Tautan-tautan Akses

Utusan AS Sebut Upaya Kesepakatan Nuklir dengan Iran Berada pada ‘Fase Kritis’


Presiden Iran Ebrahim Raisi mengunjungi Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Bushehr di Iran pada 8 Oktober 2021. (Foto: Handout via Reuters/Official Presidential Website)
Presiden Iran Ebrahim Raisi mengunjungi Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Bushehr di Iran pada 8 Oktober 2021. (Foto: Handout via Reuters/Official Presidential Website)

Upaya untuk menghidupkan kembali kesepakatan nuklir Iran yang digagas pada 2015 berada pada “fase kritis” dan alasan Teheran untuk menghindari pembicaraan tersebut semakin tidak meyakinkan, demikian keterangan yang disampaikan oleh seorang pejabat AS pada Senin (25/10).

Menurutnya upaya meningkatkan hubungan diplomasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran terus berlanjut bahkan jika kesepakatan itu tidak dapat dihidupkan kembali.

Utusan Khusus AS untuk Iran Robert Malley mengatakan kepada para wartawan bahwa Washington semakin khawatir bahwa Teheran akan terus menunda kembalinya pembicaraan itu. Tetapi Washington memiliki sarana lain untuk mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir dan akan menggunakannya jika perlu.

“Kami berada pada fase kritis dari upaya untuk melihat apakah kami dapat menghidupkan kembali JCPOA,” kata Malley, merujuk pada kesepakatan yang secara resmi disebut Rencana Aksi Komprehensif Gabungan (Joint Comprehensive Plan of Action).

“Kami telah mengalami kemandekan selama berbulan-bulan, dan alasan resmi yang diberikan oleh Iran mengapa kami dalam keadaan demikian sangat sulit diterima.”

Sambil mengatakan bahwa jendela bagi Amerika Serikat dan Iran untuk melanjutkan kepatuhan terhadap perjanjian pada akhirnya akan ditutup, Malley mengatakan Amerika Serikat masih bersedia untuk terlibat dalam hubungan diplomasi dengan Iran bahkan selagi mempertimbangkan opsi lain untuk mencegah Teheran membuat bom nuklir.

Dia juga mengisyaratkan keuntungan ekonomi yang mungkin mengalir dari kembalinya Iran ke dalam perjanjian tersebut, yang mencanangkan agar Teheran mengambil langkah-langkah untuk membatasi program nuklirnya sebagai imbalan atas pelonggaran sanksi ekonomi yang diberikan oleh AS, Uni Eropa dan PBB. [lt/pp]

XS
SM
MD
LG