Tautan-tautan Akses

Pemberantasan Penularan Hepatitis di Kalangan Penduduk Asli Menunjukkan Hasil


ARSIP - (Kiri ke Kanan) Shilo Murphy, Misty Kohal, dan Jeff Sablosky bersiap membuka People's Harm Reduction Alliance, sebuah program penukaran jarum terbesar di Amerika Serikat bertempat di Seattle, Washington (foto: REUTERS/David Ryder)

Banyak di antara penduduk asli yang tertular virus hepatitis yang sangat menular, dan mereka 2 hingga 5 kali lebih mungkin tertular dibandingkan populasi umum di sekitarnya. Namun berbagai upaya untuk membasmi penyakit itu mulai menampakkan hasil, ujar kalangan peneliti.

Di tingkat global, 71 juta orang menderita hepatitis C sementara 257 juta orang menderita hepatitis B. Virus-virus tersebut menyebabkan peradangan hati dan dapat menimbulkan sirosis dan, khususnya hepatitis C, dapat menyebabkan kanker hati.

Sebagian besar kasus diakibatkan oleh penularan dari darah yang terkontaminasi, penggunaan narkoba, tato tubuh dengan jarum yang tidak steril, atau ditularkan melalui kontak seksual. Sebelum dilakukannya penyaringan darah di tahun 1992, transfusi darah sering kali menjadi sumber penyebaran penyakit. Infeksi juga dapat ditularkan dari ibu ke anaknya yang baru lahir.

Pada Konferensi Penduduk Asli Dunia dan Hepatitis Menular pekan ini yang diselenggarakan di Anchorage, Alaska, kalangan peneliti melaporkan masalah ini dan upaya-upaya yang telah dilakukan untuk menanggulanginya, termasuk satu dari upaya-upaya awal untuk membasmi hepatitis C dari populasi penduduk asli.

Alasan Tingginya Tingkat Infeksi

Homie Razavi dan Devin Razavi-Shearer, epidemiologis dari the Polaris Observatory, berusaha untuk menyelidiki alasan di balik tingginya tingkat infeksi di antara komunitas penduduk asli. Di Kanada, tingkat penularan hepatitis B lima kali lebih tinggi dibandingkan populasi secara umum, dan hepatitis C, tiga kali lebih tinggi. Di Australia, penduduk asli berpeluang empat kali lebih besar tertular hepatitis B dan tiga kali lebih besar tertular hepatitis C.

Kalangan peneliti mengatakan tingkat penularan kemungkinan disebabkan “tingkat kesenjangan akibat kemiskinan, penggunaan narkoba lewat suntikan, dan isolasi penduduk asli. Semua fakta ini, ditambah dengan minimnya akses ke fasilitas perawatan kesehatan dan tindakan-tindakan pencegahan, mendorong risiko lebih besar lagi dan demikian pula dengan tingkat prevalensi hepatitis C.”

Namun kemajuan pesat tengah dicapai. Pada tahun 1980-an, program vaksinasi mulai berhasil mengurangi tingkat infeksi hepatitis B.

Dr. Brian McMahon, direktur dari the Alaska Native Tribal Health Consortium, menyatakan dalam konferensi tersebut bahwa berbagai survei yang baru-baru ini dilakukan menunjukkan penyakit itu hampir pasti berhasil dibasmi di antara kaum muda suku penduduk asli di Alaska.

Membasmi infeksi

Jorge Mara, direktur penanggulangan penyakit menular untuk Cherokee Nation Health Services di Oklahoma, melaporkan upaya yang dilakukan di sana untuk membasmi hepatitis C.

“Di antara mereka yang kami pikir menderita hepatitis C di tengah masyarakat, kami telah berhasil memberikan perawatan kepada sepertiga dari populasi tersebut,” ujarnya kepada VOA, “dan ini lumayan bagus untuk program yang baru kami mulai dua tahun yang lalu.”

Program itu adalah upaya awal di Amerika Serikat, dan satu dari yang pertama di dunia, dalam usahanya untuk membasmi virus tersebut. Perawatan hepatisi C telah meningkat secara dramatis dalam kurun waktu satu dekade terakhir, yang membuat semua upaya ini dapat terwujud.

Mera mengatakan banyak program di seluruh dunia yang masih dalam tahap perencanaan, dan ia menjuk pada sejumlah hal yang dapat dipelajari oleh program-program tersebut dari upaya yang dilancarkan di kalangan Suku Cherokee.

“Sebagian besar pasien yang berhasil kami deteksi sebagai positif tertular virus datang lewat perawatan mendesak dan bagian darurat,” ujarnya, “jadi apabila anda hanya memiliki sumberdaya terbatas, ini adalah bidang-bidang yang akan saya fokuskan.”

Para petugas kesehatan yang ditempatkan di tengah-tengah Suku Cherokee menyaring semua orang yang berada di rentang usia 20 hingga 69 tahun. Upaya ini termasuk menyaring warga saat mereka berkunjung ke dokter gigi.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit telah merekomendasikan penyaringan di antara warga yang berusia lebih tua, namun Mera mengatakan ada tingkat infeksi hepatitis yang tinggi di antara mereka yang berada pada usia 20-an dan 30-an. Ia menyarankan yang lainnya yang sedang membangun program penanggulangan penyakit untuk menentukan dahulu prevalensi infeksi di masing-masing komunitas sebelum menentukan siapa yang perlu disaring.

Ia mengatakan sejarah telah menunjukkan tingkat penularan hepatitis yang tinggi di kalangan populasi penduduk asli.

“Saat ada populasi yang tertindas atau mengalami trauma berabad-abad akibat sifat proses kolonisasi bangsa Barat, maka hal tersebut menjadi faktor-faktor dimana sebagian besar populasi berusaha untuk mencari jalan keluar lewat cara-cara nonkonvensional seperti penggunaan narkoba lewat alat suntik,” ujar Mera.

Mencegah penularan adalah bagian penting dalam mengatasi menyebarnya hepatitis C, ujar Mera. Satu cara untuk menanggulangi penularan, ujarnya, adalah untuk melegalisasi dan mempeluas program pertukaran jarum dan substitusi opium. [ww/fw]

XS
SM
MD
LG