Tautan-tautan Akses

Wartawan Bangladesh Protes Keras Penangkapan yang Kontroversial


Monorom Polok (kiri), anak dari wartawan Shafiqul Islam Kajol (kanan) yang dinyatakan hilang baru-baru ini, memberikan keterangan kepada media di National Press Club, Dhaka, 13 Maret 2020 (photos: STR / AFP - archive).

Sebuah serikat wartawan Bangladesh menyatakan kemarahan atas penahanan baru-baru ini dan vonis satu tahun terhadap Ariful Islam, koresponden Bangla Tribune.

Menurut laporan media berita setempat, Ariful ditangkap di rumahnya atas tuduhan terkait narkoba pada 14 Maret dini hari lalu dan segera dijatuhi hukuman dalam pengadilan keliling yang dilaksanakan oleh satu satgas pemerintah Kurigram.

Sampadak Parishad (Dewan Redaktur) yang berbasis di Dhaka mengeluarkan pernyataan yang menyebut tuduhan narkoba itu merupakan bagian dari kampanye bermotif politik untuk membungkam Ariful terkait pekerjaannya sebagai jurnalis.

Dewan itu menekankan agar Ariful segera dibebaskan serta menuntut pengunduran diri serta diambilnya tindakan terhadap Deputi Komisaris Kurigram Sultana Pervin, yang terlibat dalam mengarahkan penangkapan itu.

Pengadilan Tinggi Dhaka hari Minggu menanggapi permintaan atasan Ariful dengan memberinya pembebasan dengan jaminan dan menyerukan para pejabat Kurigram agar menyerahkan semua dokumen yang relevan, terkait dengan tuduhan dan vonis terhadap Ariful. Pengadilan juga meminta agar semua dokumen yang mendukung pembentukan satgas distrik dan pengadilan keliling Kurigram.

Debashish Bhattcharyya, wakil jaksa agung Kurigram district, membela tugas satgas itu, seraya menegaskan bahwa penahanan Ariful mengikuti standar prosedur pengadilan keliling.

Arifal, yang bebas dengan jaminan pada Minggu siang, dibawa ke Rumah Sakit Umum Kurigram, di mana ia mengatakan kepada sesama wartawan bahwa ia mengalami penyiksaan berjam-jam.

Dokter mengukuhkan adanya cedera di tubuh Ariful, “terutama di tangan, kaki, punggung dan kepalanya.”

Penangkapan Ariful memicu demonstrasi di Bangladesh, di mana laporan mengenai intimidasi, serangan fisik, penganiayaan dan penyiksaan jurnalis meningkat.

Penangkapan yang kontroversial akhir pekan ini berlangsung di tengah-tengah hilangnya wartawan foto Dhaka, Shafiqul Islam Kajol, yang juga editor di majalan dua mingguan Pakkhakal.

Keluarga Kajol hari Jumat melaporkan ke polisi yang menyatakan Kajol tidak terlihat sejak 10 Maret, hanya satu hari setelah ia, bersama dengan 31 sejawatnya, disebut dalam pengaduan mengenai pencemaran nama baik yang diajukan Saifuzzaman Shikhor, seorang anggota parlemen dari partai yang berkuasa, Liga Awami.

Sampadak Parishad juga menuntut pencabutan laporan pencemaran nama baik itu.

Kasus Ariful dijadwalkan akan digelar dalam sidang di Pengadilan Tinggi Dhaka pada 23 Maret mendatang.

Organisasi "Reporters Without Borders" yang berbasis di Paris menempatkan Bangladesh di peringkat 150 dari 180 negara dalam Indeks Kebebasan Pers Dunia 2019, suatu penurunan dari peringkatnya pada tahun 2018. [uh/ab]

Recommended

XS
SM
MD
LG