Tautan-tautan Akses

Wartawan Jepang yang Dibebaskan Laporkan Penyiksaan Tahanan di Myanmar


Wartawan Jepang Yuki Kitazumi, yang ditangkap aparat keamanan saat meliput pasca kudeta Myanmar, tiba di Bandara Narita di Narita, Prefektur Chiba pada 14 Mei 2021. (Foto: AFP)

Seorang jurnalis Jepang yang dibebaskan dari penjara Myanmar mengatakan, Jumat (21/5), bahwa para interogator militer dan polisi berulang kali bertanya kepadanya mengenai teman, klien, dan tuduhan yang dibuat-buat.

Yuki Kitazumi, seorang jurnalis lepas dan mantan reporter berita bisnis Nikkei Jepang, juga mengatakan sejumlah narapidana lain memberitahunya tentang pelanggaran yang mereka derita di tangan pihak berwenang, termasuk pemukulan berulang-ulang selama interogasi tanpa henti selama berhari-hari.

Kitazumi ditahan di penjara Insein yang terkenal kejam di Yangon selama sebulan sebelum dibebaskan dan kembali ke Jepang minggu lalu. Ia ditangkap oleh pihak berwenang saat berada di negara itu setelah kudeta militer Februari lalu dan dituduh melakukan sejumlah pelanggaran, termasuk tetap tinggal di negara itu setelah masa berlaku visanya berakhir.

Junta militer yang berkuasa mengatakan ia dibebaskan sebagai isyarat persahabatan dengan Jepang.

Wartawan Jepang Yuki Kitazumi mengangkat tangannya saat ia dikawal oleh polisi setibanya di kantor polisi Myaynigone di kota Sanchaung di Yangon, Myanmar, 26 Februari 2021. (Foto: AP)
Wartawan Jepang Yuki Kitazumi mengangkat tangannya saat ia dikawal oleh polisi setibanya di kantor polisi Myaynigone di kota Sanchaung di Yangon, Myanmar, 26 Februari 2021. (Foto: AP)

Saat di penjara, Kitazumi mengaku bertemu dengan sejumlah tahanan politik yang menjadi temannya. Ia mengatakan mereka berbagi berita dan membahas keprihatinan mereka tentang perkembangan di Myanmar dan masa depan negara itu. Mereka juga menceritakan berbagai tindakan pelecehan yang mereka alami sebelum dan selama penahanan.

Mereka juga meminta Kitazumi untuk melaporkan apa yang terjadi di Myanmar ke seluruh dunia sekembalinya ke Jepang. Tanpa alat tulis, Kitazumi mencatat sejumlah informasi penting dengan memanfaatkan bulu burung, kopi dan jus anggur. Ia mencelupkan bulu burung itu ke dalam kopi atau jus anggur untuk menulis memo di atas kertas bekas.

Kudeta 1 Februari, yang menggulingkan pemerintahan terpilih Aung San Suu Ky, membalikkan kemajuan menuju demokrasi di Myanmar yang telah dicapai selama bertahun-tahun setelah lima dekade pemerintahan militer. Kudeta itu ditanggapi dengan penolakan publik yang meluas yang menyatakan militer telah mencoba untuk membungkam dengan paksa, termasuk membunuh orang-orang yang melakukan protes di jalan-jalan dan memenjarakan para aktivis dan jurnalis.

Bahkan selama pemerintahan sipil, pasukan keamanan Myanmar telah dituduh melakukan berbagai pelanggaran, terutama terhadap Muslim Rohingya. Ratusan ribu orang dari kelompok minoritas itu terpaksa melarikan diri dari tindakan yang dianggap AS sebagai genosida.

“Meskipun saya dibebaskan, tidak ada masalah di Myanmar yang terselesaikan, '' kata Kitazumi pada konferensi pers online yang diselenggarakan oleh Klub Koresponden Asing Jepang.

Kitazumi mengatakan para tahanan lain memberitahunya tentang berbagai tindak pelanggaran yang mereka derita sebelum datang ke Insein.

Ia mengatakan sejumlah dari mereka menggambarkan bahwa mata mereka tertutup, diborgol di belakang punggung dan dipaksa berlutut di lantai beton saat diinterogasi dalam posisi itu, terkadang selama berhari-hari tanpa tidur atau istirahat. Ia mengatakan setiap komentar negatif mengenai junta dihadiahi pukulan.

Kitazumi mengatakan mendapat perlakuan yang jauh lebih baik selama interogasinya sendiri dan tidak mengalami penyiksaan seperti itu. Ia mengatakan para interogatornya hanya menggebrak meja dan berteriak.

Sejumlah pejabat berulang kali bertanya kepadanya tentang apa yang menurutnya tuduhan tidak benar bahwa ia telah membeli dan memberikan rekaman video kepada seorang teman Myanmarnya.

Myawaddy TV yang dioperasikan oleh militer Myanmar mengatakan Kitazumi ditangkap karena menghasut pembangkangan sipil dan kerusuhan antimiliter. Kitazumi juga menjadi jurnalis asing pertama yang dituduh melanggar peraturan visa di bawah undang-undang baru yang oleh pers negara itu digambarkan untuk mengincar berita bohong.

Terlepas dari dakwaan tersebut, Kitazumi mengatakan bahwa ia tidak pernah ditanyai dalam persidangan tentang detail cerita atau rekamannya yang sebagian besar dikirim dan diterbitkan di Jepang. Ia yakin penangkapannya merupakan peringatan bagi jurnalis asing lainnya.

Dengan pembebasannya, semua dakwaan dibatalkan, katanya.

Sekitar 80 jurnalis telah ditangkap sejak kudeta. Hampir setengahnya masih ditahan. [ab/uh]

Recommended

XS
SM
MD
LG