Tautan-tautan Akses

UEA Klaim Vaksin COVID-19 Buatan China Hampir 90 Persen Efektif


Stan perusahaan farmasi China Sinopharm dalam Pameran Internasional China untuk Perdagangan dan Jasa (CIFTIS) di Beijing, Sabtu, 5 September 2020. (Foto: dok).

Sehari setelah Inggris menjadi negara Barat pertama yang memulai imunisasi massal COVID-19, Uni Emirat Arab menyatakan vaksin buatan China telah terbukti 86 persen efektif mencegah kasus COVID moderat dan parah.

Kementerian Kesehatan Emirat mengumumkan berita itu hari Rabu (9/12) mengenai vaksin yang dikembangkan perusahaan farmasi milik pemerintah China, Sinopharm. Negara di kawasan Teluk Arab itu berpartisipasi dalam uji klinis tahap akhir yang diluncurkan Sinopharm pada September lalu yang melibatkan 31 ribu sukarelawan di 125 negara. Uni Emirat Arab juga mengabulkan permohonan penggunaan darurat vaksin Sinopharm pada September lalu.

Loho Sinopharm dalam Pameran Dagang Internasional China 2020 (CIFTIS), di tengah pandemi di Beijing, China, 5 September 2020. (Foto: dok).
Loho Sinopharm dalam Pameran Dagang Internasional China 2020 (CIFTIS), di tengah pandemi di Beijing, China, 5 September 2020. (Foto: dok).

Menurut kementerian tersebut, tidak adalah masalah keamanan yang serius terkait vaksin itu. Tetapi pernyataan itu tidak mencakup data rinci dari uji yang dilakukan, seperti berapa banyak sukarelawan yang mendapat vaksin atau plasebo, atau apakah vaksin itu menimbulkan efek samping.

Terlepas dari kealpaan tersebut, otoritas kesehatan menyatakan keberhasilan vaksin itu memuluskan jalan bagi imunisasi massal dan pembukaan kembali ekonominya. Uni Emirat Arab juga mengabulkan permohonan izin penggunaan darurat untuk vaksin Sinopharm itu pada September lalu bagi petugas layanan kesehatan yang dianggap paling berisiko tertular.

Pengumuman tersebut merupakan kabar positif terbaru mengenai upaya global mengembangkan vaksin yang aman dan efektif bagi virus corona, yang telah menewaskan 1,5 juta orang di seluruh dunia dari 68,2 juta lebih yang terjangkit.

Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) hari Selasa (8/12) mengumumkan bahwa tinjauannya terhadap vaksin yang dikembangkan bersama oleh perusahaan farmasi raksasa berbasis di AS Pfizer dan perusahaan farmasi Jerman BioNTech sangatlah efektif dalam melindungi orang-orang dari virus corona, dan tidak menimbulkan masalah keamanan bagi penerimanya. Tinjauan itu memuluskan jalan bagi FDA untuk memberikan otorisasi penggunaan darurat vaksin itu, yang akan dikeluarkan dalam beberapa hari ini.

Peninjauan FDA itu muncul beberapa jam setelah seorang penghuni panti jompo yang berusia 90 tahun menjadi orang pertama di Inggris yang menerima dosis pertama dari dua dosis vaksin buatan Pfizer/BioNTech.

Tetapi sejumlah aktivis kesehatan menyatakan 9 dari 10 orang di 70 negara berpendapatan rendah tidak akan menerima vaksin COVID-19 karena lebih dari 50 persen vaksin yang paling menjanjikan itu telah dibeli oleh negara-negara kaya.

People’s Vaccine Alliance, yang terdiri dari berbagai organisasi HAM seperti Amnesty International, Frontline AIDS dan Oxfam, mengimbau para pembuat vaksin untuk berbagi teknologi dan hak atas kekayaan intelektual mereka melalui Fasilitas Akses Global Vaksin COVID-19 atau COVAX, proyek bersama antara Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Koalisi bagi Inovasi Kesiapsiagaan Epidemi dan Gavi, The Vaccine Alliance, organisasi yang didirikan Bill dan Melinda Gates untuk mengimunisasi anak-anak di negara-negara termiskin. [uh/ab]

XS
SM
MD
LG