Tautan-tautan Akses

Upayakan Perluasan Pengaruh, Presiden Turki ke Afrika


Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan memulai lawatan ke Afrika (foto: dok).

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan hari Senin (26/2) memulai lawatan lima hari ke Afrika utara dan barat. Itu merupakan usaha terbaru Turki untuk memproyeksikan pengaruhnya di seluruh benua tersebut dan meningkatkan kehadiran globalnya. Para pengamat menyuarakan kekhawatiran, pemimpin Turki itu, dengan penekanannya pada tema-tema Islam, akan memicu persaingan regional dan bahkan ketegangan.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dijadwalkan melawat ke Aljazair, Mauritania, Senegal dan Mali dalam lawatan keliling wilayah tersebut. Sejak tahun 2005, ketika ia menjabat perdana menteri, Erdogan telah menjadikan mempererat hubungan dengan Afrika sebagai prioritas, menurut Emre Caliskan, analis Turki-Afrika pada Oxford University.

"Sejak menjadi Perdana Menteri, ia sudah 24 kali ke Afrika. Sejak tahun 2009, ketika menjabat presiden, ia telah 12 kali ke Afrika. Ada beberapa ambisi: ekonomi, menjadi pemimpin global, dan penggunaan Islam," kata Caliskan.

Awal bulan ini, selama seminggu, Istanbul menjadi tuan rumah pertemuan menteri-menteri Afrika. Pertemuan semacam itu biasa terjadi dan bagian dari upaya Turki membujuk para pemimpin Afrika. Turki menambah jumlah kedutaan besarnya di seluruh benua itu tiga kali lipat dalam waktu kurang dari 10 tahun. Walaupun sudah melakukan investasi seperti itu, imbalnya bagi ekonomi Turki sejauh ini mengecewakan sehingga Turki mengalihkan prioritasnya, ujar pakar Afrika, Profesor Mehmet Arda dari kelompok pemikir Edam di Istanbul.

"Kalau kita cermati perdagangan Turki dengan Afrika, pada dasarnya sama seperti sepuluh tahun lalu. Jadi, ini hanyalah cara memproyeksikan diri sebagai kekuatan di dunia. Selain itu, Turki menempatkan diri sebagai sahabat negara-negara terbelakang dan sahabat orang-orang miskin. Dari sudut pandang itu, menurut saya, Turki pas dengan model yang diproyeksikan di panggung dunia," ujar Arda.

Dalam berbagai lawatan baru-baru ini ke Afrika, Presiden Erdogan semakin menyisipkan tema-tema Islam dalam pidato, yang kerap diwarnai retorika anti-Barat dan berfokus pada kolonialisme Barat pada masa lalu, meskipun kekaisaran Usman Turki juga pernah merambah ke Afrika.

September tahun lalu, Turki membuka pangkalan militer terbesarnya di Somalia. Keberadaan pangkalan tersebut ditafsirkan sebagai sinyal bahwa Turki menunjukkan minatnya yang semakin besar di wilayah itu.

Angkatan laut Turki berkembang pesat, ditambah rencana pembangunan kapal induk. Kesepakatan Turki dan Sudan membangun kembali Pulau Suakin di Sudan, yang dulunya pangkalan utama angkatan laut Kekaisaran Utsman, membuat Mesir khawatir akan meningkatnya pengerahan militer Turki. Turki menegaskan rencana pembangunannya di pulau itu adalah non-militer.

Analis memperingatkan persaingan di Timur Tengah sudah melebar ke Afrika, proses yang tampaknya akan berlanjut seiring komitmen Turki yang semakin besar terhadap benua itu dalam usahanya menjadi pemain global. [ka/ii]

XS
SM
MD
LG