Tautan-tautan Akses

UNHCR: Pengungsi Rohingya Hadapi Situasi Darurat Jelang Musim Hujan


Kamp pengungsi Muslim Rohingya di Cox's Bazar, Bangladesh (foto: dok).

Badan PBB Urusan Pengungsi UNHCR mengatakan pengungsi Rohingya yang ditampung di kamp-kamp di luar Myanmar kini menghadapi situasi darurat baru karena hampir musim hujan. Seorang wakil UNHCR hari Selasa (13/2) mengatakan pemerintah Myanmar belum memastikan berakhirnya ancaman kekerasan yang memaksa ratusan ribu orang melarikan diri.

Amerika hari Selasa mendesak Dewan Keamanan PBB untuk meminta pertanggungjawaban pemimpin-pemimpin militer yang melakukan “pembersihan etnis” atas warga Rohingya.

PBB mengatakan lebih dari 100 ribu pengungsi Rohingya tinggal di daerah-daerah yang rentan banjir dan tanah longsor. Komisaris Tinggi UNHCR Filippo Grandi hari Selasa (13/2) mengatakan puluhan ribu pengungsi itu harus segera direlokasi.

“Dengan munculnya situasi darurat yang baru, kami kini berpacu dengan waktu. Musim hujan akan mulai Maret ini,” kata Grandi.

Baca juga: PBB: Myanmar Gagal Ciptakan Kondisi Aman bagi Kembalinya Pengungsi Rohingya

Di bawah tekanan internasional, pemerintah Myanmar setuju untuk mengizinkan sejumlah warga Rohingya kembali ke negara bagian Rakhine.

Duta Besar Myanmar Untuk PBB Hau Do Suan mengatakan, “Kami telah melakukan persiapan yang diperlukan dan kini siap menerima kelompok pertama pengungsi yang kembali.”

Tetapi wartawan menemukan masih berlanjutnya aksi kekerasan terhadap kelompok minoritas Muslim di negara bagian Rakhine itu.

Wakil Kepala PBB Untuk Urusan Politik Miroslav Jenca mengatakan, “Kantor berita Reuters mempublikasikan laporan yang ditulis wartawan-wartawan mereka tentang pembunuhan terhadap 10 laki-laki Rohingya di desa Inn Din, Maungdaw, di bagian utara Rakhine. Associated Press juga melaporkan adanya lima kuburan massal di desa Gu Dar Pyin di Buthidaung.”

Sejak itu, dua wartawan Reuters telah dipenjara dan tim penyelidik internasional tidak diijinkan melihat lokasi-lokasi di mana diduga telah terjadi tindakan kekerasan.

Sementara itu Bangladesh mengatakan warga Rohingya dari negara bagian Rakhine masih terus memasuki negara mereka.

Duta Besar Bangladesh Untuk PBB Masud bin Momen mengatakan, “Sisa warga Rohingya di utara Rakhine masih terus melewati perbatasan; melarikan diri dari kekejaman, penganiayaan dan kelaparan. Dalam 10 hari pertama bulan ini, ada 1.500 pengungsi baru yang tiba di Bangladesh.”

Duta Besar Amerika Untuk PBB Nikki Haley telah mendesak Dewan Keamanan PBB untuk mengatasi aksi kekejaman di Myanmar ini.

“Dalam situasi ini kita tidak bisa pura-pura tidak tahu. Apa yang terjadi di Myanmar dan yang masih terjadi di sana tidak baik. Dewan ini harus meminta pertanggungjawaban militer atas tindakan dan menekan pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi untuk mengakui adanya tindakan mengerikan yang terjadi di negaranya. Tidak ada lagi alasan untuk tidak bertindak,” tandas Haley.

Nikki Haley juga menyerukan agar dua wartawan kantor berita Reuters yang ditangkap karena melaporkan pembantaian Muslim-Rohingya juga segera dibebaskan. [em/ii]

Opini Anda

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG