Tautan-tautan Akses

UNICEF: 10.000 Anak Tewas dan Terluka Selama Perang Yaman


Seorang anak laki-laki tampak menatap kamera ketika ia berjalan keluar sehabis menjalani perawatan dari klinik patah tulang di daerah Sanaa, Yaman, pada 14 Oktober 2021. (Foto: Reuters/Khaled Abdullah)
Seorang anak laki-laki tampak menatap kamera ketika ia berjalan keluar sehabis menjalani perawatan dari klinik patah tulang di daerah Sanaa, Yaman, pada 14 Oktober 2021. (Foto: Reuters/Khaled Abdullah)

Lebih dari 10.000 anak di Yaman tewas dan terluka dalam aksi kekerasan yang terjadi dalam perang yang berlangsung selama bertahun-tahun di negara miskin itu, kata juru bicara UNICEF, James Elder, hari Selasa (19/10).

Berbicara kepada awak media, Elder mengatakan bahwa angka tersebut tidak menggambarkan jumlah korban secara keseluruhan, karena banyaknya kasus kematian dan luka-luka yang tidak tercatat.

Catatan baru PBB menunjukkan empat anak tewas atau menjadi cacat setiap harinya – sebuah “pencapaian yang memalukan” sejak koalisi pimpinan Arab Saudi campur tangan dalam perang itu pada 2015.

PBB telah lama menganggap Yaman, di mana perang berlanjut pada akhir 2014 setelah para pemberontak mengambil alih ibu kota, Sanaa, sebagai lokasi krisis kemanusiaan terburuk di dunia.

Negara di Semenanjung Arab itu menghadapi masalah gabungan, dari konflik yang berkepanjangan, kehancuran ekonomi, ambruknya layanan sosial dan kesehatan, serta kurangnya pendanaan program bantuan PBB.

Lebih dari empat dari setiap lima anak memerlukan bantuan kemanusiaan, yang apabila ditotal mencapai 11 juta anak, kata UNICEF.

Anak-anak Yaman yang terlantar terlihat di kamp pengungsi yang terletak di antara Marib dan Sanaa, Yaman, 29 Maret 2018. (Foto: REUTERS/Ali Owidha)
Anak-anak Yaman yang terlantar terlihat di kamp pengungsi yang terletak di antara Marib dan Sanaa, Yaman, 29 Maret 2018. (Foto: REUTERS/Ali Owidha)

Menurut catatan PBB, 3.455 anak telah tewas, sementara lebih dari 6.600 lainnya terluka dalam pertempuran di Yaman, selama periode 15 Maret 2015 hingga 30 September tahun ini.

Selain pertempuran, Elder mengatakan, banyak warga Yaman yang kelaparan – bukan karena kekurangan makanan, tapi karena kekurangan uang untuk membelinya.

“Mereka kelaparan karena orang-orang dewasa terus mengobarkan perang, di mana anak-anaklah yang menjadi korban terbesar,” ujarnya, meminta dana yang lebih besar untuk membantu badan tersebut.

“UNICEF sangat membutuhkan $235 juta (Rp3,3 triliun) untuk melanjutkan upaya penyelamatan, dan itu sampai pertengahan tahun depan. Tanpa itu, badan ini harus menghentikan atau mengurangi sebagian bantuan darurat tersebut.”

Secara keseluruhan, Proyek Data Lokasi dan Peristiwa Konflik Bersenjata (ACLED) memperkirakan sekitar 130.000 orang telah tewas dalam perang di Yaman.

“Yaman adalah tempat paling sulit di dunia untuk menjadi seorang anak. Dan… semakin parah,” kata Elder yang menyerukan diakhirinya konflik. [rd/rs]

XS
SM
MD
LG