Tautan-tautan Akses

Washington Pelajari Laporan Peretasan Rusia

  • Michael Bowman

Kubah Gedung DPR Amerika Serikat, Capitol Hill, di Washington DC (Foto: dok). Kurang dari dua pekan menjelang pelantikan presiden, Washington kini sedang mempelajari sebuah laporan intelijen Amerika yang memuat tuduhan-tuduhan paling keras dan paling rinci bahwa Rusia melakukan peretasan komputer dan taktik-taktik lain untuk mengganggu pemilu November lalu yang dimenangkan oleh Donald Trump.

Para pemimpin badan-badan intelijen pekan lalu menyampaikan kesaksian bahwa Rusia tidak menyentuh penghitungan kertas suara, tetapi mereka tidak dapat menetapkan apakah tindakan Moskow itu memengaruhi pemberian suara rakyat Amerika.

Kurang dari dua pekan menjelang pelantikan presiden, Washington kini sedang mempelajari sebuah laporan intelijen Amerika yang memuat tuduhan-tuduhan paling keras dan paling rinci bahwa Rusia melakukan peretasan komputer dan taktik-taktik lain untuk mengganggu pemilu November lalu yang dimenangkan oleh Donald Trump.

Bersamaan dengan persiapan akhir bagi upacara ritual paling penting di Washington, yakni pengalihan kekuasaan secara damai, reaksi masih terus muncul berkenaan dengan laporan intelijen Amerika bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin mengarahkan suatu usaha dunia maya yang dimaksudkan untuk membantu mendorong Donald Trump meraih kemenangan.

“Laporannya sangat jelas. Nomor satu, Rusia berusaha mencampuri proses pemilihan. Bahwa peretasan internet yang dilakukan Rusia itu adalah bagian dari usaha tersebut, dan bahwa mereka memiliki pilihan yang jelas dalam hal hasil pemilu,” kata Presiden Barack Obama dalam acara TV ABC This Week.

Presiden Barack Obama mengatakan ia “menyepelekan” kemampuan sebuah negara asing untuk mencampuri proses demokrasi Amerika.

“Rusia berniat mencampuri, dan mereka benar-benar melakukannya.”

Jumat lalu, presiden terpilih Donald Trump menerima briefing mengenai laporan intelijen. Ketika ditanya apakah Trump menerima temuan-temuan laporan tersebut, penasihat seniornya, KellyAnne Conway mengatakan kepada NBC bahwa Rusia “tidak berhasil” dan Trump “menang secara jujur dan adil.” Trump sendiri memanfaatkan Twitter untuk mengatakan bahwa laporan intelijen menyatakan “sama sekali tidak ada bukti bahwa peretasan memengaruhi hasil pemilu.”

Para pemimpin badan-badan intelijen pekan lalu menyampaikan kesaksian bahwa Rusia tidak menyentuh penghitungan kertas suara, tetapi mereka tidak dapat menetapkan apakah tindakan Moskow itu memengaruhi pemberian suara rakyat Amerika.

Sementara itu, janji Trump untuk meningkatkan hubungan Amerika-Rusia mungkin akan dirongrong oleh aksi bipartisan di Kongres.

“Tidak diragukan lagi bahwa Rusia meretas, menyerang dan mencuri informasi serta menjadikannya senjata dalam menghadapi Amerika Serikat dan kita perlu memberlakukan sanksi-sanksi yang lebih keras lagi,” kata Senator dari partai Demokrat Richard Blumenthal.

“Tidak diragukan lagi bahwa Rusia melakukannya, tetapi Iran dan China mungkin melakukannya lain waktu. Sekarang partai Demokrat yang diserang dan besok mungkin partai Republik jika kita tidak menghentikan ini,” kata Senator Lindsey Graham dari Partai Republik.

Rusia terus menerus membantah peran apapun dalam peretasan atau penyebaran informasi dari sumber-sumber Partai Demokrat. [uh/ab]

XS
SM
MD
LG