Mayoritas umat Hindu di Indonesia yang berpusat di Pulau Bali, setiap tahun merayakan Nyepi atau pergantian tahun dengan pengendalian diri, menerapkan Catur Brata/ empat penyepian, yaitu Amati Geni(tidak menyalakan api/lampu), Amati Karya (tidak melakukan pekerjaan), Amati Lelanguan (tidak melakukan aktivitas yang menghibur diri), Amati Lelungaan (tidak melakukan perjalanan/ keluar rumah).
Prof Dr. I Gst Ngurah Sudiana, MSi, Ketua Parisada Hindu Darma Indonesia/ PHDI Provinsi Bali mengatakan yang berbeda dari tahun sebelumnya, perayaan Nyepi tahun ini jatuh bersamaan dengan perayaan Hari Saraswati, yang hanya terjadi ratusan tahun sekali. Pada Hari Saraswati, umat Hindu menghormati turunnya ilmu pengetahuan bagi manusia.
“Hari Raya Saraswati dilaksanakan sebelum jam 6 pagi, sudah selesai jam 6. Dan tidak akan mengurangi makna apa-apa justru umat Hindu yang tadinya hanya menjalankan Catur Brata (pengendalian diri) menjadi Panca Brata, ditambah satu Brata. Empat Brata Penyepian dan satu Brata Saraswati,” kata Sudiana.
Nyepi kali ini juga disertai himbauan baru, yaitu tidak terlibat dalam aktivitas internet. PHDI mendapat dukungan pejabat daerah dan meminta penyedia jasa seluler untuk tidak beroperasi selama 24 jam di Bali. Himbauan ini mengecualikan fasilitas darurat, seperti rumah sakit, bandara dan hotel.
Sudiana menjelaskan langkah ini ditempuh PHDI agar pelaksanaan Nyepi tidak diwarnai kontroversi di media sosial dan bentuk pengendalian diri di zaman teknologi modern.
“Dengan hubungan keluarga tanpa internet, kita akan langsung berbicara dengan keluarga, ngobrol dengan teman yang secara psikologis jauh akan lebih dekat,” ujar Sudiana.
Kalangan pariwisata di Bali sudah tidak asing dengan pembatasan dan larangan yang berlaku di masyarakat setempat pada Hari Nyepi.
Ida Bagus Sidharta dari kelompok hotel Santrian mengatakan tingkat hunian hotel justru mengalami peningkatan karena wisatawan ingin mendapat pengalaman Nyepi. Ia mendukung himbauan PHDI terkait larangan penggunaan internet dan sosial media.
“Keharmonisan ini memang harus dijaga, apalagi memang inisiatif atau makna nyepi itu adalah introspeksi untuk melakukan langkah ke depan, buat saya secara pribadi, sosial media itu sudah “too much” dan tidak bisa menangani isu di sosial media, sehingga kalau yang dimatikan itu jaringan selular saya sepakat,” kata Sidharta.
Meski mendapat dukungan, himbauan ini juga menuai kontra. Tapi pemuka agama dan tokoh masyarakat di Bali mengangap masalah ini akan berakhir baik, seperti halnya ketika Bali memutuskan penutupan bandara dan siaran televisi selama Nyepi.
Sehari menjelang Nyepi, masyarakat umum non-Hindu juga tetap menjalankan aktivitas sebagaimana biasa seperti pasar Nyangelan di Kota Denpasar.
“Yang berbelanja orang Bali, juga Muslim. Tapi biasanya menjelang hari raya seperti ini lebih banyak orang Bali untuk persiapan Nyepi dan bekal,” kata Kadek.
Nyepi akan dilaksanakan selama 24 jam, mulai pukul 6 pagi, Sabtu 17 Maret, sampai pukul 6 pagi 18 Maret 2018. [ds/my]