Tautan-tautan Akses

Upaya Lembaga Amal Cerahkan Masa Depan Anak Perempuan Malawi


Anak perempuan Malawi beristirahat sejenak seusai mengikuti kegiatan di Klub Anak Perempuan (Girl's Club) di Mulanje, Malawi. (Photo: VOA/Lameck Masina).
Anak perempuan Malawi beristirahat sejenak seusai mengikuti kegiatan di Klub Anak Perempuan (Girl's Club) di Mulanje, Malawi. (Photo: VOA/Lameck Masina).

Dua yayasan amal internasional telah meluncurkan sebuah program di Malawi selatan untuk membantu anak-anak perempuan di wilayah pedesaan supaya sehat dan tetap bersekolah. Kedua yayasan amal itu mengelola klub anak-anak perempuan di distrik Mulanje, di mana banyak penduduknya mengidap HIV, virus penyebab AIDS.

Ini adalah suara sebagian dari 360 anak perempuan yang ikut dalam klub Mawa Girls, yang diluncurkan pada bulan Oktober lalu di sembilan sekolah menengah di distrik Mulanje.

Statistik menunjukkan bahwa banyak anak perempuan di sini putus sekolah karena kehamilan dan pernikahan dini.

Dua yayasan amal, Sentebale dan Aliansi Antar-Agama AIDS Global, atau GAIA, meluncurkan klub-klub itu. "Tahun lalu, ada hampir 26 pelajar sekolah menengah yang putus sekolah dan 80 persen diantaranya adalah anak perempuan. Sebagian menikah dan sebagian hamil," kata Lucy Munthali, koordinator program GAIA.

Malawi memiliki salah satu satu tingkat perkawinan anak terbanyak di dunia. Separuh dari semua anak perempuan menikah sebelum usia 18 tahun.

Negara itu juga memiliki tingkat prevalensi HIV sebanyak hampir 10 persen, dan 70 persen dari semua inveksi HIV baru di Malawi terjadi pada perempuan, menurut sebuah laporan UNAIDS.

Munthali mengatakan kemiskinan memaksa banyak perempuan dan anak perempuan melakukan hubungan seks komersial dan tanpa perlindungan. "Mengingat anak perempuan yang berusia antara 15 dan 24 tahun lebih berisiko mengidap HIV, kami membantu anak-anak perempuan dengan dukungan psiko-sosial untuk memastikan agar mereka tetap bersekolah dan tetap sehat," lanjutnya.

Berdasarkan program itu, para mentor menasihati anak-anak perempuan untuk memikirkan tentang tujuan hidup. "Kami juga membantu anak-anak perempuan itu untuk mengevaluasi diri yang bisa membantu mereka untuk menemukan jati diri. Ini bisa membantu mencari tahu latar belakang mereka dan menentukan tujuan yang tepat," kata Enipher Jeremiah, salah seorang mentor program tersebut.

Loveness Sitima, siswi Sekolah Menengah Namalowe Day Community, mengatakan dia mendapat manfaat dari program itu. "Saya ingin menjadi perawat karena menyukai seragamnya. Tapi yang lebih penting, saya ingin menjadi perawat di ruang bersalin, supaya bisa membantu perempuan."

Seorang siswi lain dari sekolah yang sama, Elube Dinesi, mengatakan, "Saya sadar bahwa ketika seorang anak perempuan mendapat pendidikan, dia akan menghormati hak-hak anak-anak perempuan lain dan memotivasi yang lainnya."

Kegiatan Girl's Club di Mulanje, Malawi. (Foto: Lameck Masina untuk VOA)
Kegiatan Girl's Club di Mulanje, Malawi. (Foto: Lameck Masina untuk VOA)

Para pejabat mengatakan upaya klub-klub itu mendukung program-program pemerintah yang dipusatkan pada pendidikan anak perempuan.

Charity Nkhoma bekerja di Kementerian Pendidikan urusan kebutuhan khusus. "Meskipun pemerintah melakukan segala upaya untuk memajukan pendidikan anak perempuan, tapi tidak bisa bekerja sendirian, apalagi menjangkau setiap anak perempuan. Intervensi semacam itu sangat membantu memajukan pendidikan anak perempuan."

Para pengurus Sentebale dan GAIA mengatakan sebuah program serupa membuahkan hasil di Lesotho dan Botswana. Mereka mengatakan apabila mendapat cukup dana, mereka akan meluncurkan klub-klub anak perempuan di seluruh Malawi. [vm]

XS
SM
MD
LG