Tautan-tautan Akses

Pendukung Persis Solo Demo Menyusul Kematian Pemain Asal Paraguay

  • Yudha Satriawan

Pendukung Persis Solo berdemonstrasi menuntut tanggung jawab manajemen klub sepakbola tersebut atas kematian pemain asal Paraguay, Diego Mendieta. (VOA/Yudha Satriawan)

Pendukung Persis Solo berdemonstrasi menuntut tanggung jawab manajemen klub sepakbola tersebut atas kematian pemain asal Paraguay, Diego Mendieta. (VOA/Yudha Satriawan)

Pendukung Persis Solo menyalahkan manajemen klub sepakbola tersebut atas meninggalnya pemain asal Paraguay, Diego Mendieta, akibat sakit.

Sekitar 500 orang pendukung klub sepakbola Persis Solo, yang menamakan diri mereka PASOEPATI, menggelar protes di sepanjang Jl. Slamet Riyadi Solo, Selasa Sore (4/12).

Mereka menuding manajemen Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) dan Persis Solo sebagai pihak yang bertanggung jawab atas kematian pemain klub tersebut asal Paraguay, Diego Mendieta.

Sekretaris jenderal PASOEPATI, Anwar Sanusi, mengatakan PSSI dan Persis Solo harus menanggung seluruh biaya pengobatan Mendieta dan segera melunasi gaji serta bonusnya yang tidak dibayarkan selama lima bulan.

“Kalau memang PSSI dan KPSI tidak bisa bersatu, mending bubar saja. Korbannya sudah dua, pelatih Persis Solo, Junaedi alias Bang Jun, meninggal karena sakit. Kemudian Komite Penyelamat Sepakbola Indonesia (KPSI) PSSI tandingan, pemain Persis Solo, Diego, juga meninggal karena sakit,” ujar Anwar.

“Keduanya sakit parah akibat hak berupa gaji dan bonus yang berbulan-bulan tak kunjung dibayar oleh klub, akibat dualisme sistem sepak bola nasional. Kalau hak mereka terpenuhi, pasti kesehatan mereka terjamin. Kita prihatin sekali dengan berbagai kejadian sepakbola di Solo ini.”


Diego Mendieta, pemain Persis Solo asal Paraguay. (VOA/Yudha Satriawan)

Diego Mendieta, pemain Persis Solo asal Paraguay. (VOA/Yudha Satriawan)

Diego Mendieta, meninggal di rumah sakit akibat sakit parah. Jenazahnya terlantar di rumah sakit karena tak punya biaya selama sepekan pengobatan dan perawatan di rumah sakit tersebut.

Sebelum Diego meninggal, PASOEPATI berulang kali melakukan penggalangan dana untuk meringankan biaya perawatan Diego di rumah sakit.

Sementara itu, Ketua Tim medis Rumah Sakit Dokter Moewardi Solo yang menangani Diego, Guntur Hermawan, mengatakan Diego meninggal menjelang Selasa dinihari (4/12) akibat stress dan infeksi virus yang menyerang otak,mata, dan saluran pencernaan.

“Dari hasil tes darah yang kita lakukan Diego juga positif terkena demam berdarah,” ujarnya.

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG