain, bagaimana mencarikan kesibukan untuk mereka, apa yang efektif, bagaimana menghibur mereka. Jadi ini memberi kita lebih banyak kesempatan untuk menunjukkan talenta kita kepada orang lain," ujarnya.

Shahs juga mengatakan, kunci untuk mempertahankan kebahagiaan mereka adalah kesehatan mereka, dan tetap memiliki kesibukan tertentu. [ps/jm]

XS
SM
MD
LG