Tautan-tautan Akses

Kematian Pemain Asing Soroti Krisis Sepakbola Indonesia


Beliby Ferdinand Bengondo memegang foto mendiang saudara laki-lakinya, penyerang Kamerun Salomon Bengondo. (AFP/Adek Berry)

Beliby Ferdinand Bengondo memegang foto mendiang saudara laki-lakinya, penyerang Kamerun Salomon Bengondo. (AFP/Adek Berry)

Kematian pemain Kamerun Salomon Bengondo karena sakit, menyusul gajinya yang tidak dibayarkan, membawa krisis sepakbola Indonesia ke "level bencana."

Mimpi akan kejayaan olahraga membawa penyerang berbakat asal Kamerun, Salomon Bengondo, ke Indonesia. Namun, sayangnya, kisahnya berakhir pada kemiskinan, kesakitan dan akhirnya kematian, menyusul gajinya yang tidak kunjung dibayarkan.

Penundaan gaji oleh klub-klub Indonesia telah mencapai “level bencana” menurut serikat pemain internasional FIFPro, dan Bengondo merupakan pemain kedua yang diketahui telah meninggal setelah gajinya tidak dibayar.

Pada 2012, penyerang Paraguay Diego Mendieta meninggal karena infeksi virus setelah ia tidak mampu membayar perawatan, akibat tidak mendapat bayaran selama berbulan-bulan.

Bengondo tiba di Indonesia pada 2005, sebagai seorang atlet muda menjanjikan yang berharap dapat membangun karir di negara terbesar di Asia Tenggara ini.

“Ia punya peluang, ia memiliki harapan-harapan besar,” ujar adik laki-lakinya Beliby Ferdinand Bengondo pekan ini, di rumah mereka yang sederhana di pinggiran Jakarta.

Bengondo meninggal dunia bulan lalu pada usia 32 tahun, tidak dapat membayar perawatan rumah sakit untuk sakit yang tidak diketahui. Mantan klubnya, Persipro Bond-U, masih berutang sejumlah uang padanya, menurut Beliby dan para pejabat sepakbola Indonesia.

Seperti banyak pemain Afrika lainnya, Bengondo datang ke Indonesia untuk mencari gaji yang lebih besar. Meski bayarannya tidak setara dengan klub-klub di Eropa, Indonesia membayar gaji pemain lebih tinggi dibandingkan mereka di Afrika.

Ia berang dengan perlakuan terhadapnya sampai ia mengemis di jalanan sebagai ungkapan protes bersama teman-teman satu tim dari Afrika lainnya, namun hal itu tidak berpengaruh. “Klub tetap tidak melakukan apa pun,” ujar Ferdinand, 27.

Brendan Schwab dari FIFPro memperingatkan bahwa isu pembayaran ini telah mencapai “level bencana.”

“Kami tidak melihat satu negara pun di dunia ini yang memiliki masalah-masalah pemain sepakbola yang lebih jelas atau lebih serius dibandingkan Indonesia," ujar Schwab, kepala FIFPro divisi Asia, pada kantor berita AFP.

Tidak hanya pemain asing yang tidak dibayar. Asosiasi pemain sepakbola profesional Indonesia (APPI) menyatakan 14 klub di dua divisi papan atas negara ini masih berutang gaji dari musim 2012/2013. (AFP)

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG