Organisasi-organisasi bantuan kemanusiaan yang beroperasi di Bangladesh selatan mengatakan jika terjadi wabah COVID-19 dalam pekan atau bulan-bulan mendatang, mereka mungkin menghadapi kekurangan staf, pasokan dan peralatan, yang akan memaksa mereka menjatah pengobatan dan memutuskan hanya pasien yang paling parah yang mendapat penanganan yang diperlukan untuk bertahan hidup.
Lebih dari 3 juta orang di distrik Cox’s Bazar, termasuk sekitar 860.000 pengungsi etnis Rohingya, tinggal di kamp-kamp yang kumuh dan sesak. Mayoritas pengungsi itu melarikan diri dari tindakan keras militer di negara tetangga Myanmar yang dimulai pada akhir 2017.
Sampai Jumat (5/6), terdapat 29 kasus COVID-19 yang dikukuhkan di kamp-kamp pengungsi itu, ditambah satu orang Rohingya yang meninggal karenanya. Tim medis sedang menyiapkan eskalasi kasus.
Ada 18 ventilator yang tersedia untuk pasien COVID-19 di pusat kota Cox's Bazar, menurut Organisasi Kesehatan Dunia. Namun, perlu waktu berjam-jam untuk melakukan perjalanan ke sana dari kamp-kamp pengungsi.
Dalam beberapa bulan ini, organisasi-organisasi bantuan telah membuka lima pusat isolasi dan perawatan bagi pasien COVID-19 di kamp-kamp dan komunitas terdekat, dengan harapan menambah tujuh pusat pada bulan Juli dengan total 1.130 tempat tidur.
Badan-badan bantuan mengatakan, itu akan menjadi kemajuan yang sangat besar dalam waktu singkat, tetapi mengingat betapa mudah COVID-19 menyebar dan betapa padat kamp-kamp itu, tim medis tetap bersiap menghadapi kemungkinan skenario terburuk.[ka/pp]