Tautan-tautan Akses

WHO: Studi Tunjukkan Akses Vaksin Covid-19 yang Adil Positif untuk Ekonomi


Seorang petugas kesehatan bersiap untuk memberikan vaksin Sinovac melawan Covid-19 di Rumah Sakit Zainoel Abidin di Banda Aceh pada 21 Januari 2021. (Foto: AFP/Chaideer Mahyuddin)
Seorang petugas kesehatan bersiap untuk memberikan vaksin Sinovac melawan Covid-19 di Rumah Sakit Zainoel Abidin di Banda Aceh pada 21 Januari 2021. (Foto: AFP/Chaideer Mahyuddin)

Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO), Senin (25/1), mengatakan dua studi baru menunjukkan bagaimana penyediaan akses yang setara terhadap vaksin Covid-19 berdampak positif pada ekonomi.

Pada penjelasan singkat WHO mengenai Covid-19 di Jenewa, Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus merujuk pada kedua studi tersebut. Dia mengatakan studi-studi itu menunjukkan, tidak memberikan akses yang adil pada vaksin, tidak hanya akan menjadi “kegagalan moral yang dahsyat” tetapi juga kegagalan ekonomi.

Ia mengatakan studi baru dari Organisasi Buruh Internasional (Internatonal Labor Organization/ILO) yang menganalisa dampak pandemi Covid-19 pada pasar tenaga kerja global menunjukkan, pandemi, tahun lalu merugikan ekonomi dunia sebesar 8,8 persendari total kemungkinan jam kerja, atau setara dengan kehilangan 255 juta pekerjaan tetap.

Laporan itu memproyeksikan sebagian besar negara akan pulih pada paruh kedua 2021, tergantung pada peluncuran vaksinasi. Presiden ILO Guy Rider di antara rekomendasi lainnya menyerukan, dukungan internasional untuk negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, yang memiliki lebih sedikit sumber daya keuangan untuk meluncurkan vaksin dan mempromosikan pemulihan ekonomi dan perekrutan.

Dalam studi kedua, Tedros mengatakan Lembaga Riset Kamar Dagang Internasional (International Chamber of Commerce Research Foundation) menunjukkan kaitan erat ekonomi dengan kesetaraan memperoleh vaksin. Studi tersebut menunjukkan bahwa jika negara-negara terkaya di dunia sepenuhnya divaksinasi sementara negara-negara miskin hanya separuhnya, hal itu bisa merugikan ekonomi global sekitar $9,2 triliun. Hampir separuh dari jumlah tersebut atau $4,5 triliun akan menjadi beban negara-negara terkaya.

Tedros mencatat program akselerator Akses pada Peralatan Covid-19 (ACT) yang dikelola WHO, dan dirancang untuk menyediakan vaksin kepada negara-negara termiskin, saat ini memiliki kekurangan dana sebesar $26 miliar. Dana itu kecil dibandingkan dengan kerugian yang akan ditimbulkan karena tidak memastikan setiap negara mendapat akses terhadap vaksin.

“Jika didanai penuh, Akselerator ACT akan mengembalikan hingga $166 untuk setiap dolar yang diinvestasikan,” kata Tedros.

Mengutip studi Kamar Dagang itu Tedros mengatakan "Ini bukan amal, namun ini logika ekonomi." [my/pp]

XS
SM
MD
LG