Tautan-tautan Akses

Timor Leste Peringati Referendum Menuju Kemerdekaan


Warga Timor Leste memegang bendera kebangsaannya, di Dili, Timor Leste, Jumat, 30 Agustus 2019, menandai peringatan 20 tahun referendum yang yang mengakhiri 24 tahun pendudukan Indonesia dan memberikan kemerdekaan bagi negara bekas koloni Portugal tersebut. (Foto: dok).
Warga Timor Leste memegang bendera kebangsaannya, di Dili, Timor Leste, Jumat, 30 Agustus 2019, menandai peringatan 20 tahun referendum yang yang mengakhiri 24 tahun pendudukan Indonesia dan memberikan kemerdekaan bagi negara bekas koloni Portugal tersebut. (Foto: dok).

Timor Timur (Timor Leste) memperingati ulang tahun ke-20 referendum yang mengakhiri 24 tahun pendudukan Indonesia dan memberikan kemerdekaan bagi bekas koloni Portugal itu. Namun, hasil referendum itu juga memicu amukan berdarah oleh milisi pro-Jakarta yang menurut berbagai laporan menewaskan sekitar 1.500 orang dan menyebabkan sekitar setengah juta orang lagi mengungsi.

Ibu kota Timor Leste, Dili, telah dirapikan dengan gedung-gedung yang baru saja dicat, jalan-jalan yang baru diaspal dan taman yang terawat dan tertata rapi untuk menyambut kedatangan para pejabat asing yang akan menghadiri perayaan hari kemerdekaan yang akan berlangsung hingga akhir bulan September.

Namun, di balik pemandangan yang ceria itu masih tersimpan rasa marah yang telah lama terpendam.

Joao Borras, kini berusia 37 tahun, mengenang hari-hari kelabu itu. Dia mengatakan terpaksa melarikan diri ketika milisi pro-Jakarta mengamuk di ibu kota, Dili, menembak mati dua sahabatnya, dan menghancurkan rumahnya.

Dia mengatakan pembunuhan tidak hanya terjadi di tempat terbuka, tetapi juga di balik pintu tertutup oleh aparat pemerintah yang didukung oleh milisi yang mengawasi setiap gerakan warga.

Joao Borras menambahkan, “Sebenarnya ketika itu kehidupan mengerikan. Ada banyak orang yang terbunuh, tetapi tidak tampak karena aparat membawa mereka pada malam hari. Mereka mengatakan ‘mari kita pergi untuk wawancara’ – dan mereka tidak pernah kembali.”

Pasukan penjaga perdamaian PBB tiba tiga minggu setelah referendum 30 Agustus 1999 dan memulihkan ketertiban. Kemerdekaan menyusul referendum itu pada 20 Mei 2002, dan pemimpin perlawanan Xanana Gusmao terpilih sebagai presiden.

Namun, Timor Leste telah berjuang untuk mengembangkan demokrasinya dan membangun kembali ekonomi yang dihancurkan oleh konflik dan pertempuran internal yang berkelanjutan, yang menghambat kemampuannya untuk menarik investasi yang sangat dibutuhkan.

Pada tahun 2006, PBB mengirim pasukan keamanan untuk memulihkan ketertiban setelah 155.000 orang melarikan diri dari rumah mereka untuk menghindari pertikaian antar kelompok. Kemudian, pada awal 2008, Presiden Jose Ramos-Horta terluka parah dalam upaya pembunuhan.

Selain memulihkan ketertiban dan keamanan, kehadiran pasukan penjaga perdamaian membantu menopang perekonomian, tetapi sejak itu berakhir pada 2012, Produk Domestik Bruto Timor Lorosae turun hingga setengahnya, menjadi kurang dari $3 miliar. Tingkat pengangguran resmi sebesar 3,5 persen tetapi angka tersebut bahkan tidak dipercayai oleh para pemimpin negara itu sendiri.

“Pengangguran adalah masalah terus menerus,” kata Presiden Francisco Guterres dalam pidato peringatan referendum untuk kemerdekaan. “Ekonomi kita telah mengalami resesi sejak 2017, yang berdampak pada pasar kerja,” tambahnya.

Pembuat film Lyndal Barry, produser Viva Timor Lorosae, telah meliput negara itu sejak awal 1990-an dan mengatakan Dili pantas mendapat pujian karena berhasil membangun kembali sektor keamanannya dengan pasukan polisi dan militer yang efektif.

Namun, dia mengatakan sektor ekonomi perlu mendapat perhatian serius.

“Lebih banyak hal harus dilakukan, mungkin dalam pariwisata. Lebih banyak perlu dilakukan di pedesaan untuk membantu warga membangun kembali di sana dan dapat berdiri di atas kaki mereka sendiri,” kata Lyndal Barry.

Michael Maley bekerja untuk Komisi Pemilihan Australia, sebagai bagian dari tim internasional yang menyiapkan logistik untuk referendum penentuan nasib sendiri. Dia mengatakan dua perubahan besar telah terjadi di Timor Leste.

“Salah satunya adalah efek kemerdekaan dan mereka menjadi warga negara yang memerintah sendiri, memenuhi aspirasi jangka panjang mereka. Tetapi hal lain yang terjadi pada saat bersamaan adalah mereka telah terpengaruh oleh globalisasi. Orang-orang muda yang tadinya hampir sepenuhnya terisolasi dari dunia luar sekarang sangat terhubung. Setiap orang memiliki ponsel. Semua orang menggunakan Facebook dan media sosial untuk berkomunikasi,” jelasnya.

Pendapat Michael Maley tentang keadaan itu didukung oleh Joao Borras yang mengatakan kehidupan di Timor Leste 20 tahun setelah pembantaian telah meningkat secara dramatis, terlepas dari kemiskinan yang terus menghimpit, terutama di pedesaan.

“Saat ini jelas aman dan terjamin. Hal-hal terkait ekonomi memang naik turun, tetapi hidup kami sangat baik, lebih baik dan saya merasa bebas dan saya menikmati hidup saya, dan keluarga saya dan teman-teman saya. Kami bekerja dan itu menyenangkan,” kata Borras.

XS
SM
MD
LG