Tautan-tautan Akses

Uni Eropa Kirim Instruktur Militer, AS Kirim Bantuan bagi Pemberontak Libya


Pasukan pemberontak Libya siaga di atas kendaraannya di kota Ajdabiya, Libya (20/4). Negara-negara NATO sepakat untuk terus memberi bantuan kepada pasukan pemberontak.
Pasukan pemberontak Libya siaga di atas kendaraannya di kota Ajdabiya, Libya (20/4). Negara-negara NATO sepakat untuk terus memberi bantuan kepada pasukan pemberontak.

Pemerintah AS berencana memberi bantuan non-senjata senilai 25 juta dolar, meliputi kendaraan, truk bahan bakar, rompi pelindung dan radio.

Dua lagi negara Uni Eropa mengatakan mereka akan ikut membantu Inggris mengirim beberapa instruktur militer ke Libya untuk membantu pasukan pemberontak.

Menteri Pertahanan Italia Ignazio La Russa hari Rabu mengatakan akan mengirim 10 instruktur untuk membantu melatih para pemberontak berjuang melawan pasukan yang setia kepada pemimpin Libya Moammar Gaddafi.

Hari Rabu pagi, Perancis juga mengumumkan akan mengirim instruktur-instruktur militernya bagi pemberontak Libya.

Secara terpisah, para pejabat Amerika mengatakan Pemerintahan Presiden Barack Obama berencana untuk memberi bantuan bukan dalam bentuk senjata sebesar 25 juta dollar kepada oposisi Libya. Para pejabat mengatakan bantuan tersebut meliputi kendaraan, truk bahan bakar, rompi pelindung dan radio.

Sementara itu Presiden Perancis Nicolas Sarkozy bertemu dengan pemimpin dewan transisi pemberontak, Mustafa Abdel Jalil di Paris. Setelah pertemuan tersebut, Jalil memberitahu para wartawan bahwa ia telah mengundang Presiden Sarkozy untuk berkunjung ke kota Benghazi, kubu para pemberontak.

Inggris hari Selasa mengumumkan rencana untuk mengirim puluhan penasehat militer ke Libya untuk membantu para pemberontak menyusun organisasi, logistik dan komunikasi.

Ketua Komisi Tinggi HAM PBB kini memperingatkan pemerintah Libya bahwa mereka mungkin melakukan kejahatan perang dengan menggunakan persenjataan terhadap masyarakat sipil dan fasilitas medis di Misrata. Dalam pernyataan hari Rabu, Ketua Komisi Tinggi HAM PBB Navi Pillay mendesak pemerintah Libya untuk menghentikan pengepungan kota tersebut.

Menteri Luar Negeri Libya Abdul Ati al-Obeidi mengecam pengiriman instruktur-instruktur militer asing, dengan mengatakan hal ini akan merusak kemungkinan perdamaian di negara itu. Dalam sebuah wawancara dengan BBC, Obeidi menghimbau gencatan senjata selama enam bulan untuk mempersiapkan pemilu.

Pertempuran berlanjut hari Rabu antara pasukan pemberontak dan pro-pemerintah di kota Misrata – Libya bagian barat yang sudah terkepung itu, di mana warga memohon intervensi internasional. Serangan udara NATO kembali menghantam instalasi-instalasi pemerintah di beberapa kota.

XS
SM
MD
LG