Tautan-tautan Akses

Dinilai Tak Adil terhadap Israel, Utusan AS Kecam Dewan HAM PBB


Sekjen PBB Antonio Guterres memberikan pidato pada sidang umum Dewan HAM PBB atau Human Rights Council di Jenewa, Swiss.

Utusan Amerika untuk Dewan HAM PBB mengecam panel atas apa yang disebutnya perlakuan “tidak adil” terhadap Israel yang menjadi sasaran resolusi Dewan HAM itu lebih sering daripada negara lain manapun.

Dalam pidato selama sidang umum Dewan HAM PBB atau HRC di Jenewa, Swiss, hari Rabu (1/3), utusan Amerika, Erin Barclay menuduh HRC “terobsesi” dengan Israel dan mengatakan hal itu merusak kredibilitas dewan itu.

“Jika menyangkut HAM tidak boleh ada negara yang bebas dari pemantauan, dan sebaliknya tidak boleh ada negara demokrasi yang selalu diperlakukan tidak adil, tidak seimbang dan dengan prasangka yang tidak berdasar,” katanya.

Ia menyebut pelanggaran HAM yang sedang berlangsung di negara-negara seperti Suriah, Iran dan Korea Utara, dan mengingat konteks ini, kecaman HRC setiap tahun terhadap Israel membuat Dewan ini seperti lelucon saja.

“Amerika akan menentang upaya apapun untuk tidak mengakui keabsahan atau mengisolasi Israel, tidak hanya di HRC, tapi di manapun itu terjadi,” imbuhnya.

Agenda nomor 7 HRC mewajibkan negara-negara anggota memperdebatkan pelanggaran-pelanggaran HAM Israel terhadap Palestina pada setiap pertemuan. Israel satu-satunya negara yang punya agenda tetap, dengan pelanggaran-pelanggaran HAM di semua negara lainnya dicakup dalam satu agenda terpisah.

Barclay menghimbau dewan HAM untuk beralih dari praktik yang “tidak seimbang dan tidak produktif” dan sebaliknya memusatkan upaya-upayanya pada “situasi HAM yang paling mendesak” di seluruh dunia.

Komentar Barclay itu disampaikan sementara laporan-laporan media baru-baru ini mengatakan pemerintahan Trump sedang mempertimbangkan untuk mundur dari HRC setelah keanggotaan Amerika berakhir tahun 2019.

Amerika menolak menjadi anggota dewan beranggotakan 47 itu ketika HRC dibentuk tahun 2006, dengan menyebut keraguan mengenai keanggotaan beberapa negara otoriter. Amerika bergabung dengan dewan HAM tahun 2009, setelah terpilihnya Obama sebagai presiden, dan berperang penting dalam menggerakkan negara-negara yang berpandangan sama untuk mengecam pelanggaran-pelanggaran HAM di seluruh dunia. [my/ds]

XS
SM
MD
LG