Tautan-tautan Akses

Kelompok Ilmuwan Kampanyekan Agar Pluto Kembali Digolongkan Jadi Planet


Pluto hampir memenuhi bingkai gambar dari Long Range Reconnaissance Imager (LORRI) yang dimuat dalam wahana angkasa New Horizons milik NASA, dalam foto yang diambil 13 Juli 2015, ketika wahana angkasa ini berada pada jarak 768.000 kilometer dari permukaan planet (foto: NASA/APL/SwRI)
Pluto hampir memenuhi bingkai gambar dari Long Range Reconnaissance Imager (LORRI) yang dimuat dalam wahana angkasa New Horizons milik NASA, dalam foto yang diambil 13 Juli 2015, ketika wahana angkasa ini berada pada jarak 768.000 kilometer dari permukaan planet (foto: NASA/APL/SwRI)

Sebuah kampanye yang mengusahakan agar Pluto kembali digolongkan sebagai planet telah diluncurkan oleh sebuah tim ilmuwan.

Sebuah tim ilmuwan yang berusaha untuk mengembalikan Pluto agar kembali digolongkan menjadi planet meluncurkan sebuah kampanye baru-baru ini untuk memperluas klasifikasi astronomi yang satu dekade lalu menurunkan statusnya menjadi “planet kerdil.”

Enam orang ilmuwan dari berbagai lembaga di Amerika Serikat berargumen bahwa Pluto layak disebut sebagai sebuah planet yang seutuhnya, bersama dengan 110 benda-benda langit lainnya di tata surya, termasuk bulan.

Dalam sebuah makalah yang disajikan dalam konferensi ilmiah internasional mengenai perplanetan di The Woodlands, Texas, para ilmuwan menjelaslam bahwa sifat-sifat geologis, seperti ciri-ciri bentuk dan permukaan planet, harus menentukan apa yang bisa digolongkan sebagai sebuah planet.

Pada tahun 2006, International Astronomical Union, berusaha keras untuk menemukan cara untu mengklasifikasikan benda langit yang diselimuti es yang ditemukan di balik Pluto, dengan mengadopsi definisi sebuah planet berdasarkan karakteristik yang termasuk di antaranya menyingkirkan benda-benda lainnya dari jalur orbitnya.

Pluto dan saudaranya yang baru ditemukan di tata surya di kawasan Kuiper Belt yang jauh diklasifikasikan ulang sebagai planet kerdil, bersama-sama dengan Ceres, benda terbesar di sabuk asteroid antara Mars dan Jupiter. Keputusan ini membuat sistem tata surya hanya menyisakan delapan planet.

Namun definisi ini menyingkirkan minat riset dari sebagian besar ilmuwan yang mempelajari sistem keplanetan, ujar penulis utama makalah tersebut, Kirby Runyon, seorang kandidat program doktor di John Hopkins University.

Runyon menyatakan ia dan para ilmuwan keplanetan lainnya lebih tertarik pada karakteristik fisik sebuah planet, seperti bentuknya dan apakah planet tersebut memiliki gunung-gunung, samudra, dan atmosfir.

“Apabila anda tertarik dalam sifat-sifat intrinsik sebuah dunia yang sesungguhnya, maka definisi IAU sia-sia,” ujarnya dalam sebuah pembicaraan lewat telepon.

Runyon dan para koleganya berargumen IAU tidak memiliki otoritas untuk menentukan definisi sebuah planet.

“Ada saat yang dapat diajarkan di sini kepada publik dari segi literasi ilmiah dan dari segi cara para ilmuwan menangani hal-hal ilmiah,” imbuh Runyon. “Dan itu tidak hanya sekedar mengatakan, ‘Mari kita sepakat akan satu hal,’ Kesepakatan semacam itu sama sekali tidak ilmiah.”

Kelompok Runyon mendukung sistem sub-klasifikasi, serupa dengan metode hirarkial dalam ilmu biologi. Pendekatan ini akan mengkategorikan bulan planet Bumi sebagai sejenis planet.

Gagasan tersebut membuat jengkel seorang astronomer asal California Institute of Technology, Mike Borwn, yang menemukan benda di Kuiper Belt yang mengeluarkan Pluto dari klasifikasi planet.

“Butuh orang-orang yang tidak mau memahami sistem tata surya dan melihat perbedaan mendalam antara delapan planet dalam orbit sirkularnya yang megah dan jutaan benda-benda kecil lainnya yang melayang keluar masuk di antara planet-planet dan disingkirkan oleh planet-planet tersebut,” tulisnya dalam sebuah surat elektronik. [ww]

XS
SM
MD
LG