Tautan-tautan Akses

Tunisia Tangkap Ratusan Demonstran dalam Protes Disertai Kekerasan


Demonstran Tunisia melakukan aksi unjuk rasa yang disertai kerusuhan di distrik Djebel Lahmer untuk memrotes kondisi ekonomi dan tingginya inflasi, Rabu (10/1).

Protes sporadis berlanjut di beberapa wilayah Tunisia Rabu (10/1) malam, sementara pasukan keamanan berusaha menghentikan kekerasan yang melanda sejumlah daerah.

Pasukan keamanan Tunisia menggunakan gas air mata untuk memadamkan kekerasan di seluruh negara itu, di tengah meluasnya demonstrasi yang dimulai minggu lalu menyusul kenaikan harga-harga bahan pokok yang diberlakukan oleh pemerintah.

Kementerian dalam negeri melaporkan bahwa beberapa ratus orang ditangkap dalam 24 jam terakhir.

Perdana Menteri Youssef Chahed, yang mengunjungi sebuah wilayah yang dilanda kekerasan, mengatakan kepada wartawan bahwa "politisi yang tidak bertanggung jawab" berusaha "menimbulkan masalah," dan memprovokasi "gelombang vandalisme:"

Chahed mengatakan mendorong kerusuhan sosial, kekerasan dan penjarahan dengan membawa orang-orang muda turun ke jalan, yang kemudian ditangkap, tidak bermanfaat bagi siapapun. Dia mengklaim itu hanya menguntungkan koruptor dan mereka yang ingin melemahkan negara. Dia mengatakan pemerintah bersama tentara dan pasukan keamanan tegas dalam melindungi negara tersebut. Beberapa pemimpin politik mendesak pemerintah agar memberlakukan peraturan darurat militer untuk menghentikan kekerasan tersebut.

Ziyad Akhdar, juru bicara kelompok politik Front Populer yang telah menjadi ujung tombak beberapa demonstrasi, menyebut ucapan perdana menteri tersebut "tidak bertanggung jawab," dan meminta "penyelidikan independen" untuk mengetahui siapa yang memprovokasi kekerasan tersebut.

Seorang pemrotes mengatakan kepada media Arab bahwa tujuan utamanya adalah memaksa pemerintah agar membatalkan keputusan untuk memberlakukan pajak pertambahan nilai dan menaikkan harga sejumlah kebutuhan pokok.

Sosiolog politik Mesir Said Sadek mengatakan kepada VOA isu-isu ekonomi yang memicu gerakan revolusi Arab 2011, yang menggulingkan Presiden Zein al Abdine Ben Ali, masih mengganggu negara tersebut.

"Masalah terbesar bagi Tunisia adalah penderitaan ekonomi. Perekonomian tidak mampu bertahan dan bangkit kembali setelah revolusi 2011 dan slogan yang sama tentang pengangguran, kemiskinan, dan korupsi tetap ada," ujar Sadek.

Namun, Sadek tidak percaya bahwa demonstrasi baru-baru ini akan memicu revolusi baru. "Kekerasan telah diperparah," katanya, "oleh beberapa politisi yang menyerukan demonstrasi pada malam hari," bukan pada siang hari seperti kebiasaan selama ini di Tunisia. [as/ii]

XS
SM
MD
LG