Tautan-tautan Akses

UE Larang Minyak Iran, Bekukan Aset Bank Sentral


Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Catherine Ashton, berharap embargo UE bisa meyakinkan Iran agar kembali ke meja perundingan (23/1).
Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Catherine Ashton, berharap embargo UE bisa meyakinkan Iran agar kembali ke meja perundingan (23/1).

Uni Eropa telah meberlakukan sanksi dengan melarang pembelian baru minyak Iran dan membekukan aset-aset bank sentral Iran.

Pemberlakukan sanksi ekonomi terbaru Uni Eropa ini dilakukan sebagai bagian dari upaya Barat menekan Iran untuk menangguhkan beberapa bagian kontroversial dalam program nuklirnya.

Para Menteri Luar Negeri Uni Eropa menyetujui serangkaian sanksi baru pada pertemuan hari Senin di Brussels. Keputusan itu mengizinkan negara-negara anggota yang masih ada kontrak pembelian minyak Iran untuk meneruskannya hingga 1 Juli. Masa tenggang tersebut dimaksudkan untuk membantu konsumen utama minyak Iran seperti Yunani, Spanyol dan Italia menemukan sumber alternatif persediaan sebelum larangan diberlakukan sepenuhnya.

Pihak Barat menuduh Iran mencoba membuat senjata nuklir dengan kedok program energi sipil, tuduhan yang dibantah Iran.

Para pemimpin Perancis, Jerman dan Inggris mendesak pemimpin Iran “untuk segera menangguhkan semua kegiatan nuklir yang sensitif” dan mengatakan mereka “tidak akan membiarkan Iran memperoleh senjata nuklir.”

Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Catherine Ashton, mengatakan embargo ditujukan untuk meyakinkan Iran agar kembali berdialog mengenai program nuklirnya.

“Saya harap Iran akan menanggapi secara positif surat yang saya kirim, dan Iran akan menanggapi secara positif pesan kami dan kembali ke meja perundingan,” ujar Ashton.

Di Washington, Menteri Luar Negeri Amerika Hillary Clinton dan Menteri Keuangan Timothy Geithner mengatakan langkah-langkah itu adalah “langkah kuat baru” dalam upaya internasional menekan Iran untuk mengekang ambisi nuklirnya.

Iran dengan sengit mencela keputusan Uni Eropa tersebut. Anggota-anggota parlemen mengulangi ancaman akan menutup Selat Hormuz, sebuah jalur penting bagi pasokan minyak global. Wakil ketua komite keamanan nasional parlemen mengatakan apabila ekspor minyak Iran terhenti “pasti” akan berakhir dengan ditutupnya selat itu.

Jurubicara Kementrian Luar Negeri, Ramin Mehmanparast, menyebut sanksi-sanksi ekonomi itu “tidak masuk akal dan tidak adil.” Ia mengatakan kebutuhan energi jangka panjang dunia berarti adalah “tidak mungkin menerapkan sanksi atas Iran” dengan sumberdaya minyak dan gasnya yang begitu besar.

XS
SM
MD
LG