Tautan-tautan Akses

Ulama Senior Irak Kecam Serangan Maut terhadap Demonstran


Ulama Syiah Senior Irak, Ayatullah Agung Ali Sistani, Jumat (7/2) mengecam serangan maut baru-baru ini terhadap demonstran antipemerintah. (Foto: dok).

Ulama Syiah Senior Irak Ayatullah Agung Ali Sistani, Jumat (7/2) mengecam serangan maut baru-baru ini terhadap demonstran antipemerintah, mengkritik pasukan keamanan karena tidak berbuat lebih banyak untuk mencegah kekerasan di berbagai lokasi protes di Irak.

Delapan demonstran tewas pekan ini dalam berbagai serangan terhadap kamp-kamp protes oleh pendukung ulama populis Moqtada Sadr, termasuk di kota suci Najaf, tempat pemimpin Syiah Irak berada.

Dalam khotbah mingguan yang disampaikan seorang wakilnya, Sistani mengutuk pertempuran berdarah yang disebutnya “menyakitkan dan disayangkan” serta mengatakan pasukan keamanan “sangat diperlukan” untuk menjaga agar negara “tidak terjerumus ke dalam jurang kekacauan.”

“Tidak ada pembenaran bagi mereka untuk berhenti memenuhi tugas mereka dalam hal ini, atau bagi siapapun untuk mencegah mereka melakukan demikian,” kata Sistani.

“Mereka harus memikul tanggung jawab untuk memelihara keamanan dan stabilitas, melindungi pengunjuk rasa damai dan tempat-tempat pertemuan mereka, mengungkapkan identitas penyerang dan penyusup, dan melindungi kepentingan-kepentingan warganegara dari serangan para penyabot.”

Sebelumnya pada pekan ini, Sadr meminta para pendukungnya untuk memastikan dibukanya sekolah-sekolah, jalan-jalan serta kantor-kantor pemerintah yang telah ditutup selama demonstrasi berbulan-bulan.

Hampir 490 orang tewas dalam kekerasan terkait protes sejak Oktober lalu, sewaktu demonstrasi merebak di Baghdad dan di berbagai tempat di bagian selatan yang mayoritas penduduknya Syiah, untuk menuntut perombakan elite politik.

Pasukan keamanan menanggapi dengan gas air mata, peluru tajam dan bahkan tembakan senapan mesin, yang dikecam Sistani dalam khotbah-khotbah sebelumnya.

Pekan ini, para demonstran menyatakan mereka menghadapi ancaman baru dari para pendukung Sadr, yang awalnya mendukung protes tetapi kemudian mendukung pencalonan Mohammad Allawi sebagai perdana menteri baru Irak pada akhir pekan lalu.

Sebagian besar demonstran menolak Allawi, yang pernah dua kali menjabat sebagai menteri komunikasi, karena dianggap terlalu dekat dengan elite politik yang mereka protes selama berbulan-bulan. [uh/lt]

XS
SM
MD
LG