Tautan-tautan Akses

Tunangan Khashoggi Berharap Pengadilan Turki Ungkap Bukti Baru


Hatice Cengiz, tunangan wartawan Arab Saudi yang terbunuh, Jamal Khashoggi, dalam video yang ditayangkan saat peringatan terbunuhnya wartawan tersebut di Washington, D.C., 2 Oktober 2018. (Foto: dok).

Sebuah pengadilan Turki pada 3 Juli akan memulai persidangan terhadap 20 pejabat Arab Saudi yang didakwa atas pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi tahun 2018. Ini suatu langkah yang diharapkan oleh tunangan Khashoggi akan lebih memberi kejelasan tentang kematian dan tempat mayat jurnalis itu disembunyikan.

Para jaksa penuntut Istanbul menuduh mantan deputi kepala dinas intelijen umum Arab Saudi, Ahmed al-Asiri, dan mantan penasihat keluarga kerajaan Saud al-Qahtani mendorong “pembunuhan yang direncanakan dengan niat yang mengerikan,” sebut kantor kejaksaan pada Maret lalu.

Disebutkan bahwa 18 terdakwa lainnya melakukan pembunuhan itu dengan mencekik Khashoggi, yang semakin kritis terhadap penguasa de facto Saudi, putra mahkota Pangeran Mohammed bin Salman. Keseluruh 20 terdakwa diperkirakan akan diadili in absentia.

Serangan pada Oktober 2018 di konsulat Saudi di Istanbul mendorong kecaman yang meluas, merusak hubungan antara Ankara dan Riyadh, dan mencemari citra Pangeran bin Salman di mata internasional.

Beberapa pemerintah negara Barat, serta CIA, telah menyatakan mereka meyakini putra mahkota Saudi itu memerintahkan pembunuhan – tuduhan yang dibantah para pejabat Saudi.

Khashoggi terakhir kali terlihat memasuki konsulat untuk meminta dokumen bagi pernikahannya. Para pejabat Turki menyatakan mayatnya dipotong-potong dan dipindahkan dari gedung konsulat. Jasadnya hingga kini belum ditemukan.

“Saya berharap kasus kriminal di Turki ini menjelaskan keberadaan jasad Jamal (dan) bukti-bukti mengenai para pembunuh,” kata tunangannya, Hatice Cengiz, kepada Reuters. Cengiz menunggu di luar konsulat pada hari Khashoggi dibunuh.

Ketika ditanya apakah Arab Saudi akan bekerja sama dalam proses hukum Turki, duta besar Saudi untuk PBB mengatakan Riyadh meminta Ankara agar berbagi bukti dengan para penyelidik Saudi, tetapi tidak menerima tanggapan untuk itu. “Turki tidak bekerja sama dengan Arab Saudi,” kata Abdullah al Mouallimi kepada wartawan. [uh/ab]

XS
SM
MD
LG