Tautan-tautan Akses

2 Tokoh Oposisi Venezuela Dibawa Pergi dari Rumah Mereka


Tokoh oposisi Venezuela Leopoldo Lopez memegang bendera nasional saat menyambut pendukungnya di rumahnya di Caracas, Selasa (1/8).

Dua tokoh oposisi Venezuela yang dikenai tahanan rumah telah dibawa pergi dari rumah mereka oleh pasukan keamanan negara, dua hari setelah pemungutan suara kontroversial yang menyetujui pembentukan majelis nasional yang bertugas menulis ulang UU negara itu.

Keluarga Leopoldo Lopez dan Antonio Ledezma menyatakan kedua orang itu dibawa Selasa dini hari oleh anggota dinas intelijen Venezuela, Sebin. Keluarga kedua orang itu mengunggah video-video di Twitter yang memperlihatkan kedua orang itu dibawa pergi. Ledezma tampak masih mengenakan piyama.

Mahkamah Agung Venezuela mengatakan kedua tokoh itu dibawa kembali ke penjara karena “sumber-sumber intelijen resmi” memperoleh temuan mereka sedang menyusun rencana untuk melarikan diri. Mahkamah juga menyatakan Lopez dan Ledezma melanggar ketentuan-ketentuan tahanan rumah mereka, dengan melakukan kampanye politik dan membuat pernyataan kepada media.

Penjabat Asisten Menteri Luar Negeri Amerika, Francisco Palmieri memuat di Twitter bahwa Amerika prihatin atas penahanan kedua pria itu, dan menyatakan hal tersebut “membuktikan lebih jauh sifat otoriter rezim Maduro.”

Kedua tokoh oposisi itu memuat video yang mendesak pengikut mereka agar memboikot pemungutan suara Minggu lalu untuk membentuk majelis, yang disebut kubu oposisi, merupakan upaya Presiden Nicolas Maduro untuk mengubah Venezuela menjadi negara otoriter.

Lopez dan Ledezma, keduanya adalah mantan walikota, dikenai tahanan rumah atas berbagai tuduhan. Lopez baru dikenai tahanan rumah beberapa pekan silam, setelah mendekam 3,5 tahun di penjara atas tuduhan menyulut kekerasan, pada waktu berlangsung protes anti-Maduro di jalan-jalan pada tahun 2014. Ledezma divonis bersalah atas tuduhan merencanakan kudeta terhadap Maduro.

Penahanan ini berlangsung beberapa jam setelah Amerika memberlakukan sanksi-sanksi terhadap Maduro, terkait apa yang disebutnya pemilihan tidak sah sebuah majelis yang bertugas menyusun ulang konstitusi.

Seluruh aset Maduro di Amerika dibekukan dan warga Amerika dilarang melakukan transaksi apapun dengannya.

Menteri Keuangan Steven Mnuchin mengumumkan sanksi tersebut Senin di Washington, dan menyebut Maduro sebagai "diktator" yang mengabaikan kehendak rakyat Venezuela.

Maduro menunjukkan ketidakpeduliannya terhadap sanksi Senin malam, dan menggambarkan sanksi itu sebagai pertanda "keputusasaan dan kebencian Presiden Donald Trump".

"Saya tidak akan mematuhi perintah kaisar, saya tidak mematuhi pemerintah asing, saya adalah presiden dari negara yang bebas," kata Maduro.

Mnuchin tidak mengomentari kemungkinan sanksi masa depan, termasuk larangan mengimpor minyak dari Venezuela. Dia mengatakan AS akan memantau situasinya, namun "tujuan kami tidak melakukan apapun untuk melukai rakyat Venezuela."

Maduro menyalahkan kesengsaraan negara itu akibat apa yang dia sebut imperialisme AS dan para pendukungnya di Venezuela. Dia memperingatkan agar Organisasi Negara-negara Amerika tidak melakukan intervensi, katanya, hal itu pasti akan menyebabkan perang saudara. [ps/jm]

XS
SM
MD
LG