Tautan-tautan Akses

Volatilitas, Ketidakpastian Timbul Akibat Eskalasi Perang Dagang AS-China


Suku bunga Bank Sentral AS (The Fed) di lantai bursa New York Stock Exchange (NYSE), New York, 31 Juli 2019. (Foto: dok).
Suku bunga Bank Sentral AS (The Fed) di lantai bursa New York Stock Exchange (NYSE), New York, 31 Juli 2019. (Foto: dok).

Pasar keuangan Amerika berjuang untuk pulih pada hari Selasa (6/8) setelah mengalami penurunan terbesar sejak Desember. Penasihat ekonomi Presiden AS Donald Trump mengatakan Gedung Putih lebih unggul dalam perselisihan perdagangan dan moneter dengan China yang kian dalam – sebuah pernyataan yang dibuat setelah Beijing mengumumkan tidak akan lagi membeli produk pertanian Amerika.

Pasar keuangan tetap bergejolak satu hari setelah menderita penurunan terdalam tahun ini. Penurunan itu terjadi di tengah-tengah munculnya berita yang tidak menyenangkan dari China, termasuk devaluasi mata uangnya, yuan.

Penasihat Ekonomi Gedung Putih, Larry Kudlow. (Foto: dok).
Penasihat Ekonomi Gedung Putih, Larry Kudlow. (Foto: dok).

Hari Selasa (6/8), Penasihat Ekonomi Gedung Putih Larry Kudlow mengatakan kepada para wartawan, bahwa Presiden Trump masih menginginkan kesepakatan perdagangan dengan China.

Dia menjelaskan, “Pandangan presiden selama ini adalah bahwa kami telah bernegosiasi dengan iktikad baik. Kami ingin terus bernegosiasi dengan iktikad baik dengan China. Ada kekecewaan dengan pembelian produk pertanian. Tugas dia melindungi ekonomi Amerika. Tugas dia mempertahankan ekonomi Amerika.”

Sebelumnya, Kementerian Perdagangan China mengumumkan perusahaan-perusahaan domestik di negara itu telah berhenti membeli produk pertanian Amerika. Langkah itu diambil sebagai tanggapan atas pengumuman pemerintahan Trump pekan lalu, tentang pemberlakuan tarif baru atas barang-barang China senilai 300 miliar dolar.

Kepada VOA, Bill Adams, dari PNC Financial Services, perusahaan induk perbankan dan jasa keuangan yang berbasis di Amerika, menyatakan pendapatnya tentang kemelut perdagangan dengan China.

“Ini adalah tahun yang berat bagi sektor pertanian di Amerika Serikat. Saya kira, efek dari pemberlakuan tarif yang berkepanjangan terhadap ekspor produk pertanian Amerika, dan di luar tarif, sinyal yang diberikan oleh pemerintah China kepada para pembeli domestiknya adalah bahwa mereka perlu mencari (produk pertanian) ke negara-negara lain.”

Gedung Putih menciptakan paket bantuan 16 miliar dolar bagi para petani yang dirugikan oleh perang dagang Amerika Serikat-China.

Presiden Trump mengumumkan lewat Twitter, bahwa dia hendak menganggarkan uang pembayar pajak yang bahkan lebih besar, jika perlu, untuk membantu petani tahun depan.

Hari Senin (5/8), Departemen Keuangan Amerika menyebut China sebagai “manipulator mata uang” dan mengancam akan melibatkan Dana Moneter Internasional (IMF).

Bill Adams dari Jasa Keuangan PNC Bank menjelaskan, “Berbagai peristiwa minggu ini merupakan eskalasi nyata dari konflik perdagangan Amerika Serikat-China, tetapi sesungguhnya tidak mengejutkan. Baik pemerintah China maupun pemerintah Amerika telah menyiapkan diri dalam beberapa bulan terakhir untuk menghadapi kebuntuan lebih lanjut atau bahkan terjadinya eskalasi konflik. Kedua pemerintah tampaknya menunggu yang lain membuat konsesi.”

Selain membebani pasar keuangan, perang dagang Amerika-China juga merusak prospek pertumbuhan ekonomi di dua negara dengan perekonomian terbesar di dunia ini, dan banyak negara lain di seluruh dunia.

Delegasi dari Beijing dijadwalkan bertemu dengan para pembuat kebijakan Amerika bulan depan. [lt/uh]

Recommended

XS
SM
MD
LG