Tautan-tautan Akses

Wabah Corona Makin Meluas di Thailand Menjelang Songkran


Para petugas memasang dekorasi menjelang perayaan Tahun Baru Buddha di Thailand, yang secara lokal dikenal sebagai Songkran, di Jalan Khaosan di Bangkok, 8 April 2021. (Mladen ANTONOV / AFP)

Pihak berwenang Thailand, Jumat (9/4), masih kesulitan mengendalikan wabah virus corona yang kian meluas hanya beberapa hari sebelum liburan Songkran. Liburan tahun baru tradisional negara ini menjadi keprihatinan pemerintah karena pada saat itu jutaan orang biasanya melakukan perjalanan ke berbagai penjuru negara itu.

Sejumlah pejabat kesehatan melaporkan 559 infeksi baru lainnya secara nasional pada Jumat, menyusul peningkatan 405 kasus baru dan 334 kasus baru dalam dua hari sebelumnya. Pihak berwenang telah menanggapinya dengan memerintahkan penutupan tempat hiburan di 41 provinsi selama dua pekan mulai Sabtu, sementara sejumlah gubernur membatasi pelancong yang datang dari tempat lain ke provinsi mereka.

Penumpang duduk di ruang tunggu di Stasiun Kereta Hua Lamphong, Bangkok, Thailand, Jumat, 9 April 2021.
Penumpang duduk di ruang tunggu di Stasiun Kereta Hua Lamphong, Bangkok, Thailand, Jumat, 9 April 2021.

Peningkatan kasus baru harian setinggi itu jarang terjadi di Thailand, yang dinilai berhasil menanggulangi pandemi virus corona jauh lebih baik daripada banyak negara lain. Thailand mengambil langkah-langkah keras, termasuk kontrol perbatasan yang ketat yang telah menghancurkan industri pariwisata yang menguntungkan negara itu.

Thailand juga kadang-kadang bereksperimen dengan segala hal, mulai dari pemberlakuan jam malam dan larangan minuman beralkohol hingga penutupan sekolah, pusat perbelanjaan, dan restoran.

Baik para pelancong maupun bisnis sama-sama berharap liburan Songkran tahun ini dapat berlanjut tanpa lonjakan kasus baru. Liburan resmi itu dibatalkan tahun lalu untuk memperlambat penyebaran penyakit, karena bertepatan dengan munculnya wabah besar pertama di negara itu.

Seorang polisi berpatroli dengan mengendarai sepeda motor di kawasan bisnis hiburan dan pariwisata di Bangkok, saat pemerintah menutup lokasi ini di tengah pandemi COVID-19, 8 April 2021. (Foto: ANTONOV / AFP)
Seorang polisi berpatroli dengan mengendarai sepeda motor di kawasan bisnis hiburan dan pariwisata di Bangkok, saat pemerintah menutup lokasi ini di tengah pandemi COVID-19, 8 April 2021. (Foto: ANTONOV / AFP)

Pemerintah nasional sejauh ini menolak untuk mengeluarkan larangan bepergian tahun ini, meskipun otoritas provinsi diizinkan untuk menetapkan aturan karantina bagi orang-orang yang datang dari zona berisiko tinggi seperti Bangkok. Beberapa provinsi telah melakukannya, sehingga mengacaukan rencana perjalanan banyak orang.

Wabah saat ini adalah yang terbesar di negara itu sejak Desember, sewaktu pasar makanan segar, yang mempekerjakan sejumlah pekerja migran dari Myanmar, menjadi pusat penyebarannya.

Wabah kali ini diduga berasal dari sejumlah bar dan tempat hiburan malam lainnya di jantung kota Bangkok, termasuk yang sering dikunjungi orang-orang kaya dan berpengaruh. Jumlah kasus baru sekarang meningkat di setidaknya 20 provinsi, dan pihak berwenang mengatakan beberapa dari kasus baru adalah varian virus yang lebih menular yang pertama kali terdeteksi di Inggris.

Seorang turis mendorong kopernya sendirian, saat para pekerja memasang dekorasi menjelang perayaan Tahun Baru Buddha di Thailand, yang secara lokal dikenal sebagai Songkran, di Jalan Khaosan, Bangkok, 8 April 2021. (Foto: Mladen ANTONOV / AFP)
Seorang turis mendorong kopernya sendirian, saat para pekerja memasang dekorasi menjelang perayaan Tahun Baru Buddha di Thailand, yang secara lokal dikenal sebagai Songkran, di Jalan Khaosan, Bangkok, 8 April 2021. (Foto: Mladen ANTONOV / AFP)

Wabah kali ini yang telah menginfeksi setidaknya satu menteri Kabinet dan memaksa sejumlah pejabat tinggi pemerintah lainnya melakukan karantina mandiri, meningkatkan kritik terhadap pemerintah Perdana Menteri Prayuth Chan-ocha dan penanganannya terhadap pandemi.

Sementara Thailand hanya mencatat 30.869 infeksi dan 96 kematian sejak pandemi dimulai, para kritikus mengatakan pemerintah belum berbuat cukup terkait dengan vaksinasi atau dukungan bagi orang-orang yang mata pencahariannya hilang akibat pandemi.

Thailand telah memvaksinasi kurang dari satu persen dari 69 juta penduduknya dan memiliki pasokan vaksin Sinovac dan AstraZeneca yang relatif kecil. Meskipun melangsungkan sejumlah program vaksinasi yang mendapat banyak sorotan media -- termasuk imunisasi para pekerja di tempat-tempat hiburan yang sekarang ditutup di daerah yang terkena wabah terbaru, masih belum jelas kapan masyarakat umum akan bisa mendapatkan vaksin. [ab/uh]

XS
SM
MD
LG