Tautan-tautan Akses

Warga Biasa Bantu Migran Rohingya dan Bangladesh

Beberapa migran putus asa setelah angkatan laut Thailand menghalau kapal mereka dari negara itu, di perairan dekat pulau Koh Lipe (16/5). ​(Reuters/Aubrey Belford)
1/14 Beberapa migran putus asa setelah angkatan laut Thailand menghalau kapal mereka dari negara itu, di perairan dekat pulau Koh Lipe (16/5). ​(Reuters/Aubrey Belford)
Para migran Rohingya, yang tiba di Indonesia dengan kapal, menerima perawatan medis di dalam tempat penampungan sementara di Kuala Langsa, di Aceh (16/5). (Reuters/Beawiharta)
2/14 Para migran Rohingya, yang tiba di Indonesia dengan kapal, menerima perawatan medis di dalam tempat penampungan sementara di Kuala Langsa, di Aceh (16/5). (Reuters/Beawiharta)
Sebuah kapal angkatan laut Malaysia berpatroli di perairan dekat pulau Langkawi (17/5). ​Kapal-kapal Malaysia hari Sabtu mencegah sebuah kapal berisi migran masuk ke Malaysia, mengabaikan seruan PBB untuk penyelamatan segera. (Reuters/Olivia Harris)
3/14 Sebuah kapal angkatan laut Malaysia berpatroli di perairan dekat pulau Langkawi (17/5). ​Kapal-kapal Malaysia hari Sabtu mencegah sebuah kapal berisi migran masuk ke Malaysia, mengabaikan seruan PBB untuk penyelamatan segera. (Reuters/Olivia Harris)
Petugas imigrasi Indonesia mencatatkan seorang perempuan Rohingya, yang tiba di Aceh dengan kapal, di dalam tempat penampungan sementara di Kuala Langsa, Aceh (16/5). (Reuters/Beawiharta)
4/14 Petugas imigrasi Indonesia mencatatkan seorang perempuan Rohingya, yang tiba di Aceh dengan kapal, di dalam tempat penampungan sementara di Kuala Langsa, Aceh (16/5). (Reuters/Beawiharta)
Seorang migran menerima perawatan medis di Kuala Langsa, Aceh (16/5). ​(Reuters/Roni Bintang)
5/14 Seorang migran menerima perawatan medis di Kuala Langsa, Aceh (16/5). ​(Reuters/Roni Bintang)
Para migran Rohingya membagikan pasokan makanan yang dijatuhkan oleh helikopter militer Thailand di atas kapal yang terapung di perairan Thailand, lepas pantai pulau Koh Lipe di Laut Andaman (14/5). ​(AFP/Christophe Archambault)
6/14 Para migran Rohingya membagikan pasokan makanan yang dijatuhkan oleh helikopter militer Thailand di atas kapal yang terapung di perairan Thailand, lepas pantai pulau Koh Lipe di Laut Andaman (14/5). ​(AFP/Christophe Archambault)
Seorang nelayan tidur di perahunya, sebelah kapal yang membawa para Muslim Rohingya dari Myanmar dan migran dari Bangladesh di pelabuhan Lhokseumawe, Aceh (14/5). ​(AP/Binsar Bakkara)
7/14 Seorang nelayan tidur di perahunya, sebelah kapal yang membawa para Muslim Rohingya dari Myanmar dan migran dari Bangladesh di pelabuhan Lhokseumawe, Aceh (14/5). ​(AP/Binsar Bakkara)
Polisi berjaga-jaga saat para pria etnis Rohingya yang baru tiba berkumpul di tempat penampungan sementara di Lhoksukon, Aceh (13/5). ​(AP/Binsar Bakkara)
8/14 Polisi berjaga-jaga saat para pria etnis Rohingya yang baru tiba berkumpul di tempat penampungan sementara di Lhoksukon, Aceh (13/5). ​(AP/Binsar Bakkara)
Para migran diangkut dengan truk dari fasilitas penahanan sementara ke markas angkatan laut di pulau Langkawi, Malaysia (13/5). ​(AP/Vincent Thian)
9/14 Para migran diangkut dengan truk dari fasilitas penahanan sementara ke markas angkatan laut di pulau Langkawi, Malaysia (13/5). ​(AP/Vincent Thian)
Sekelompok migran Rohingya dan Bangladesh di tempat penampungan di Lhoksukon, Aceh (13/5). (Reuters/Roni Bintang)
10/14 Sekelompok migran Rohingya dan Bangladesh di tempat penampungan di Lhoksukon, Aceh (13/5). (Reuters/Roni Bintang)
Seorang anak dari etnis Rohingya makan di dalam tempat penampungan setelah diselamatkan, bersama dengan ratusan lainnya dari kapal, di Lhoksukon, Aceh (12/5). ​(Reuters/Roni Bintang)
11/14 Seorang anak dari etnis Rohingya makan di dalam tempat penampungan setelah diselamatkan, bersama dengan ratusan lainnya dari kapal, di Lhoksukon, Aceh (12/5). ​(Reuters/Roni Bintang)
Para migran Rohingya makan sarapan di dalam tempat penampungan di Lhoksukon, Aceh (12/5). ​(Reuters/Roni Bintang)
12/14 Para migran Rohingya makan sarapan di dalam tempat penampungan di Lhoksukon, Aceh (12/5). ​(Reuters/Roni Bintang)
Para migran Rohingya tidur berdesak-desakan di tempat penampungan di Lhoksukon, Aceh (11/5). (Reuters/Roni Bintang)
13/14 Para migran Rohingya tidur berdesak-desakan di tempat penampungan di Lhoksukon, Aceh (11/5). (Reuters/Roni Bintang)
Para imigran ilegal dari Myanmar dan Bangladesh tiba di gedung serbaguna kantor polisi Langkawi, Malaysia (11/5). (AP/Hamzah Osman)
14/14 Para imigran ilegal dari Myanmar dan Bangladesh tiba di gedung serbaguna kantor polisi Langkawi, Malaysia (11/5). (AP/Hamzah Osman)
Previous slide
Next slide

