Tautan-tautan Akses

Temuan Baru Indikasikan Kondisi Mars Lebih 'Basah' pada Masa Silam


Foto yang dikirim oleh pesawat pengamat Mars milik NASA (Mars Reconnaissance Orbiter) menunjukkan endapan karbon dioksida beku di bawah permukaan kutub selatan planet Mars.

Foto yang dikirim oleh pesawat pengamat Mars milik NASA (Mars Reconnaissance Orbiter) menunjukkan endapan karbon dioksida beku di bawah permukaan kutub selatan planet Mars.

Pesawat tak berawak NASA yang mengitari Mars telah menemukan endapan besar karbon dioksida yang beku di bawah permukaan kutub selatan planet Mars.

Sebuah pesawat penyelidik antariksa Amerika yang mengitari Mars telah menemukan endapan sangat besar karbon dioksida yang beku di bawah permukaan kutub selatan planet merah itu. Para ilmuwan badan antariksa Amerika mengatakan benda tersebut memberi indikasi bahwa planet tetangga kita yang tandus dan sangat beku dalam tata surya kemungkinan pernah sebagai dunia yang lebih basah dan berbadai pada masa yang sudah lama berlalu daripada yang diyakini sebelumnya, dan bahwa planet itu dapat kembali demikian di masa depan.

Radar yang dapat menembus tanah yang ada dalam pesawat Pengamat Mars NASA yang tak-berawak itu mendeteksi adanya endapan gas CO2 yang beku dalam tanah, yang juga dinamakan es kering. Para ilmuwan sudah mengetahui adanya es kering di atas es air di kawasan kutub selatan Mars. Tetapi, endapan yang baru ditemukan ini 30 kali lebih tebal daripada taksiran sebelumnya.

Para ilmuwan NASA yakin perubahan dalam kemiringan poros Mars setiap 100 ribu tahun menghadapkan kutub selatan yang beku terhadap matahari. Sinar matahari yang memanas menyulut efek rumah kaca yang lama tetapi lemah dan banyak CO2 yang beku menguap, mempertebal atmosfir Mars, memperkuat angin dan menyebabkan badai debu yang lebih sering dan deras. Ketika planet itu akhirnya memiringkan kutub selatannya menjauhi mata-hari, gas CO2 membeku kembali di bawah permukaan.

Para pakar berspekulasi bahwa atmosfir masa lampau Mars yang lebih “kental,” dan lebih panas kemungkinan dapat menciptakan lebih banyak tempat di planet merah itu dimana cairan, air yang mengalir mungkin ada. Tetapi, mereka yakin efek rumah kaca yang lemah tidak cukup memanaskan Mars untuk mempertahankan cairan air di permukaan. Atmosfit Mars masih terlalu tipis untuk mencegah pendidihan dan penguapan cairan air itu.

Cairan air dianggap persyaratan utama untuk adanya mahluk hidup. Tetapi, para ilmuwan NASA mengatakan CO2 yang meningkat di atmosfir Mars pada waktu silam hampir tidak mempunyai dampak terhadap kemungkinan adanya mahluk hidup di Mars.

XS
SM
MD
LG