Tautan-tautan Akses

Warga Korsel Bingung dan Muak pada Kekerasan Terkait Pemilu di AS


Para pendukung Presiden Trump saat menguasai Gedung DPR AS, Capitol Hill, 6 Januari 2021. (Foto: dok).

Korea Selatan, yang perkembangan politik dan sistem pemerintahannya telah lama dipengaruhi sebagian oleh AS, bingung atas kekerasan pascapemilu pekan ini di Washington DC.

Para pengunjuk rasa, yang marah atas kekalahan Presiden Donald Trump dalam pemilu di AS baru-baru ini, memasuki Gedung Kongres secara paksa pada hari Rabu, berkelahi dengan polisi, merusak kantor Kongres, dan memicu kekacauan, termasuk ketegangan bersenjata, yang mengakibatkan para legislator dievakuasi untuk sementara.

Polisi di Gedung Kongres menembak mati seorang perempuan setelah ia berusaha menerobos penghalang di dalam gedung, sementara tiga lainnya tewas karena masalah “darurat medis” yang tidak disebutkan, kata polisi. Polisi juga menyatakan menemukan dua bom pipa di luar kantor Komite Nasional Demokrat dan Komite Nasional Republik.

Banyak orang di Korea Selatan, yang sebelumnya diperintah oleh orang kuat militer tetapi sekarang secara konsisten dianggap sebagai salah satu demokrasi terkuat di Asia, menyatakan bingung dan muak atas peralihan kekuasaan yang bergejolak di Washington.

“Saya benar-benar tidak mengerti bagaimana ini dapat terjadi,” kata Yang Seung-hyun, pengusaha berusia 41 tahun di kawasan Sinchon, Seoul, kepada VOA. “Saya tidak tahu persis bagaimana kaitannya dengan politik Korea Selatan, tetapi saya tahu pasti ini tidak terlihat baik.”

Pemerintah Korea Selatan belum berkomentar mengenai penerobosan dengan kekerasan ke Gedung Kongres. Tetapi legislator senior Song Young-gil, anggota Partai Demokrat yang berkuasa, menulis di Facebook bahwa insiden itu “mengungkapkan sisi memalukan AS.”

“Perilaku semacam ini dapat dimanfaatkan para diktator yang ingin menjustifikasi perilaku mereka,” tambah Song tanpa merincinya. “Saya ingin melihat Amerika Serikat memulihkan sistemnya,” lanjutnya. [uh/ab]

Recommended

XS
SM
MD
LG