Respon publik terhadap para pengungsi sangat mengharukan dan pemerintah-pemerintah diminta mengikuti contoh ini dan membiarkan orang-orang itu mendarat secepat mungkin.

Untuk ratusan migran yang terdampar di laut dalam kapal-kapal buruk, uluran tangan yang menolong datang bukan dari pemerintah tapi dari nelayan-nelayan yang menarik mereka supaya selamat.

Keputusasaan migran-migran dari Myanmar dan Bangladesh tidak membuat para negara tetangga menampung mereka, tapi telah mendorong belas kasih dan permintaan akan bantuan dari masyarakat umum di seluruh Asia Tenggara.

Warga Malaysia yang bersimpati telah meluncurkan inisiatif donasi untuk membantu memberi makan para migran yang telah membanjiri pantai mereka dalam dua minggu terakhir. Di Aceh, tempat para nelayan menyelamatkan tiga kapal minggu lalu dan menyelamatkan 900 nyawa, warga desa telah menyumbangkan pakaian dan makanan rumahan.

Kelompok bantuan memperkirakan ribuan lagi migran, yang melarikan diri dari penyiksaan di Myanmar dan kemiskinan di Bangladesh, terdampar di Laut Andaman setelah razia terhadap pedagang manusia mendorong para kapten dan penyelundup menelantarkan kapal-kapal mereka.

Namun lebih dari dua minggu dalam krisis kemanusiaan, sikap pemerintah-pemerintah Asia Tenggara tetap tidak berubah -- tidak ada yang mau menampung para migran ini, khawatir hal itu akan menyebabkan banjir kedatangan.

Sebuah kartun politik di koran The Nation di Thailand, hari Senin (18/5), merangkum reaksi tersebut, menunjukkan sebuah kapal berisi pengungsi Rohingya Muslim ditendang kembali ke laut oleh orang-orang di pantai Thailand, Malaysia, Indonesia, Myanmar dan Bangladesh.

"Di satu sisi, kita melihat pemerintah ribut dan kesulitan menemukan cara mengatasi orang-orang perahu ini. Namun di sisi lain, menggembirakan melihat orang-orang di wilayah ini telah merespon dengan sangat dermawan terhadap orang-orang kapal ini," ujar Vivian Tan, juru bicara badan PBB untuk pengungsi, UNHCR, di Bangkok.

"Respon publik mengharukan dan pemerintah-pemerintah betul-betul perlu mengikuti contoh ini dan membiarkan orang-orang itu mendarat secepat mungkin," ujar Tan.

Seorang cendekiawan Muslim terkemuka di Malaysia mengatakan pemerintah masih mencari pesawat Malaysia Airlines yang diyakini telah jatuh ke laut lebih dari setahun yang lalu, "sementara yang masih hidup dibiarkan mati di laut."

"Di mana rasa kemanusiaan kita?" ujar Asri Zainal Abidin, mufti negara di Malaysia, dalam halaman Facebook-nya.

Aktivis sosial Malaysia terkenal, Marina Mahathir, yang juga anak dari bekas perdana menteri Mahathir Mohamad, minggu lalu meminta siapa pun yang memiliki kapal atau perahu yang layak berlayar untuk mengirimkan bantuan kepada para migran yang masih terkatung-katung di lautan.

"Kekhawatiran utama kami adalah mereka yang masih di lautan karena ini adalah krisis kemanusiaan yang nyata. Kita harus memberikan solusi. Saya kira kita tidak dapat cuci tangan dalam masalah ini," ujarnya.

Petisi daring telah muncul di Malaysia dan Indonesia untuk meletakkan kemanusiaan sebelum politik dan menampung para migran tersebut.

Namun para pejabat Malaysia telah mengatakan mereka tidak akan menampung lebih banyak pengungsi. Malaysia adalah tujuan utama sebagian besar migran ini, menampung lebih dari 45.000 warga Rohingya selama bertahun-tahun.

Pemerintah Indonesia telah meminta warga desa dengan pengeras suara untuk tidak terlalu dekat dengan para migran yang ditarik ke pantai Aceh timur oleh para nelayan, karena takut mereka dapat menyebarkan penyakit.

Namun warga mengabaikan perintah tersebut. Ratusan telah datang ke dua gudang yang dipakai untuk menampung para migran sejak mereka datang Jumat lalu, membawa nasi, mie instan, pakaian dan bahkan masakan rumah.

"Kita harus menolong mereka, karena mereka saudara kita," ujar Hayaturrahman Djakfar, yang datang dengan sekelompok orang untuk menyumbangkan sarung, handuk, kerudung, baju anak dan makanan.

"Dan karena mereka berjuang untuk hidup yang lebih baik dan perlindungan. Tidak ada alasan untuk tidak menolong mereka."

This item is part of
XS
SM
MD
LG