Tautan-tautan Akses

Uni Eropa Kecam Ofensif Baru di Suriah


Reruntuhan dan kerusakan akibat serangan udara pasukan pemerintah di kota Ariha, provinsi Idlib, Suriah, 15 Januari 2020. (Foto: dok).

Uni Eropa, Kamis (23/1) mengecam pertempuran baru yang terjadi di sekitar kubu pertahanan pemberontak di barat laut Suriah, menuntut diakhirinya serangan udara "yang tidak dapat diterima" yang menewaskan sejumlah warga sipil.

Rezim Presiden Bashar al-Assad, yang dididukung Rusia, mempererat cengkeramannya di sekitar Idlib, benteng pertahanan terakhir dikuasai oleh pemberontak dalam perang saudara di Suriah, dengan serangan udara yang sedikitnya menewaskan 23 warga sipil pada Selasa lalu (21/1).

Juru bicara Uni Eropa dalam sebuah pernyataan menjelaskan, “Serangan yang baru-baru ini terjadi di Idlib, termasuk serangan udara berulang kali dan bombardemen yang menarget warga sipil tidak dapat diterima dan harus dihentikan.”

Ia juga menyatakan, Uni Eropa akan terus memberlakukan sanksi-sanksi yang diterapkan pada rezim Assad selama serangan-serangan brutal itu terus berlanjut.

Sebagian besar daerah Idlib dan bagian wilayah provinsi Aleppo masih dikendalikan oleh faksi yang menentang Assad.

Pemerintahan di Damaskus yang menguasai sekitar 70 persen negara itu setelah hampir sembilan tahun dikoyak perang, telah berulang kali bersumpah untuk merebut wilayah itu kembali.

Uni Eropa menuntut "akses cepat, aman dan tanpa hambatan" bagi sejumlah organisasi kemanusiaan dan menekankan perlunya solusi politik dalam konflik tersebut.

Kekerasan di Suriah meningkat meski sebuah gencatan senjata diumumkan Moskow pada awal bulan ini namun tidak terlaksana. Ada sejumlah peringatan bahwa serangan darat bisa segera terjadi. [mg/ab]

XS
SM
MD
LG