Tautan-tautan Akses

Wabah Hambat Usaha Selamatkan Badak Putih dari Kepunahan


Badak putih Najin, salah satu dari dua badak putih utara terakhir di planet ini, di kandangnya di Ol Pejeta Conservancy, Kenya, 23 Agustus 2019. (Foto: dok)
Badak putih Najin, salah satu dari dua badak putih utara terakhir di planet ini, di kandangnya di Ol Pejeta Conservancy, Kenya, 23 Agustus 2019. (Foto: dok)

Usaha untuk menyelamatkan badak putih utara dari kepunahan terjegal wabah virus corona. Para pakar badak di Suaka Ol Pejeta di Kenya tidak bisa mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk mengembangbiakkan badak tersebut melalui fertilisasi in vitro karena kebijakan pembatasan perjalanan.

“Terhambat oleh Covid-19,” kata Richard Vigne, direktur pelaksana suaka itu, Senin (25/5), di mana dua badak putih utara terakhir di dunia tersebut berada. “Kami tidak bisa mengambil sel-sel telur dari badak-badak betina itu, dan kami terpaksa menunda usaha mengembangkan teknik untuk mentransplantasikan embrio badak putih utara ke badak putih selatan.”

Kedua badak putih utara itu berjenis kelamin betina, dan sudah tergolong tua. Para pakar telah berhasil menginseminasi sel-sel telur kedua betina itu dengan sel-sel sperma yang dibekukan sebelumnya dari badak putih utara jantan yang sudah lama mati.

Najin (kanan) dan anaknya, Fatou, dua ekor badak putih terakhir yang masih hidup di Olpejeta Conservancy, Laikipia National Park, Kenya, 31 Maret 2018. (Foto: dok).
Najin (kanan) dan anaknya, Fatou, dua ekor badak putih terakhir yang masih hidup di Olpejeta Conservancy, Laikipia National Park, Kenya, 31 Maret 2018. (Foto: dok).

Hingga Januari, mereka telah berhasil menciptakan tiga embrio yang siap ditempatkan di rahim badak putih selatan, dan sementara ini diawetkan dalam cairan nitrogen. Mereka tidak bisa menempatkan embrio itu di rahim badak putih utara karena sudah tua, dan akan berusaha menanamkannya di rahim badak putih selatan. Namun, langkah-langkah penting berikutnya terpaksa harus menunggu karena larangan perjalanan yang diberlakukan banyak negara.

“Ini usaha internasional yang melibatkan banyak pakar dari Kenya, Republik Ceko, Jerman dan Italia. Mereka tidak bisa melakukan perjalanan karena penutupan perbatasan dan pembatasan perjalanan,” kata Vigne.

Rencananya, mulai bulan Maret lalu, para pakar itu akan mencoba mentransplantasikan embrio. Namun mengingat usaha ini kemungkinan sulit karena melibatkan spesies yang berbeda, mereka harus menyediakan embrio cadangan. Mereka harus secara teratur memanen sel telur dari badak putih betina utara yang masih hidup namun sudah tua.

Transplantasi embrio pada badak putih juga relatif sulit. Tujuh dari delapan transplantasi embrio badak putih selatan, bukan badak putih utara yang telah dilakukan mengalami kegagalan. [ab/uh]

XS
SM
MD
LG